
Syarif membuka mata mendengar bunyi notivikasi di ponselnya dilihatnya pesan dari Arya 'nanti kita sekeluarga akan ke rumahmu, tolong kasih tahu bibik ya', Syarif mengernyit, dia bangun dari tempat tidur dan tersenyum licik, "Jadi dia beneran mau lamar Najwa", Syarif mengambil baju yang tadi berserakan di pinggir tempat tidur, tidak lupa dia melirik Emily yang tidur pulas mungkin kecapean, 'hal apa yang di lakukan Najwa sehingga kamu segera ingin melamarnya', batin Syarif, Syarif melihat jam di dinding kamarnya menunjukkan pukul 1 siang, dia ingin membangunkan Emily untuk sholat dhuhur dulu, tapi sebelum itu dia mencari keberadaan ibu untuk memberi tahu jika Arya dan keluarganya ingin berkunjung, ibu yang lagi menanam bunga mawar di pot, di kagetkan dengan panggilan dari Syarif, "buk, ibuk disini aku cari di dapur gak ada", Syarif mendekati ibu dengan senyum merona, "kenapa cari ibuk, bukannya kamu lagi istirahat?", bunga-bunga mawar yang di pinda ke dalam pot disusun rapi oleh ibu, "Arya dan keluarganya nanti malam kesini buk", ibu terbelalak, "kenapa baru kasi tahu ibuk sekarang?, ibuk kan jadi gak ada persiapan untuk menjamu mereka", ibu beranjak mencuci tangan dan masuk ke dalam rumah, Syarif masih mengekor di belakang ibu nya, "Lha aku aja baru di kasih tahu Arya buk", ibu ke dapur mengecek apa saja yang masi tersisah untuk di masak, tapi apala daya ibu tadi belanja cuma sedikit, "Apa jam segini Masi ada pasar?", lirih ibu kecewa, "gak usah masak buk, Dayat sudah pesan makanan di restoran milik teman dayat, ibuk gak usah sedih gitu, Dayat pesan makanan kesukaan Tante Fatimah dan paman", lembut Syarif menjelaskan pada ibu, akhirnya ibu juga bisa mengerti, "ehmm,, sekarang Dayat bangunin istri Dayat dulu, karna kita belum sholat dhuhur", Syarif beranjak pergi ke kamar membangunkan Emily, "sayang bangun, ayo sholat dhuhur dulu!", ajak Syarif, Emily menggeliat dan membuka matanya, "jam bearapa mas?", Emily mengucek matanya dan mengumpulkan kesadarannya, "jam satu sayang", "APA", Emily terbelalak dia beranjak ke kamar mandi, "sayang, kamu sudah tahu bacaan doa bersucinya?", Emily tersenyum, "Kan mas sudah ajarin waktu aku habis mens, sama kan doanya?", Syarif menggeleng, "Beda sayang, kalau waktu itu kamu habis haid, kalau sekarang ini mandi wajib jinabat, sayang", Emilly mengernyit bingung, karna dia kira mandi wajib itu doanya sama, "jangan bingung gitu sayang, ayo aku ajarin sekalian kita mandi bareng", goda Syarif menaik turunkan alisnya, "ih, apaan si mas, bilang aja modus", Emily beranjak masuk ke kamar mandi, "eh,, beneran sayang, mas tidak modus, mandi bareng itu juga termasuk ibadah sayang, kamu tahu kan, semua keinginan suami itu merupakan kewajiban seorang istri", Syarif mengekor di belakang Emily, "Mas cepetan kita itu belum sholat dhuhur, kalau mas modus terus, entar keburu habis waktu dhuhur nya", gerutu Emily, Syarif melangkah ke kamar mandi, "ayo cepetan kita mandi sayang", Syarif menarik Emily ke dalam pelukannya dan menyalakan shower, mengguyur badan mereka berdua, dengan telaten Syarif membaca doa dan di ikuti Emily, "Nawaitul ghusla liraf'il hadastil Akbari fardhollillahi ta'ala", mereka bergantian membersikan badan mereka, selesai mandi dan berwudlu mereka sholat jama'ah.
