Tuntun Aku Jadi Makmummu

Tuntun Aku Jadi Makmummu
Bab 21


__ADS_3

Syarif membuka laci, dan dia mengambil kotak cincin yang perna dia beli untuk Emily, Syarif menyimpan cincin itu dalam sakunya, dan dia mengambil paper bag berisi satu set gamis yang dulu dia beli untuk Emily.


Ibu dan Najwa sudah siap, Najwa memilih ikut ke rumah Emily, mereka belum tahu apakah Syarif akan di terima atau sebaliknya, mereka hanya ingin bersilatur Rahmi, Syarif menghampiri ibu dan Najwa, "Kak Dayat sudah siap". Syarif mengangguk, "nak, apapun keputusannya kamu harus ikhlas ya". saran ibu, Syarif mengangguk, "doakan Dayat buk" ibu tersenyum, "doa ibu selalu yang terbaik untuk anak-anak ibuk". Najwa memeluk ibu, mereka berangkat memakai mobil mewah Arya karna mobil Arya kapasitasnya lumayan besar, Arya yang mengemudi karna keadaan Syarif belum begitu stabil. Syarif duduk di depan bersama Arya sedangkan Najwa dan ibu duduk di belakang. Arya menatap takjub pada Najwa, 'Najwa aku akan segera menghalalkan mu' batin Arya, "jangan mikir macem-macem cepat jalan". seru Syarif yang mengerti Arya memerhatikan Najwa. Arya tersentak dari lamunannya, Arya mendengus, lalu melajukan mobilnya.

__ADS_1


***


Hidangan di meja makan tertata rapi, ibu Emily menyiapkan semua itu di bantu mairah yang datang tadi malam, "apa Emily sudah siap-siap?". tanya ibu pada mairah, "mairah lihat dulu Bu". mairah melenggang pergi menuju kamar Emily. Di ruang tamu ayah dan Ale menungguh kedatangan Syarif, ayah sudah memberi tahu Ale jika yang melamar Emily adalah Syarif, "jadi Syarif belum tahu kalau hari ini acara pertunangan dengan Emily" ayah menggeleng, "belum, karna ayah belum memberi jawaban, ayah menyerahkan semua padamu Ale, kamu yang lebih mengerti tentang tata cara ta'aruf dalam Islam". ayah menepuk pundak Aleando mempercayakan pada aleando, Aleando terkesima pada ayah dia rela melakukan apapun demi kebahagiaan anaknya. meski ancaman dari keluarga Gerry jika membatalkan perjodohan antara Gerry dan emily keluarga Gerry akan memutuskan kerja sama sempat terpikir, tapi kebahagiaan anak-anak lebih penting. "insya Allah". mereka mendengar deruh mobil yang berhenti di pekarangan rumah, ayah dan Ale segera menyambut tamu mereka, terlihat Arya keluar mobil di susul Syarif, Arya membukakan pintu belakang, dan turunlah ibu juga Najwa yang nampak elegan dengan gamis yang mereka pakai, mereka berjalan berdampingan menuju rumah Emily, terlihat ayah dan Ale yang menyambut kedatangan mereka, "Assalamualaikum". Salam Syarif pada ayah dan Aleando, "waalaikum salam". jawab Aleando, Syarif mengulurkan tangan kapada ayah dan berganti pada Aleando, begitu juga Arya, ibu dan Najwa hanya menangkupkan tangan di atas dada. mereka masuk bersama dan duduk di ruang tamu. ibu Emily menyajikan minuman, dan bersalaman pada ibu dan Najwa, "ibu, tolong panggil Emily". pinta ayah, ibu menjelaskan jika Emily sudah di panggil oleh mairah.

