Tuntun Aku Jadi Makmummu

Tuntun Aku Jadi Makmummu
Bab 76


__ADS_3

Emily menghadiri pengajian rutin tiap akhir bulan yang di adakan di pondok, kebetulan umi Mariya berkenan mengisi pengajian tersebut dengan kajian-kajian yang memotivasinya menjadi seorang muslimah yang keinginannya selalu di tentang oleh keluarganya.


"Umi, apakah setelah menjadi seorang mualaf umi bahagia?". Salah satu santri bertanya pada umi Mariya saat sesi tanya jawab.


"Jujur saat baru menjadi seorang mualaf banyak sekali ujian yang umi hadapi, salah satunya adalah umi kehilangan keluarga angkat yang umi sayangi, dan sempat juga umi di pisahkan dengan anak dan suami umi, karna Allah mungkin menguji umi seberapa kuat iman umi padanya. Tapi umi selalu bersabar dan tawakal karna umi yakin Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang sabar, dan umi yakin Allah akan memberikan sebuah kenikmatan bagi orang-orang yang bertakwa dan bersabar, umi selalu bersyukur atas apa yang Allah berikan pada umi, apa kalian tahu apa buah kesabaran yang umi dapat?". Tanya umi Mariya pada para jamaah. Semua jamaah menggeleng. Umi Mariya pun menjawab


"Kedamaian dan kebahagiaan, umi sangat bersyukur karna Allah telah menyatukan keluarga umi kembali dan kini hidup umi merasa damai, suami umi juga sudah menjadi seorang mualaf, Alhamdulillah". Jelas umi Mariya.


Sesi tanya jawab pun selesai, setelah itu doa yang di pimpin oleh ustadzah Aini. Kebetulan acara ini yang hadir santri Wati dan ibu-ibu majlis ta'lim sekitar.


Sedangkan Syarif bersama dengan ustadz Jailani di rumah beliau. Mereka mengobrol bersama sampai acara selesai, ustadzah Aini dan umi Mariya singgah sejenak di rumah ustadzah Aini. Setelah itu umi Mariya pamit pulang. Syarif pamit untuk menyusul Emily di musholah. Emily selesai membantu beres-beres, dia lun di panggil Syarif untuk pulang karna sudah sore.


"Jadi kalian sudah setuju?". Tanya umi Mariya pada Syarif dan Emily saat berada di mobil. Syarif mengajak umi Mariya pulang bareng karna sekalian mereka mau mampir ke rumah umi. Syarif mengangguk.


"Syukurlah, lalu apa rencana mu?". Tanya umi Mariyah.


"Semua Syarif serahkan pada ibuk dan dokter Willi umi". Jawab Syarif.


"Sebaiknya kalian bicarakan saja dulu, gimana baiknya". Saran umi Mariya.


Syarif mengangguk. Emily hanya menyimak pembicaraan mereka berdua. Syarif memarkirkan mobil di depan mension umi Mariya. Mereka pun turun dan masuk ke dalam bersama.


"Joy di mana umi?". Tanya Syarif yang tidak melihat keberadaan Joy.


"Emm, dia itu jarang pulang kesini Rif, paling kalau gak di apartemen ya di rumah sakit". Keluh umi Mariya duduk di sofa di ruang tengah mension ya yang terhubung langsung dengan kolam renang. Emily ikut duduk bersama dengan umi Mariya, Emily kagum dengan mension umi Mariya, dekor dan tatanan sangat elegan.


"Kamu mau minum apa Amel?". Tanya umi Mariya mengagetkan lamunan Emily.


"Em, tersera umi, Amel ikut aja". Jawab Emily.


"Eh, jangan gitu Amel, kamu itu bisa berpendapat jadi kamu gak boleh ikut-ikut aja". Tukas umi Mariya. Emily pun tersenyum garing. "Air putih aja umi". Jawab Syarif menyela. Umi Mariya mengernyit.

__ADS_1


"Kenapa cuma air putih?". Umi Mariya merasa penasaran .Hening sejenak.


"Iya umi, dia semenjak habis operasi hanya minum air putih saja". Terang Syarif. Umi Mariya memanggil ART lalu menyuruh mengambilkan minum untuk Syarif dan Emily.


