Tuntun Aku Jadi Makmummu

Tuntun Aku Jadi Makmummu
Bab 47


__ADS_3

Syarif di membuka beberapa file, di lihatnya kerja sama Arya dengan sorum mobil milik Devan sudah berjalan hampir 5 bulan, tiap bulan Arya mengirim montir pilihan untuk sorum tersebut, jujur saja semenjak Joy pergi ke Amerika pekerjaannya dengan Joy Syarif yang mengambil alih urusan pabrik-pabrik kecil dan perkebunan juga usaha baru yang mereka berdua rintis sebuah konfeksi, yang dimana pekerjanya adalah ibu dari anak-anak jalanan. sehingga urusan bengkel Arya yang mengurus. Kebetulan Arya cuti Syarif yang menggantikannya selama seminggu ini. Syarif mengernyit melihat laporan ke uangan, di cek satu persatu ternyata pengeluaran begitu banyak, padahal bengkel rame, pelanggan juga banyak, kenapa pendapatan yang masuk tidak seimbang. Syarif terus meneliti, ternyata ke uangan di percayakan kepada Gerry. Syarif menghubungi Abi dari ponselnya, "Abi, kamu ke ruang kerjaku sekarang!". Syarif langsung mematikan ponselnya tanpa menungguh Abi berbicara, tidak lama kemudian Abi masuk menemui Syarif, "ada apa bang?", Syarif menatap Abi tegas. "apa kamu tahu siapa Gerry?", Abi mengingat sejenak, "Gerry itu orang yang menjadi investor bengkel ini bang", ada yang aneh, "bukankah investor dulu adalah Tante Henny?", tanya Syarif menatap Abi, "kata bang Arya Gerry itu bos dari Tante Henny, mereka bekerja sama dan akhirnya keuangan di percayakan pada Gerry bang, karna bang Arya fokus dengan kerja samanya dengan sorum mobil milik mas Devan", terang Abi, "bodoh", guman Syarif kesal, "bang, sepertinya Gerry itu ingin memanfaatkan keluguhan bang Arya", lirih Abi hampir tidak bisa terdengar, tapi Syarif masi mendengar, "terus gaji karyawan apa di berikan tepat waktu?", tanya Syarif tegas. Abi mengangguk, "kalian dapat uang bonus?", Abi menggeleng, "kita tidak perna dapat bonus karna kita tidak perna lembur bang, hanya saja jika aku di suru gantiin bang Arya maka bang Arya yang memberiku bonus", jelas Abi, Syarif menghela nafas panjang. "Kamu bisa kembali", seru Syarif, dari penjelasan Abi, Syarif sedikit mengerti, untungnya gaji karyawannya Masih di bayar tepat waktu. Syarif sadar diri dia juga tidak bisa menyalakan Arya, karna Syarif sendiri lebih fokus pada usahanya dengan Joy, tapi dia juga tidak mau jika ada seseorang yang menghancurkan bengkel yang alm. bapaknya dirikan. "okey, aku akan mencari tahu tentang Gerry".

__ADS_1


Emily bergegas pulang seusai mengajar anak-anak mengaji di pondok. Emily selama 2 tahun ini dia mempelajari agama dengan sungguh-sungguh, beberapa buku tentang Islam dia beli, sampai-sampai koleksi bukunya seperti perpustakaan, Syarif pun membuatkan ruang khusus untuk buku-buku milik Emily, ruangan itu seperti perpustakaan yang di desain dengan baik, ruangan itu terhubung langsung dengan kamarnya. Emily hendak memasuki mobil, biasanya dia mengajar bareng sama Najwa, tapi Najwa untuk sementara waktu libur, mulai hari ini dia berangkat sendiri karna Najwa sudah menikah dan menetap di rumah Arya. Langkah Emily terhenti ketika ada seseorang yang memanggilnya. "kak Amel", Emily melihat ke sumber arah, di tatapnya gadis manis yang memanggilnya dengan senyuman, "ada apa Bilqis?", Bilqis memberikan undangan dari ustadzah Aini untuk Emily, "ini dari ustadzah Aini kak, besok kakak di ajak menghadiri tablig Akbar di pesantren Nurul Hidayah kak", Emily menerima undangan tersebut, "makasih ya", Bilqis tersenyum, "oke, sekarang bilqis balik dulu ya kak, assalamualaikum", Emily mengangguk, "waalaikum salam". undangan itu dimasukkan ke dalam tas, dia pun kembali dan masuk ke dalam mobil. Di kejahuan tanpa di sadari ada sepasang mata yang menatapnya.

