
"Alhamdulillah nak, ibuk bersyukur sekali karna kamu sudah di beri kepercayaan sama Allah".kata ibu memeluk Najwa.
Hari ini Najwa Hari libur, jadi Arya dan Najwa main ke rumah ibu, sekalian memberi tahu tentang kehamilannya.
"Iya buk, Najwa juga bersyukur buk, Najwa gak nyangkah saja bisa hamil kembar". tutur bahagia Najwa.
"Jadi kamu hamil kembar?". mata ibu berbinar. Najwa mengangguk.
"Alhamdulillah".
"ibuk, apa ibuk bahagia?". tanya Najwa melihat senyum di wajah ibu. ibu mengangguk.
"Ibu sangat bahagia nduk,". tutur ibu pada Najwa.
"Najwa senang buk, bisa melihat ibuk bahagia".
Sebuah mobil sport bewarna biru berhenti di depan rumah. Joy dan dokter Williams turun dari mobil, sebenarnya dokter Williams ingin bertemu dengan Syarif di cafe atau restoran. Tapi Syarif bilang di rumah saja kebetulan hari ini hari libur sekalian main ke rumah. Joy melihat ada mobil Arya juga parkir di bagasi sebelah mobil Syarif.
"Om, sepertinya ada Arya dan Najwa juga". kata Joy pada dokter Williams.
"Ya, kebetulan mereka sedang kumpul, itu lebih baik, aku akan katakan pada Syarif dan Najwa jika aku ingin menkhitbah ibunya". Mereka melangkah menuju teras dan mengetuk pintu.
"Assalamualaikum". salam dokter Williams.
Ceklek..
"waalaikum salam". jawab ibu membuka pintu.
"apa kabar buk?". tanya Joy pada ibu.
"baik nak Joy. ayo masuk!". ajak ibu. Joy dan dokter Williams ikut masuk.
"Syarif ada buk?". tanya Joy basa-basi.
"Oh, ada, sebentar ibuk panggilkan". ibu beranjak memanggil Syarif di kamar. Di ruang tengah Najwa dan Arya sedang menonton TV.
"Ibuk, siapa yang datang?". tanya Najwa.
"Mas Williams dan Joy. katanya mau ketemu Syarif". jawab ibu, kembali melangkah menuju kamar Syarif. Sedangkan Najwa akan mengambilkan minuman dan camilan untuk Joy dan dokter Williams.
"Kak, Najwa ambilkan minum untuk mas Joy dan dokter Williams dulu ya". pamit Najwa pada Arya, Arya mengangguk dia pun ikut beranjak dari duduknya.
"ya kalau begitu mas temui mereka". kata Arya sambil berjalan menuju ruang tamu. Sedangkan Najwa pergi ke dapur untuk menjamu Joy dan dokter Williams.
"Mas, nanti siang ada pengajian di pondok, ustadzah Aini bilang kalau gak sibuk kita di suruh datang". papar Emily saat di kamar.
__ADS_1
"Kebetulan sayang, hari ini mas ada janji sama dokter Williams". Syarif yang tadinya fokus sama ponselnya sekarang pinda ke ranjang duduk bersama Emily.
"Kamu janjian sama dokter Williams dimana mas?". tanya Emily menatap Syarif.
"Katanya dia mau kesini". jawab Syarif mendekat pada Emily.
"Kalau begitu aku berangkat sendiri aja gak apa-apa kok mas". papar Emily.
Tok.. Tok.. Tok..
"Aku buka dulu mas". Emily beranjak membuka pintu.
"Ibuk, ada apa?". tanya Emily.
"Dayat, di tungguh Joy dan dokter Williams di luar". jawab ibu.
"Oh, i ya buk, sebentar saya panggilin".
"Ya sudah, kalau gitu ibuk ke belakang dulu, mau jemur pakaian". Emily mengangguk.
Ibu beranjak berjalan menuju kebun belakang rumah untuk menjemur pakaian.
"Mas, dokter Williams dan Joy sudah datang, mereka menungguh di depan". papar Emily.
Di ruang tamu Joy, dokter Williams dan Arya duduk bersama di sofa. Syarif berjalan menghampiri mereka.
"selamat pagi semua". sapa Syarif, kemudian menyalami dokter Williams. Bertepatan Najwa membawa nampan berisi minuman dan camilan.
"Dokter ada apa?". tanya Syarif mendaratkan bokongnya di sofa. sedangkan Najwa menyajikan minuman dan camilan di meja.
