Tuntun Aku Jadi Makmummu

Tuntun Aku Jadi Makmummu
Bab 80


__ADS_3

Syarif dan Emily sekarang berada di dalam kamar, rumahnya sekarang terasa sepi karna mereka hanya tinggal berdua, ibu dan dokter Williams sudah pindah tadi sore.


"Kamu kenapa sayang?". Syarif bertanya pada Emily yang nampak sedih. Emily menatap mata Syarif dalam, dan berkata lirih.


"Sedih saja, sekarang kita hanya tinggal berdua mas". Syarif tersenyum simpul.


"Bukankah lebih enak, hanya berdua kita bisa_". kata Syarif mengedipkan sebelah mata menggoda Emily. Emily melihat Syarif yang lagi menggodanya melotot menatap Syarif.


"Apaan sih mas,". emily memalingkan wajahnya. Tapi Syarif terus menggoda Emily sampai-sampai Emily pun luluh.


"Sayang, Sunnah Rasul yuk!". Goda Syarif. Emily tersipu malu, dia hanya mengangguk. Syarif segera menyerang bibir mungil Emily. "Kita buat anak yang banyak ya!". ucap Syarif terkekeh. Emily hanya mengangguk pasrah apa yang akan di lakukan Syarif padanya nanti.


***


Hari berganti hari, tidak terasa satu Minggu sudah berlalu, hari ini ibu berencana akan pergi ke rumah Syarif, karna dokter Williams sudah masuk bekerja lagi, dokter Williams mengajak ibu ke rumah Syarif agar dia tidak kesepian, karna di rumah ibu biasanya meluangkan waktu untuk menjahit, atau berkebun untuk menghilangkan jenuh. Sedangkan di apartemen ibu sendirian dan pasti jenuh.


"Kamu tenang saja, Syarif sudah ku kasih tahu kalau kamu mau main ke rumah". Kata dokter Williams yang mengerti keraguan ibu. Ibu tersenyum melihat dokter Williams.


"Terima kasih mas". ucap ibu, dokter Williams mengangguk. Dan tak butuh waktu lama mereka sudah sampai di pekarangan rumah. Ibu dan dokter Williams keluar mobil, sungguh ibu sangat merindukan rumah ini, rumah yang penuh dengan kenangannya bersama anak-anaknya, susah senang mereka selalu bersama dengan penuh kasih sayang. dokter Williams mengajak ibu masuk bersama.


Tok.. Tok.. Tok..


Tidak lama pintu terbuka. menampilkan Syarif dan Emily.


"Assalamualaikum". Salam ibu dan dokter Williams.


"Waalaikum salam". Jawab Emily dan Syarif.


"Ibu, dokter, kalian sudah sampai". Kata Syarif seraya mencium punggung tangan ibu dan dokter williams bergantian.


"Kalian gak kerja?". tanya ibu. mereka masuk ke dalam bersama.


"Gak buk, Arya dan Joy yang mengurus". kata Syarif.


"Amel libur buk". jawab Emily bergantian. sedangkan dokter Williams pamit untuk pergi bekerja.

__ADS_1


"Papa titip ibuk ya nak". pamit dokter Williams pada Emily dan Syarif. mereka saling pandang, memang sebutan papa mungkin baru dan aneh bagi Syarif. Tapi dokter Williams ingin Syarif dan Najwa menganggapnya sebagai ayah begitu juga para menantunya jujur saja dokter Williams sangat menyayangi mereka seperti anaknya sendiri.


"Ibu, papa pergi dulu ya, assalamualaikum". ibu mengangguk.


"Waalaikumsalam, Hati-hati". jawab ibu.


Di bengkel, Arya dan Devan membahas sorum mereka yang membutuhkan tenaga kerja baru, karna banyaknya pelanggan yang hampir setiap hari penuh.


"Apa kita ambil anak magang saja?". saran Devan.


"Itu ide bagus, tapi anak-anak itu harus terus kita bimbing biar pelanggan puas dengan kinerja kita". papar Arya. Devan mengangguk.


"Kamu benar, tapi untuk sementara ini biar aku atau Syarif yang kesana". kata Arya.


Drrtt.. Drrtt.. Drrtt..


Ponsel Arya bergetar. Arya mengambil ponselnya di saku. Arya pamit pada Devan karna ingin menjawab telfon.


"maaf Van, aku jawab telfon dulu". Devan mengangguk Arya segera melenggang pergi untuk menepi. Di lihatnya panggilan tersebut dari Najwa.


