Tuntun Aku Jadi Makmummu

Tuntun Aku Jadi Makmummu
Bab 17


__ADS_3

Di rumah sakit Syarif Masi terbaring, di sebelahnya ada ibu yang sedang melantunkan ayat suci, ibu melirik Syarif yang gunda, Syarif memikirkan Emily. dia teringat jika Emily mengatakan di lamar oleh seseorang, musnahkah harapan Syarif. Syarif hanya pasra pada tuhan akan seperti apa kisah cintanya.


"nak, apa kamu menginginkan sesuatu?," tanya ibu membelai kepala Syarif. Syarif menggeleng, "Najwa dimana buk?". alih Syarif melihat Najwa tidak ada. "Najwa pergi beli sarapan". jawab ibu tersenyum.


Ceklek...

__ADS_1


Pintu terbuka ibu dan Syarif memerhatikan orang yang masuk, di kiranya Najwa. "Assalamualaikum...". terlihat seorang wanita paruh baya duduk di kursi roda masuk di belakangnya ada Joy yang mendorong. "Waalaikum salam" jawab Syarif dan ibu bersamaan. joy mendorong Mariya mendekat pada Syarif, tatapan Mariya tidak lepas dari ibu, ibu juga merasa di tatap orang yang menurutnya tidak asing, "Rif, gimana keadaanmu?". tanya Joy menuju brangkar Syarif. tatapan Syarif tertuju pada wanita bercadar, "Dia mommy". Syarif tidak menyangkah Joy menemukan ibunya, hampir 5 tahun Joy mencari ibunya bersama Syarif setelah lulus kuliah. tapi informasi yang di dapat selalu nihil. "syukurlah". lirih Syarif tersenyum. "Nak Syarif, maafkan Tante".kata Mariya terjedah dan menatap ibu, "Aisyah, maafkan aku, karna aku Syarif jadi begini". ungkap Mariya menitikan air mata, ibu dan Syarif nampak bingung, karna wainita itu tahu namanya. Mariya membuka cadar di depan Aisyah, ibu tercengang melihat wajah di balik cadar itu. "Aisyah". lirih Mariya, "Mariya, ini kamu Mariya Pauline?" tanya ibu memastikan. Mariya mengangguk. "dulu namaku Mariya Pauline, tapi sekarang Mariya Zahrah". jelas Mariya, ibu berhambur memeluk Mariya. "Alhamdulillah, Mariya aku merindukanmu". "Aku lebih merindukanmu Aisyah Maisyaroh". Joy dan Syarif hanya memperhatikan ibu mereka yang melepas rindu, Aisyah dan Mariya mereka seumuran sedangkan Fatimah Masi lebih mudah 5 tahun, mereka di besarkan di panti asuhan, mereka berpisah saat Mariya di adopsi oleh keluarga kolongmerat, tapi Mariya dan Aisyah Masi satu sekolah di bangku SMA, Aisyah dan Wiliams dulu saling menyukai tapi setelah lulus Mariya dan Wiliams melanjutkan kuliah ke Negri paman Sam, sedangkan Aisyah yang masi di panti melanjutkan sekolah Akper di salah satu kampus negri ternama dia mendapat beasiswa, lulus kuliah Aisyah pindah ke pondok, karna panti asuhan yang dia tempati harus di tutup karna kekurangan donatur, dan ibu panti yang mengasuh meninggal, jadi anak-anak panti ada yang di pindah ke panti asuhan lain, sedangkan Aisyah memilih ke pondok bersama Fatimah, Aisyah bekerja untuk membiayai Fatimah agar bisa melanjutkan sekolah dia juga mengajar di pondok setelah pulang kerja, Mariya semenjak SMA dia ingin menjadi mualaf tapi orang tua angkatnya tidak setuju, dia selalu bercerita pada Wiliams untuk keinginannya itu, dia di jodohkan dengan Alfredo, semenjak menikah dengan Alfredo Mariya mengutarakan niatnya, beruntung Alfredo menginjinkan Mariya ke Mesir dan dia menjadi mualaf di Mesir.


