Tuntun Aku Jadi Makmummu

Tuntun Aku Jadi Makmummu
Bab 84


__ADS_3

Emily dan Syarif bergegas berangkat bekerja bersama, hari ini Emily sengaja tidak membawa mobil karna Emily akan mampir ke sanggar setelah selesai mengajar di pondok.


"Sayang, nanti kalau kamu sudah selesai kamu hubungi mas ya!". pinta Syarif. Emily mengangguk.


"iya mas". jawab Emily. Syarif melajukan mobilnya menuju pondok. sampai di pondok Emily berpamitan untuk turun.


"Mas, aku duluan ya, assalamualaikum". pamit Emily seraya mencium punggung tangan Syarif.


"Wa'alaikum salam". jawab syarif mencium kening Emily. Emily bergegas keluar dari mobil.


"Hati-hati mas". ucap Emily melambaikan tangan. syarif pun mengangguk. Syarif melajukan mobilnya, sedangkan Emily bergegas masuk ke dalam pondok.


Selesai mengajar Emily pamit pada ustadzah Aini untuk pulang, Emily tidak lupa menghubungi Syarif untuk memberi tahu jika dia sudah selesai mengajar. tidak butuh lama Syarif sudah sampai di depan gerbang pondok, Emily segera masuk mereka akan pergi ke sanggar, kebetulan Ale dan maira juga masih disini belum kembali ke Bandung, rencananya mereka berlibur sampai satu Minggu.


"Assalamualaikum..". salam Emily ketika sampai di sanggar yang di sambut oleh maira.


"waalaikum salam". Jawab maira dan Ale bersamaan.


"Anak-anak, ini ammah bawain kalian kue!". ucap Emily memberikan paper bag pada anak-anak angkat Ale dan maira. Semua anak-anak berseru senang.


"terima kasih ammah". jawab mereka serempak. Emily tersenyum.


"Sama-sama". mereka memakan kue dengan tenang, maira dan Emily masuk ke dalam sanggar, terlihat ayah sedang memberi bimbingan pada anak didiknya, memang tidak terlalu banyak tiap kelas hanya ada 10 siswa, jam belajarnya juga di sesuaikan.


"Kamu tahu Mel, aak mungkin akan sibuk, apa gak sebaiknya kamu mencari seseorang untuk membantu kamu?". tanya Maira pada Emily ketika mereka berada di ruang tengah galery, kebetulan pengunjung galery juga lumayan.


"Gak apa kok mbak, lagian aku ngajar kan tidak tiap hari, jadi insya Allah aku masih bisa kok mbak". papar Emily, Maira menghela nafas.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau itu mau mu". Emily tersenyum.


Sedangkan Ale sekarang bersama dengan Syarif duduk di ruang tamu rumah ayah. Ibu menyajikan kopi dan kue di meja.


"Silahkan nak di minum kopinya keburu dingin". seru ibu, "terima kasih Bu, maaf jadi repotin ibu!". ungkap syarif. ibu menggeleng,


"Gak kok nak, ini sudah kewajiban ibu". ibu beranjak menuju anak-anak angkat Ale yang sedang bermain.


"Rif, kamu gak sibuk?". tanya Ale sambil menyeduh kopi.


"Gak kok bang, lagian di kebun juga sudah ada pak Yusuf yang urus". kekeh Syarif. mereka sedang memperhatikan anak-anak Ale yang sedang bermain.


"Kamu tahu, mereka adalah semangatku". ungkap Ale memerhatikan anak-anak angkatnya yang bermain di temani ibu. Syarif mengangguk.


"Mereka adalah kebahagiaanku bersama Maira". lanjut Ale.


"Kamu tahu, bahkan maira menolak saat aku akan mencarikan babby sister untuk mereka". Syarif tersenyum lucu mendengar ungkapan Ale, juga salut pada maira yang merawat 10 anak angkat dan umurnya masih rata-rata baru 5 tahun, dan yang paling kecil umur 3 tahun. ada yang umur 10 tahun. Lucunya hanya 1 yang cowok semua yaitu paling kecil umur 3 tahun. Anak cewek yang berumur 10 tahun itu membawa anak cowok yang berumur 3 tahun menghampiri Ale dan Syarif dengan merengek.