__ADS_1


Syarif menatap takjub pada Emily, rasa rindu, dan ingin memiliki selalu bergejolak di hatinya. sampai di ruang tamu Emily di kejutkan dengan keberadaan ibu dan Najwa, lalu Emily melihat Syarif juga ada di depannya, Emily Masi bingung dengan pikirannya, "kak Emil" suara Najwa menyadarkan, "Najwa, ibuk, kalian kenapa ada disini". bingung Emily, Najwa tersenyum, "kak Emil, jangan bercanda deh". Emily Masi bingung karna dia tidak tahu kalau yang melamarnya adalah Syarif. "Beneran kak Emil gak ngerti". bisik Emily, Najwa tersenyum seraya mengajak Emily duduk, "kak Dayat mau melamarmu kak". bisik Najwa. 'Deg'. jantung Emily serasa berhenti, pikirannya pun disangkal tidak mungkin Syarif yang melamar dia mungkin terlalu memikirkan Syarif saja, "ya tuhan, mungkin aku terlalu memikirkan dia, mana mungkin dia melamarku".lirih Emily tapi Najwa Masi mendengarnya. "tidak ada yang tidak mungkin kak, lihat tu kak Dayat sudah gemetar dari tadi". bisik Najwa di telinga Emily, Emily melihat Syarif memang agak tegang. "Emil, cepat duduk dulu, kita mulai ta'aruf nya". Emily dan Najwa sontak langsung duduk bersamaan. mairah bersalaman pada ibu, mairah duduk di samping ibu. "Baiklah, sebelumnya perkenalkan saya Aleando kakak Emily, dan ini istri saya Humairah, baiklah sesuai tatanan ta'aruf kalian perkenalkan diri kalian masing-masing". Aleando menatap Emily dan Syarif bergantian. "Syarif, kamu duluan". Syarif nampak tegang, "bismillahir rahmaanirrahiim". Syarif menarik nafas dalam, "Ayo bro kamu pasti bisa, semangat!!!". bisik Arya cengengesan. Syarif menatap Arya sebal, dia memulai perkenalannya, "Namaku Moh. Syarif Hidayat, usiaku 28 tahun, saya punya usaha bengkel otomotif, mungkin Emily sudah mengenal dekat dengan Najwa dan ibuk, jika kamu ingin menanyakan lebih jelas tanyakan pada ibuk dan Najwa". Syarif mengakhiri perkenalannya, "sekarang kamu Emil, perkenalkan dirimu". 'deg' jantung Emily seakan copot. najwa memegang tangan Emily untuk menenangkan, "Namaku Emily Chan, usiaku 24 tahun, kebiasaanku ku gunakan untuk sosialita membantu orang yang perlu bantuan adalah hal terinda dalam kehidupanku. Aleando kembali melanjutkan tahan selanjutnya, "baiklah kalian sudah memperkenalkan diri kalian masing-masing, tapi kalian tahu kalian Masi berbeda keyakinan, untuk melanjutkan tahab selanjutnya, Emily apa kamu sudah yakin akan pilihanmu?". Emily mengangguk dan menegaskan, "Saya yakin, saya akan masuk Islam, dan menjadi mualaf". rasa sukur bergemah di ruangan menjadi saksi atas ketetapan Emily, meski ibu Emily sedih tapi dia menginginkan kebahagiaan emily. Emily bersimpu di pangkuan ibu dan ayahnya, "ayah, ibu izinkan Emily memilih jalan Emily ayah, ibu". lirih Emily, ibu yang dari tadi menahan air matanya tapi saat Emily bersimpu air mata itupun luruh, "ibu menginjinkan kamu nak, kamu sudah bisa menentukan jalanmu nak, ibu hanya berdoa semoga kamu bahagia nak". ibu memeluk Emily, "ayah juga nak, kamu dan kakakmu adalah anugra terindah yang Tuhan berikan untuk kami, kebahagiaanmu adalah kebahagiaan kami nak". ayah menyeka air mata Emily, "kami harap kasih sayangmu masih sama seperti Emily yang dulu nak". lirih ayah, semua yang berada di sana terenyu, dan menjadi saksi betapa besar kasih sayang orang tua pada anaknya.


Acara di lanjutkan dengan Syarif memberikan cincin yang dulu di beli untuk Emily, " Emily apa kamu bersedia menjadi makmumku?" Emily tersenyum dan mengangguk betapa bahagianya dia, "Tuntun aku jadi makmummu mas, aku harap kamu bisa sabar mengajariku dan menjadi imam dalam hidupku". lirih Emily, dia menerima cincin pemberian Syarif, Syarif juga memberikan paper bag berisi gamis, dan meminta Emily memakainya besok saat akan menjadi mualaf di pondok pesantren anak yatim dan akan di bimbing oleh ustadz Jailani untuk mengucapkan kata syahadat.

__ADS_1


__ADS_2