"Maafkan aku, karna aku anakmu jadi begini Aisyah". lirih Mariya, "ini bukan salahmu riya, ini semua kuasa Allah, dan Allah mempertemukan kita lewat semua ini, semua ini sudah ketentuannya riya, kamu jangan merasa bersalah". ibu menyeka air mata Mariya. Mariya terharu kebiasaan mereka dari dulu jika Mariya menangis Aisyah akan menyeka air matanya kemudian mereka tertawa bersama, "Tuhan itu adil, dulu kita bersahabat dan sekarang anak kita yang bersahabat". kata Mariya melihat ke arah Joy dan Syarif. ibu mengangguk seraya tersenyum membenarkan. "kamu tahu, saat Dayat sakit, Joy selalu menjagaku dan Najwa, dia selalu ada di samping kami, bahkan semua kebutuhanku dan Najwa di penuhi oleh Joy, dia rela ruang pribadinya untuk istirahatku dan Najwa. bahkan dia jarang tidur". Syarif menatap Joy, "terimah kasih". ungkap Syarif pada Joy. "dimana Najwa Bu?" tanya Joy khawatir melihat tidak ada Najwa. "Najwa pamit pergi beli sarapan". jawab ibu, "Najwa pergi sama siapa Bu? kenapa tidak bilang Joy?". Joy terlihat khawatir, "kata najwa sungkan repotin kamu terus". Joy pamit untuk menyusul Najwa. "Mom disini dulu ya, Jo cari Najwa dulu". Mariya mengangguk, ketika Joy ingin membuka pintu pintu sudah terbuka dulu dan muncul Najwa di balik pintu. "assalamualaikum". salam najwa masuk kedalam, "waalaikum salam" jawab serentak ibu, Mariya dan Syarif. "Najwa seharusnya kamu bilang sama mas, mas akan menyuruh antarin kesini, jadi kamu gak perlu repot-repot beli sendiri". tegas Joy. Syarif merasa heran karna sikap Joy terasa berlebihan. " najwa tidak pergi sendiri, Najwa pergi sama kak Arya mas, maafin Najwa harusnya Najwa bilang". Arya masuk ke dalam dia merasa aneh dengan Joy meskipun dia tahu kalau Joy disuru menjaga Najwa. "najwa pergi bersamaku Joy, kamu tidak perlu khawatir". Joy sadar dirinya terlalu berlebihan. dia pun kembali disamping mommynya. "Mom, kita kembali sekarang, mommy harus istirahat sebelum polisi datang". Mariya mengangguk Joy berpamitan dan membawa Mariya kembali ke kamar VVIP di sebelah kamar Syarif.


Emily bersiap-siap dia memunguti bajunya ke koper, keputusannya untuk ke Bandung sudah bulat, dia ingin mencari jatih dirinya.

__ADS_1


"Emil, apa ibu boleh masuk?".suara ibu dari balik pintu. "masuk Bu, pintu tidak di kunci". ibupun masuk ke dalam. melihat Emily termenung, ibu menghampiri, "nak, apa kamu yakin keputusanmu ini?". tanya ibu lembut. Emily mengangguk. "ibu dukung apapun itu jika ini yang kamu inginkan ibu ikhlas nak, ibu sadar kamu sudah besar dan kamu pasti bisa melakukan yang terbaik". lirih ibu memeluk Emily, "Abangmu sudah bilang pada ayah dan ibu, keputusanmu sudah benar nak, belajarlah pada umi Khodijah dia pasti bisa membimbingmu disana dengan baik". lanjut ibu, "doakan Emily Bu". ibu tersenyum dan mencium kepala Emily, "tanpa kamu suruh doa kami untukmu nak". Emily terisak "terimakasih".


Arya mondar mandir di ruangan Syarif, Syarif lama-lama jengkel. "bisa diam gak?". ketus Syarif. Arya menatap Syarif penuh tandah tanya, "apakah Joy suka pada Najwa?". Syarif tidak menggubris perkataanya."aku harus bilang pada Joy kalau aku dan Najwa dijodohkan". yakin akan perkataannya. "mangkanya cepat lamar Najwa". celetuk Syarif. Arya melirik Syarif, "kamu yang harus cepat-cepat nikah Syarif, baru aku dan Najwa menikah". timpal Arya. Syarif teringat pada Emily, "Emily di lamar orang".lirih Syarif. Arya mendekat pada Syarif. "kamu yakin?" Syarif mengangguk. Arya kecewa. mereka terdiam satu sama lain


***

__ADS_1


Emily sudah siap dia membuka jok mobil dan meletakkan kopernya ke dalam. mairah dan Ale berpamitan pada ayah dan ibu. Emily mengirim pesan pada Najwa dia hanya bilang akan ke Bandung. Emily di ajak Ale untuk segera masuk mobil Emily menungguh Pesan balasan dari Najwa. pesannya sudah di baca tapi tidak di balas. Emy masuk mobil dan Ale melajukan mobilnya.


__ADS_2