"Umi sebenarnya gemes sama Joy, dia itu kalau sudah cinta sama seseorang itu susah banget untuk berpaling".


"Itu namanya cinta yang tulus umi, kan lebih bagus". celetuk syarif menanggapi, umi Mariya menghela nafas berat.


"Kamu kan tau Rif, yang di cintai itu selalu berpaling darinya".


"Maksud umi Selin?". Tanya Syarif.


"Bukan hanya Selin, dia sudah bisa melupakan Selin sedikit demi sedikit, karna kedatangan wanita yang lebih baik dari Selin". tutur umi Mariya.


"Siapa umi? kok Joy gak pernah bilang sama Syarif?". Tanya Syarif antusias.


Umi Mariya nampak keceplosan. Umi pun mengerutuki dirinya yang keceplosan.


"Jadi dia tidak bilang padamu?". Syarif menggeleng. Emily hanya menjadi pendengar tanpa menimpali.


"Maafkan Syarif umi". lirih Syarif.


"Kenapa kamu minta maaf, ini semua bukan salahmu, mungkin memang wanita itu bukan jodoh Joy". Umi Mariya menenangkan. ART menyajikan camilan dan minuman di atas meja.


"Eh, ayo di makan kuenya!". seru umi Mariya. Syarif dan Emily mengangguk dan menuruti kata umi Mariya.


***


Hari ini Najwa mengajar di markas, Arya tadi mengantar sampai gang, karna dia juga ada janji dengan partner kerjanya di luar kota, Arya di suru meninjau sorum tersebut kebetulan ada renovasi di sorum tersebut, jadi Arya tidak mengantar sampai markas. Najwa berjalan menuju markas, dia menyapa para warga yang berjumpa dengannya.


Joy mengendari motor menuju markas, di pertigaan jalan Joy berpapasan dengan mobil Arya.

__ADS_1


"Itu kan mobil Arya, apa Najwa sudah masuk?". guman Joy bermonolog.


Joy terus memacu motornya sampai di gang dia melihat Najwa yang sedang berjalan sendirian.


"Neng, sendirian?". sapa bapak RT pada Najwa. Najwa mengangguk. "Iya pak". Najwa berhenti sejenak di samping pak RT.


"Biasanya kan ada Andre yang jumput neng?". tanya pak RT lagi.


"Saya lagi ingin jalan kaki pak". Jawab Najwa.


"Oh, begitu ya neng". Najwa lalu pamit melanjutkan langkahnya.


"Mari pak". Pak RT itu mengangguk.


Tiba-tiba langkah Najwa terhenti ketika ada motor yang berhenti di depannya. Najwa mengernyit melihat seseorang yang menaiki motor tersebut.


"Ayo naik!". ajak Joy membuka helm.


"Mas Joy,,". guman Najwa.


"Ayo naik cepat! anak-anak sudah menunggu mu". Tekan Joy. Najwa menghela nafas berat. Dia pun naik ke motor Joy. Untung Joy memakai motor metik, jadi Najwa tidak ribet saat menaiki motor tersebut. Joy gegas melajukan motornya menuju markas. Pak RT yang tadi melihat kepergian mereka berdua. "Katanya mau jalan kaki,,". guman pak RT lalu berjalan masuk ke rumah.


Di markas anak-anak sudah menungguh Najwa di depan kelas. melihat Najwa datang bersama Joy mereka langsung berlari mendekati Najwa.


"Kak Najwa,,". panggil anak-anak serentak. Najwa melihat ke arah mereka dengan tersenyum.


"Kalian sudah lama menungguh kakak?". Anak-anak mengangguk.


"Maafin kakak ya!". seru Najwa dengan tulus. anak-anak berhambur memeluk Najwa.


"Kakak kita kangen kakak". seru mereka. Najwa tersenyum membalas pelukan mereka.

__ADS_1


"apalagi kakak, lebih kangen sama kalian". Joy tersenyum melihat mereka.


"Sudah siang, ayo kita masuk". ajak Najwa, anak-anak mengangguk dan mereka berjalan menuju kelas untuk belajar.


__ADS_2