"Assalamualaikum Honney". Salam arya pada najwa.


"ada apa kok nelfon?", tanya arya


'Kak, Nanti aku mampir ke rumah kak Dayat, kebetulan ada ibu juga disana'. tutur Najwa,


"Oh, iya gak apa-apa kok". jawab Aryan, terdengar senyum Najwa.


'Makasih banyak kak, nanti aku pulang bareng ibuk aja kak Arya gak usah jumput'.


"iya Honney, kalau gitu aku kerja dulu ya Honney".


'iya kak, assalamualaikum".


"Waalaikum salam". Arya menutup telfonnya. Dia kembali bersama Devan.

__ADS_1


Sedangkan Gerry meminta asistennya mencari seorang ustadz yang bisa menuntunnya untuk membaca syahadat. Gerry sudah yakin dengan keinginannya menjadi seorang mualaf. entah, dari manakah getaran itu, yang pasti sekarang dia sudah yakin dengan keputusannya.


"Tuan, apa anda sudah siap?". tanya sang asisten. Gerry mengangguk.


"Baiklah, sekarang kita masuk ke masjid!". titah sang asisten. sekarang mereka berada di halaman masjid. mereka berjalan menuju serambi masjid. dia ingin sebelum berangkat ke Kanada dia sudah menjadi seorang muslim. Sampai di serambi masjid 3 orang sudah menunggunya. 1 adalah ustadz yang akan membimbing Gerry membaca syahadat dan 2 diantara mereka adalah akan sebagai saksi, yang kebetulan menjadi ta'mir masjid tersebut yang akan memberikan surat keterangan mualaf.


"Selamat siang tuan, mari pak ustadz sudah menungguh di dalam!". ajak ta'mir masjid. Gerry mengangguk dan mengikuti ke dua ta'mir tersebut masuk ke dalam. di dalam ustadz Jailani sudah menungguh.


"Pak ustadz, ini adalah tuan Gerry dia yang akan menjadi mualaf". terang asisten Gerry. ustadz Jailani mengulurkan tersenyum dan bertanya apa yang membuat Gerry yakin dengan memeluk agama Islam. Gerry menjelaskan ini adalah keinginan dari hatinya sendiri dan tidak ada paksaan dari orang lain, apalagi dia akan menikah dengan seorang muslim maka tekatnya semakin kuat untuk menjadi seorang mualaf.


"Baiklah tuan, ikuti saya!". ucap ustadz Jailani.


"Bismillahirrahmaanir, Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah".


"Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah".


"Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah".


"Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah".


"Alhamdulillah, sekarang anda sudah sah menjadi seorang muslim tuan". terang ustadz Jailani pada Gerry.


"Alhamdulillah". ucap syukur dari 2 saksi tersebut dan ikuti asisten Gerry. Ustadz Jailani membaca doa, setelah acara selesai, Gerry minta pendapat pada ustadz Jailani jika dia ingin menikah.


"Ustadz, apa boleh dalam Islam jika kita menikahi wanita yang sedang mengandung?". tanya Gerry.


"bila yang menikahi wanita hamil itu adalah laki-laki yang menghamilinya, hukumnya boleh. Sedangkan kalau yang menikahinya itu bukan laki-laki yang menghamilinya, maka laki-laki itu tidak boleh menggaulinya hingga melahirkan". Papar ustadz Jailani.


"Terima kasih banyak ustadz atas wejangannya.


"Ustadz, besok rencananya aku mau ke Kanada dan disana keluargaku non muslim, sedangkan wanita yang akan ku nikahi juga minim akan pengetahuan tentang Islam, apakah boleh saya minta bantuan ustadz untuk membimbing saya?". tanya Gerry ragu. ustadz Jailani tersenyum lalu dia mengambil 2 buku di dalam tasnya.


"ini, anda bisa gunakan sebagai pedoman, di dalam buku ini ada tata cara berwudhu dan sholat, lengkap dengan doanya, serta di lengkapi doa yaumiyah. anda tenang saja ada jika anda ingin belajar membaca Al Qur'an, anda bisa pakai buku yang ini". ustadz Jailani memberikan 2 buku pada Gerry. Gerry menerima buku tersebut.


"terima kasih banyak pak ustadz". Ustadz Jailani mengangguk.

__ADS_1


"Semoga Istiqomah tuan".


"Amin".


__ADS_2