"Kebetulan, kalian berkumpul di sini, Syarif, Najwa aku mau bicara sama kalian". tatapan dokter Williams menatap Syarif dan berganti pada Najwa.
Najwa terdiam, hal apa yang ingin disampaikan dokter Williams sepertinya serius.
"Najwa, duduklah!". pinta Syarif. Najwa pun mengangguk dan duduk di samping Arya.
"Jujur mungkin ini kedengarannya aneh, tapi aku ingin kalian tahu bahwa kedatanganku kesini karna aku ingin mengkhitbah ibu kalian".
"UHUK-UHUK". Arya yang sedang minum seketika tersedak. Najwa menepuk pundak Arya.
"Kakak gak kenapa -napa?". tanya Najwa khawatir. Arya menggeleng. Joy melihat Arya dan Najwa seketika hatinya sesak.
"Dokter serius?". tanya Syarif kemudian. Dokter Williams.
"Aku bilang sama ibuk mu jika aku akan melamar dia pada kalian". papar dokter Williams.
__ADS_1
"Dokter, kita sebagai anak hanya ingin ibuk bahagia, semuanya kita serahkan pada ibu". tutur Syarif.
"Najwa, kamu panggil ibuk dulu!".Seru Syarif. Najwa mengangguk dan beranjak memanggil ibu di kebun belakang.
Sedangkan ibu mulai menjemur pakaian, satu persatu pakaian sudah selesai ibu jemur. "Buk, di panggil kak Dayat". seru Najwa.
"Ada apa nduk?". tanya ibu mendekati Najwa.
"Ada yang mau di bicarakan buk". timpal Najwa. ibu mengangguk, dan masuk ke dalam menemui Syarif. Najwa mengekor pada ibu, sempat dia hendak bertanya pada ibunya tentang perasaan ibu pada dokter Williams, tapi Najwa ragu jadi di urungkan niatnya.
Di ruang tamu suasananya hening, tidak ada yang berkata sampai kedatangan ibu.
"Ada apa?". kata ibu.
"Buk, duduklah!". pinta Syarif, ibu pun duduk di sebelah Syarif.
"Om, Joy ke belakang dulu". pamit Joy. Joy sengaja pergi karna ingin memberi ruang untuk mereka berbicara. Williams menatap ibu, dan berganti pada Syarif.
"Ibuk, dokter Williams mau menkhitbah ibuk". ibu menatap dokter Williams.
"Bagaimana buk?". tanya Syarif lagi. ibu menghela nafas panjang.
"Tapi ibuk sudah tua nak". jawab ibu.
"Ibuk, ini bukan soal tua atau mudah apa ibu mau menerima dokter Williams atau tidak?" Syarif menatap ibu, mencari tentang perasaan ibu. ibu menunduk lama.
"Apakah kalian menginjinkan seumpama ibuk menikah lagi?". tanya ibu melihat Syarif dan berganti pada Najwa. Najwa terdiam, dia tidak tahu harus berkata apa.
"Ku lihat ketulusan dalam diri dokter Williams Buk, dan itu juga ku lihat dalam diri ibuk".
"Tapi apakah kalian tidak malu jika ibuk yang sudah tua ini menikah lagi?". lirih ibu.
"buk, kebahagiaan ibuk lah yang utama bagi kami, kami sudah dewasa buk, sekarang waktunya ibuk untuk bahagia". terang Syarif. ibu menatap Syarif dalam, tanpa terasa air mata ibu luruh.
"Dayat tahu buk, ibuk mencintai dokter Williams, kalian saling mencintai, bapak juga pasti bahagia buk melihat ibuk bahagia". tutur Syarif lembut, ibu dan dokter Williams terdiam. begitupun dengan Najwa. Arya menggenggam tangan Najwa mengisyaratkan untuk mendekati ibu. Najwa memeluk ibu.
"Buk, menikah lah dengan dokter Williams, Najwa akan sangat bahagia Karna ibuk ada yang jaga dan menemani hari hari tua ibuk, biar cucu ibuk punya kakek yang kebule-bulean". lirih Najwa tersenyum. ibu tersenyum mendengar gurauan Najwa.
"Apaan sih kamu nduk". ibu tersipu malu.
"Jadi bagaimana?". tanya dokter Williams pada ibu. ibu mengangguk malu.
"Bismillah mas, aku bersedia". kata ibu.
"Alhamdulillah...".
__ADS_1