
Ceklek...
Pintu terbuka menampakkan seorang wanita yang anggun masuk ke ruang tersebut. wanita itu berjalan menuju meja dan bergabung dengan 2 lelaki dan 1 asistennya yang sedang menunggunya.
"nona silahkan!". sang asisten menyeret kursi dan mempersilahkan duduk wanita itu. wanita itu mengangguk lalu duduk di sebelah sang asisten.
"Maaf sudah menungguh". tutur wanita itu. 2 lelaki yang merupakan partner kerjanya mengangguk.
"Baiklah apa yang ingin anda sampaikan nona jenny?". tanya salah satu partnernya. Jenny tersenyum lalu berkata tujuannya.
"Begini mas Syarif dan mas Arya". jenny menatap Syarif dan Arya bergantian.
"Sementara waktu ini saya akan pergi ke Kanada, karna ada bisnis yang harus ku urus disana, dan untuk kerja sama kita saya akan serahkan pada asisten saya. Mengenai kerja sama dengan investor luar negri itu anda tenang saja asisten saya yang akan menangani". papar jenny. Syarif tersenyum dalam hati. Dia tahu jika itu hanya akal-akalan jenny.
"Syukurlah". kata Arya merasa lega, karna Syarif bilang jika mereka akan pergi menemui investor itu ke luar negri. Arya tidak tega meninggalkan Najwa sendiri apalagi saat ini Najwa sedang mengandung buah hatinya, jika dia pergi bagaimana dengan Najwa. tapi saat ini jenny bilang jika kerja samanya akan di urus oleh asistennya, Arya merasa senang dia tidak jadi meninggalkan Najwa sendiri. Syarif melirik Arya. begitu juga dengan jenny dan asistennya.
"Maksud saya, saya sangat berterimah kasih karna anda bersedia menangani kerja sama tersebut". kata Arya mengarah pada asisten jenny. asisten itu tersenyum ramah pada Arya.
Tok.. Tok.. Tok..
Pintu di ketuk oleh OB.
"masuk!". Titah jenny, pintu terbuka OB itu masuk dan menyajikan minuman untuk mereka.
"Maaf nona, tuan, saya mau menyajikan minuman. Asisten itu mengangguk. Jenny melanjutkan membahas tentang bengkel yang ada di luar kota.
__ADS_1
"Anda tenang saja nona, semua file sudah saya kirim ke @-mail anda, dan anda cek rekening anda, nanti anda akan tahu sendiri, kami sangat menghargai kerja sama kita, dan kami juga amanah dalam bekerja sama". kata Syarif tegas. setelah itu Syarif meminum air putih yang di sajikan untuknya.
"Baik". lirih jenny. Syarif lalu berpamitan pulang.
Joy memarkirkan mobilnya di depan rumah ibu. Dia bergegas turun dan menemui mommynya di dalam. Saat Joy masuk Joy terpanah pada Najwa yang sedang menata bunga di vas, Najwa tampak sangat bahagia dan sesekali mencium bunga-bunga yang ditatanya. sesekali Najwa nampak mengelus perutnya dengan senyum yang merekah.
"Jo, kamu sudah datang?". Joy tersadar dari lamunannya karna mendengar pertanyaan umi Mariya. Joy dan Najwa saling bertatap mata mereka beradu, Joy buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah umi Mariya yang berjalan dari dapur mendekatinya.
"Barusan mom". Jawab Joy merangkul ibunya. Umi Mariya sebenarnya tahu perasaan Joy, tapi mereka saling memahami. Najwa tersenyum menyapa Joy.
"Mas, mau minum apa, biar Najwa buatin?". tawar Najwa.
"Gak usah repot-repot Najwa, biar umi saja yang ambilin Jo minum, kamu kan lagi hamil sayang". Sela umi Mariya.
Jantung Joy terasa terhantam batu besar, mendengar seorang yang sangat dia sayangi mengandung, memang bukan haknya untuk sakit hati, tapi rasa seolah itu mencubit di hatinya. Umi Mariya melangkah ke dapur, meninggalkan Joy dan Najwa.