Di markas selesai mengajar Najwa bergegas membereskan barang-barangnya untuk pulang, "kak Najwa, kita makan siang dulu disini bentar lagi makanannya di antarin, gimana mau kan?", tanya Andre pada Najwa, "kayaknya kakak gak bisa, maaf ya!!, kakak banyak tugas kuliah, kalau kakak gak sibuk kak Najwa janji akan makan bareng sama kalian disini", tolak halus Najwa, terukir kekecewaan di wajah Andre dan teman-temannya, "Kak Najwa pulang dulu ya,". pamit Najwa pada anak-anak yang ada di markas, Joy yang sedari tadi di luar menungguh Najwa keluar, "duh, Najwa lama banget sih, ngapain aja dia, perasaan anak-anak Uda pada pulang semua", gerutu Joy, tidak lama setelah itu Najwa keluar, "Lho mas Joy Masi disini, kirain Uda pulang", Joy beranjak naik motor, "ayo ikut aku!", ajak Joy pada Najwa, Najwa di buat bingung tadi mereka kan pergi naik mobil, sekarang pulang naik motor, "kenapa bengong?, ayo mau pulang gak?", tegas Joy, Najwa spontan mengangguk, dia pun membonceng motor yang di bawah Joy, "yang bener naiknya, pegangan", Najwa menghela nafas dalam, 'duh, ngeselin banget sih', batin Najwa, "ya mas, kita kan bukan mahrom mas, jadi najwa gak apa-apa kok kalau gak pegangan mas,", Joy kesel pada Najwa dia meminta Najwa untuk berpegangan supaya tidak jatuh, "Siapa juga yang suru kamu pegangan sama aku, aku menyuruhmu pegangan kan bisa pegangan pada jok", wajah Najwa merah padam dengan perkataan Joy, 'najwa, bodohnya kamu', batin Najwa, Joy melajukan motornya, di sepanjang jalan mereka hanya diam, sampai di gang yang agak sempit, Joy masuk di gang tersebut, Joy terus masuk di pemukiman penduduk yang tidak begitu banyak rumah, rumahnya juga banyak yang terbuat dari kayu, tapi rumahnya bentuknya sama semua, memang tidak terlalu besar, ada musholah di perempatan jalan, semua warga disana berhambur mengikuti najwa dan Joy, Najwa sempat takut, Joy yang melihat dari kaca spion tersenyum, melihat ketagangan di wajah Najwa, "Mas, kenapa mereka ikutin kita", lirih Najwa, Joy tak menanggapi perkataan Najwa, dia terus melajukan motornya sampai di depan kawasan perkebunan stobery, di pinggir pagar di tanami berbagai macam bunga, pikiran Najwa masih takut karna para warga Masih pada mengikuti dia dan Joy, sampai-sampai dia tidak begitu sadar jika mereka berhenti di perkebunan yang luasnya 1 hektar, ada yang di tanami stroberi, sebagian di tanami melon, dan di pinggir pagar di tanami bermacam bunga, Joy mematikan motornya, Najwa masih takut, "ayo turun, kita sudah sampai!", Najwa Masih terdiam, warga yang mengikuti tadi berhambur menghampiri Joy dan Najwa,Najwa makin takut reflek dia berpegang pada Joy, "Tuan Joy, akhirnya tuan menyempatkan datang kesini", kata salah satu warga, Joy mengangguk, dia hendak turun dari motor tapi Najwa masih belum juga turun, "EHEM", Dehem Joy menyadarkan Najwa, sontak dia pun turun, Joy pun membuka helm dan turun, Najwa Masih menggunakan helm dia belum melepasnya, warga berhambur menyalami Joy, Najwa masih tercengang, "Mas Joy, kumaha damang?", salah satu ibu-ibu bertanya pada Joy, "damang teh", sopan Joy menjawab ibu-ibu itu, "Eh, neng geulis, pacar mas Joy ya?", Najwa masih terdiam, "bukan teh, ini