__ADS_1


Emily melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia ingin berkunjung ke rumah orang tuanya, dia meraih ponselnya untuk menghubungi Syarif di tekannya no. 1 yang langsung terhubung dengan Syarif, "assalamualaikum sayang", terdengar suara Syarif, "waalaikum salam mas", diam sejenak, "ada apa sayang?", tanya Syarif di sebrang, "Mas, apa aku boleh berkunjung ke rumah ibu?", lirih Emily, "boleh sayang, kapan?", tanya Syarif, "Kalau mas hari ini kayaknya gak bisa sayang, maaf ya!", lanjut Syarif, "Mas aku berangkat sendiri kok, kebetulan tadi jam ngajarnya cepat jadi aku sudah pulang, apa boleh aku mampir ke ibu, sebentar aja kok mas", mohon Emily, "ya Uda, tapi jangan pulang terlalu sore", Emily tersenyum senang, "makasih banyak mas, i love you mas,", Syarif terkekeh mendengar kata Emily, "i love you too mahabbah", Emily tersipu malu, Syarif selalu membuatnya senang dengan kata-kata indah yang dia beri, Hening sejenak, "Mas sudah dulu ya aku tutup telfonnya, maaf sudah ganggu waktu mas", "tidak apa-apa sayang", emily pun memberi salam pada Syarif, "assalamualaikum", lama terdengar jawaban syarif, "waalaikum salam". Emily menutup ponselnya dia mengarahkan mobilnya menuju rumah ibunya. Di belakang Masi ada seseorang yang mengikutinya dalam kejahuan. Emily memasuki kompleks perumahan dia memarkirkan mobilnya di depan rumah ibunya, bergegas dia turun dari mobil dan masuk ke rumah ibunya.

__ADS_1


Ceklek...

__ADS_1


"Ibu", Emily berhambur memeluk ibunya, "kenapa gak kasih tahu ibu kalau mau kesini?", ibu melerai pelukan Emily, "Tadi aku dari pondok Bu, terus mampir kesini", "mana nak Syarif?", tanya ibu celingukan, "aku sendirian kok Bu", "ya sudah kita masuk, ayahmu pasti senang". ajak ibu Emily pun antusias. Di taman belakang ayah duduk sambil meminum kopi, "ayah", panggil Emily, ayah menengok ke belakang ada Emily yang tersenyum pada nya, "nak, kapan datang?", tanya ayah lembut memeluk Emily, sudah lama dia tidak pernah memeluk Emily semenjak Emily menikah baru kali ini ayah memeluk Emily dengan penuh sayang, "mana suamimu nak?", tanya ayah lembut, "dia kesini sendiri", ibu yang menjawab, ayah menatap Emily, "apa terjadi sesuatu?", tanya ayah cemas, Emily menggeleng, "aku tadi sudah izin mas Syarif ayah, mas Syarif masih kerja, tadi aku dari pondok terus mampir kesini ayah", terlihat kelegahan dari wajah ayahnya dengan penjelasan Emily. "Syukurlah jika tidak ada apa-apa nak", Emily mengangguk, "ayo kita duduk dulu, ayah ada sesuatu untukmu, kamu disini dulu ya", ayah bergegas ke dalam rumah mengambil sesuatu untuk Emily, Emily menatap ke arah gudang yang dulunya di pakai ayahnya bekerja membuat kerajinan dari kayu, dulu barang pahatan ayah Emily sangat banyak peminatnya, sehingga di ekspor sampai ke Tiongkok. tapi sekarang tempat itu hanya tinggal sebagai gudang, karna dia lah ayahnya sekarang menganggur, pilihan dia menjadikan pemutusan kerja sama ayah dan keluarga Gerry bahkan Gerry memutus semua pelanggan ayah sedikit demi sedikit sampai semua pelanggan ayah sudah tidak ada. Tapi untung ada Syarif yang selalu mengirim uang untuk ayah dan ibu begitu juga dengan Aleando tiap pekan mengirimkan uang kepada mereka, Ale menyuruh ayah untuk tidak bekerja lagi karna sudah tua, Ale tidak mau ayah sakit. "ayah, maafkan aku", lirih Emily, tanpa terasa butiran air keluar dari pelopak matanya tapi segera dia hapus karna tidak ingin ayahnya sedih jika melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2