"Em, silahkan mas duduk dulu". seru Najwa sungkan. Begitu pula dengan Joy, dia mencoba menetralkan perasaannya. Joy hanya membalas dengan anggukan. Najwa kembali menata sisa bunga yang masih berserakan. Joy berjalan menuju sofa lalu duduk, Najwa merangkai bunga dan di taru di vas meja di depan Joy. Sesekali tersenyum, Joy mengagumi senyum itu, Najwa bak seorang Dewi, yang setiap saat bisa menghipnotisnya, Dewi yang setiap saat bisa menaklukannya. Sadar dengan perasaan yang salah Joy mengalihkan pandangannya dari Najwa, dia mengarahkan pandangan pada umi Mariya yang membawa nampan berisi minuman dan camilan. "Jo, ini kamu harus coba kue ini enak, kebetulan mommy dan ibu membuatnya!". Mata umi Mariya berbinar mengatakan itu, seolah dia sangat bangga pada dirinya. Joy mengambil kue yang umi Mariya berikan dan memasukan ke mulut. Joy seolah merasakan rasa kue itu enak, dia mengangguk dan mengacungkan jempol untuk umi Mariya. umi Mariya nampak begitu senang mendapat acungan yang Joy berikan. Padahal kue itu tidak terasa karna hati dan perasaan Joy yang masih tidak menentu.
Arya dan syarif turun dari mobil, mereka masuk ke dalam. seraya mengucapkan salam. Najwa buru-buru menghampiri suaminya untuk menyambutnya, Joy membayangkan jika itu dirinya yang datang di sambut seorang Dewi yang mencuri hatinya dan mencium punggung tangannya dengan takzim, ulasan senyum yang tulus mencairkan kepeningan yang baru melanda serta pelukan hangat yang mendinginkan jiwa yang membara.
"Kau sudah lama?". Pertanyaan Syarif membuyarkan khayalan Joy. ditatapnya Syarif yang berangsur duduk di sampingnya.
"Barusan". jawabnya. Nampak Emily berjalan menghampiri suaminya.
"Mas, Abang Ale dan mbak Maira sudah sampai di rumah ayah". terang Emily seraya mencium punggung tangan Syarif.
__ADS_1
"Alhamdulillah, kamu menelfonnya?". tanya Syarif. Emily menggeleng.
"Mbak maira yang menghubungi aku mas". Syarif mengangguk. Emily mengambil tas kerja Syarif lalu membawanya masuk ke kamar. Syarif kembali berbicara pada Joy.
"Mungkin Minggu ini aku gak bisa ke kantor". Joy hanya mengangguk.
"Kamu tenang saja, aku akan urus semua". Syarif melihat Joy, dia mengernyit, sepertinya ada sesuatu pada diri Joy, tapi Syarif enggan bertanya.
umi Mariya berpamitan pada ibu untuk pulang. "Syarif, kita pulang dulu ya". ucap umi Mariya yang berjalan bersama ibu menghampiri Joy dan Syarif. Joy bergegas bangun dan melangkah keluar bersama umi Mariya, saat di ruang tamu mereka melihat Arya dan Najwa sedang bercanda.
"Umi", lirih Najwa menghampiri umi Mariya dan Joy. Arya pun menyusul.
"kita pulang dulu, besok kita kesini pagi-pagi". tutur umi.
"Kenapa gak nginep aja umi?". tanya Najwa lirih. Umi Mariya membelai Najwa.
"Lha kalau umi nginep gimana dengan om, nanti om pulang". jelas umi Mariya, hari ini Alfredo akan datang karna dia akan menghadiri acara pernikahan ibu dan dokter Williams. Najwa mengangguk mengerti.
"Hati-hati umi". Najwa memeluk umi Mariya.
"Ingat, kamu harus jaga kesehatanmu, jangan capek-capek". saran umi Mariya menatap Najwa dan Arya bergantian. Arya mengangguk. "umi pulang dulu, assalamualaikum". pamit umi Mariya. Arya menjabat tangan Joy. umi Mariya dan Joy bergegas pergi dari rumah ibu.
Di mobil Joy masih terdiam. umi Mariya mengerti tentang perasaan Joy.
"Kamu katanya mau bilang sesuatu pada mommy, apa?". umi Mariya mencoba mencairkan suasana.
__ADS_1