adiknya Syarif", Joy menjelaskan, "oh, jadi neng adik mas Syarif, lha mas Syarif ya mana, kok gak pernah jenguk kita disini", Joy melihat Najwa yang masih bingung, Karna warga disana pada kenal Joy dan kakaknya, "Syarif lagi honey moon, jadi belum sempat kesini", jelas Joy, "Jadi mas Syarif sudah nikah?", tanya salah satu wanita seumuran dengan Joy, "ya, pupus sudah harapanku", lirih wanita itu melenggang pergi, "Eh, Uda nanti lagi kita tanya-tanya nya biar tuan Joy istirahat masuk dulu", celah bapak yang menyapanya pertama tadi, "Mari tuan, apa tuan mau istirahat dulu di dalam?", Joy tersenyum, "terimah kasih pak, tapi kita ke kebun dulu, Najwa ingin memetik stroberi", tolak halus Joy, "kalau gitu mari bapak antarin tuan", Joy mengangguk, dan mengikuti bapak tadi ke perkebunan, Najwa mengikuti di belakang Joy, Najwa tersadar jika perkebunan ini adalah perkebunan yang di lihatnya di warung masakan Padang tadi, karna di perkebunan itu nampak warung masakan Padang yang tadi pagi dia dan Joy makan disana, "Mas, ini kan perkebunan yang kita lihat dari warung itu", Joy mengangguk, Najwa berbinar melihat stroberi yang siap panen begitu menggoda, "Silakan non, katanya mau memanen", Ungkap bapak membawakan tempat untuk stroberi yang telah di petik, "Boleh kah", Najwa menatap Joy, dan di balas anggukan oleh Joy, Najwa langsung mengambil tempat yang di berikan oleh bapak, "Makasih", Najwa memetik buah yang sudah matang di bantu oleh bapak, "Pak, warga disini tadi kok pada kenal sama mas Joy?", tanya Najwa di sela-sela memetik stroberi, "Tuan Joy dan tuan Syarif begitu berarti untuk kita non", jawab bapak menjedah, "dulu orang-orang disini adalah seorang gelandangan", Najwa tercengang, "Saya adalah tukang kebun di rumahnya tuan Joy, 5 tahun lalu, tuan Joy meminta saya untuk membimbing orang-orang disini untuk mengajari mereka bertanam lahan 1 hektar ini ditanami bermacam-macam awalnya kita tanami semangka dan melon, karna 2 bulan sudah bisa di panen, kita juga menanam sayur seperti tomat, dan yang lainnya, dan 2 tahun ini kita mencoba menanam stroberi, semua hasil panen ini di bagi rata untuk orang-orang disini, mereka juga di gaji oleh tuan Joy tiap bulannya, mereka pada bersyukur karna berkat tuan Joy dan tuan Syarif mereka tidak lagi menjadi gelandangan, tuan Joy dan tuan Syarif juga membuatkan rumah untuk mereka, meski dari kayu tapi bagi mereka sangat cukup, anak-anak mereka juga bisa sekolah, awalnya tuan Syarif dan tuan Joy mengajari anak-anak mereka di markas, tapi sekarang mereka sudah sekolah ada yang SMA dan ada juga yang masuk perguruan tinggi", Najwa tidak menyangka kakaknya telah membantu banyak orang, "oh, ya non, kenapa tuan Syarif menikah tidak bilang-bilang?", tanya bapak pada Najwa, "ya pak, yang hadir cuma keluarga saja", jelas Najwa, "Oh, semoga pernikahannya mas Syarif sakinah, mawaddah dan warahmah", "Amin". Joy menghampiri mereka, dan mengajak Najwa pamit pulang, "Sudah sore pak, kita pulang dulu", Joy dan Najwa pun bergegas pulang tidak lupa membawa stroberi yang tadi di petik Najwa pun berpamitan pada ibu-ibu yang ada disana. Joy melajukan motornya dan bergegas mengantar Najwa pulang ke rumah nya.