"Punten Abi, Adik hayang kadiek". Ale tersenyum mengulurkan tangannya menyambut anaknya.


"Oh, jagoan Abi, no cengeng!". kata Ale menghapus air mata anaknya. anaknya mengangguk. sementara anak angkat cewek yang mengantar tadi sudah pamit kembali bermain dengan adik-adiknya.


"Eh, ganteng om boleh kenalan?". goda Syarif. anak itu mengangguk malu.


"Siapa namamu ganteng?". Syarif menyodorkan tangannya. Anak itu malu-malu, nampak melirik Syarif lalu menatap ayahnya. ayahnya mengangguk.


"Kasih tahu om siapa namamu?". ucap Ale.

__ADS_1


"My name is Jay". celetuk Jay. Jay adalah anak dari teman Ale, orang tua Jay meninggal waktu kecelakaan, beruntung Jay selamat. Jay di titipkan ayahnya pada Ale sebelum dia menghembuskan nafas terakhir, semua aset perusahaan di titipkan pada Ale untuk Jay kelak. Orang tua Jay adalah orang Australia, maka dari itu Jay masih menggunakan bahasa Inggris, tapi Jay juga sedikit mengerti bahasa indo Jay di adopsi Ale baru 1 tahun.


"Oh, nama yang bagus". kata Syarif. Jay tersenyum.


"kalau om namanya Syarif". Syarif memperkenalkan namanya pada Jay.


"Uncle Syarif".


Setelah beberapa menit Jay dan Syarif terlihat akur mereka bermain bersama.


Syarif dan Emily bergegas pulang karna waktu sudah sore, sampai di rumah Emily memasak untuk makan malam nanti, sambil menungguh waktu magrib tiba, sedangkan Syarif masih berkutat di ruang kerja. Adzan magrib terdengar dari toa masjid, Syarif menutup leptopnya dia bergegas akan pergi ke masjid untuk sholat jama'ah.


"Sayang, mas jama'ah dulu ya!". pamit Syarif menghampiri Emily di dapur. kebetulan Emily juga sudah selesai memasak.


"Iya, mas". kata Emily tersenyum manis pada Syarif. Syarif mengecup kening Emily sebelum berangkat ke masjid.


Selesai sholat magrib Emily membaca mushaf Al Qur'an. dia menungguh sampai waktu Isyak, Syarif juga belum pulang dari masjid karna biasanya dia menungguh sholat Isyak sekalian di masjid.


Di tempat lain Najwa juga membaca Al Qur'an, biasanya dia membaca bersama dengan Arya berdua tapi hari ini Arya masih belum pulang dari luar kota, Arya menghubungi Najwa dia bilang mungkin akan pulang agak malam, karna di bengkel ada kendala sedikit, Arya bilang jika sudah selesai urusannya dia akan segera pulang. pikiran Najwa tidak enak, dia menyuruh Arya untuk menginap saja dan pulang besok pagi, apalagi Arya pergi sendirian, Najwa sangat khawatir jika Arya pulang tengah malam, maka dari itu Najwa meminta Arya menginap disana dan pulang besok pagi. Najwa membaca surat Yusuf, selesai membaca Najwa merasa perutnya keram, Najwa menaruh mushaf Al Qur'an di meja, dia mencoba berdiri dan berjalan mondar mandir untuk merendahkan keram nya. Mungkin usia kandungan Najwa yang memasuki usia 8 bulan, keram di bawah perut sering di rasakan Najwa. tapi Najwa tidak pernah bilang pada Arya karna Najwa tidak ingin Arya terlalu khawatir. Biasanya kalau mulai kram Najwa akan berjalan mondar mandir dan itu ampu, seketika kram nya mereda.


Tok.. Tok.. Tok..


Pintu di ketuk oleh mama Arya, Najwa membuka pintu, mama Arya mengajak Najwa untuk makan malam.


"Sayang, ayo kita makan malam, ayah sudah menungguh di meja makan". ajak mama Arya. Najwa mengangguk. dia mengikuti langkah mama Arya. sampai di meja makan terlihat ayah yang sedang membuat susu.


"Nak, ini ayah bikinin susu untuk kamu!". susu yang ayah bawah di taruh di depan Najwa.

__ADS_1


"Terima kasih yah". ucap Najwa. mereka pun makan malam dengan khidmat.


__ADS_2