Tuntun Aku Jadi Makmummu

Tuntun Aku Jadi Makmummu
Bab 18


__ADS_3

Najwa berjalan menuju lorong rumah sakit, langkahnya terhenti ketika membuka pesan dari Emily, Emily pamit dia ingin pergi, tapi Najwa tidak tahu pergi kemana. 'kak Emil, mau pergi kemana?'. balas Najwa. Najwa berjalan agak cepat agar sampai di kamar Syarif.


"Assalamualaikum..". salam Najwa membuka pintu, "waalaikum salam". jawab ibu, Syarif Masi tertidur, najwa memberi tahu ibu kalau Emily pamit pergi. "Kak Emil kirim pesan dia mau pergi". ibu yang membaca Al Qur'an berhenti sejenak, lalu menyudahi bacaannya. "shadaqaallahul adzim". ibu menutup Al Qur'an meletakkan ke meja, "pamit kemana?". Najwa menggeleng, "belum di balas". Syarif membuka mata, melihat Najwa dan ibu yang terlihat sedih, "ada apa, kenapa ibu dan Najwa sedih? apa karna Dayat buk?". lirih Syarif, ibu dan najwa sontak menggeleng, "Tidak kok kak". ibu membelai Syarif, "najwa bilang Emily kirim pesan dia pamit dia mau pergi". dalam hati Syarif menduga Emily pasti pergi bersama orang yang melamarnya. "Ibuk di balas kak Emil, katanya ke Bandung". sontak kata Najwa membuka pesan dari Emily. "kenapa Emily tidak pamit kesini?". lirih ibu kecewa. "Emily mau menikah buk". sontak Najwa dan ibu menatap Syarif bersamaan, "kak Dayat tau dari mana?". Najwa penasaran dengan ungkapan Syarif. "ketika Emily kesini, Dayat mendengar dengan samar Emily bilang di lamar orang buk". Najwa teringat saat Emily menemuinya katanya dia ingin mengatakan sesuatu, tapi Najwa keburu nangis dan memberi tahu jika Syarif kritis. "Pantesan kak Emil lama banget di dalam, dia bilang apa aja kak?" Syarif hanya mendengar tangisan seseorang, hati Syarif sakit ketika tangis itu makin pecah, Syarif tersadar saat Emily bilang kalau dia di lamar seseorang dan dia sudah memutuskan pilihannya, kala itu mata Syarif sulit untuk di buka Syarif mencoba menggerakkan tubuhnya tapi terasa sakit, hanya jari-jari jarinya yang bisa dia gerakkan dengan susah paya. suara tangis Emily makin pecah Syarif mencoba membuka mata perlahan dia hendak memanggil Emily, tapi mulutnya sangat sulit untuk mengucapkannya. "buk, Dayat sadar hati Dayat terasa sangat sakit ketika mendengar orang disamping Dayat menangis, ku kira itu suara ibu atau Najwa tapi ketika Dayat membuka mata Emily yang menangis Buk. jujur Dayat sangat merindukan dia buk, Dayat ingin tahu kenapa dia menangis, tapi mulut Dayat sangat sulit untuk berkata saat itu". jujur Syarif. "Kak Emil mungkin suka sama kak Dayat" kata Najwa memegang tangan Syarif. "Najwa kamu tahu kan alasan kakak". celah Syarif, "tapi kenapa kalian menyiksa diri kalian kalau kalian saling cinta". sarkas Najwa, dia tidak tega melihat orang yang dia sayang sedih. "nduk, kak Dayat Masi sakit, ingat itu, jangan mengekang kakak". pesan ibu. najwa menghela nafas, "astagfirullah hal adhim". najwa beristigfar, "Maafkan Najwa kak". lirih najwa. Najwa berjalan keluar kamar. "kamu istirahat ya, jangan pikirkan yang sesuatu yang akan membuatmu semakin drop, kamu harus cepat sehat". ibuk berjalan keluar menyusul Najwa yang mungkin sedang sedih. Syarif menatap nanar ibu yang menghilang dari balik pintu.

__ADS_1


***


Hari ini adalah sidang pertama Jacob di gelar, Mark sudah di tahan dan anak buahnya juga sudah di tangkap, saksi pertama adalah Mariya, Mariya menceritakan semua yang dia tahu, Jacob tidak menyangka dia akhirnya bisa terbebas dari balik jeruji besi. keluarga Mark tidak peduli pada Mark, karna citra keluarga kolongmerat ternama hancur seketika, sidang pertama Mariya berhasil meyakinkan hakim, di lanjut sidang yang kedua yang akan di lakukan lusa.

__ADS_1


Keadaan Syarif juga semakin membaik, dokter Wiliams akan menindak lanjuti pemeriksaan luka tembak Syarif. "permisi". dokter Wiliams membuka pintu kamar dan masuk di susul perawat, Joy kebetulan menemani Mariya ke persidangan jadi Joy tidak mengantar dokter Wiliams, "Syarif, gimana keadaanmu, kelihatannya sudah membaik". dokter Wiliams mendekati Syarif, ibu sedari tadi melihat dokter Wiliams dia ingin menegaskan apakah benar dokter Wiliams temannya waktu SMA dulu Wili. dokter yang sadar ibu memperhatikannya tersenyum. "Apa kabar Ais?". Ibu yang disapa membeo dia tidak menyangka akan bertemu kembali dengan Wili teman SMAnya. Syarif yang melihat ibunya bengong bertanya pada dokter Wiliams, "rupanya kalian saling kenal". ibu tersenyum kaku, "kita teman waktu SMA". jawab dokter Wiliams sambil mengecek kondisi Syarif, "okey Syarif, laporan cek up kesehatan milikmu ada di ruang kerjaku, permisi apa boleh ibumu ikut denganku, ada yang ingin ku bicarakan dengan ibumu tentang kondisi mu". Syarif mengangguk, ibu mengikuti dokter Wiliams dari belakang, sampai diruang dokter Wiliams memberikan hasil CT scand Syarif, " keadaan Syarif sudah membaik perdarahan di rongga perutnya juga berangsur membaik, jadi untuk sementara waktu Syarif jangan di kasih makan yang kasar, kalau bisa beri susu nutrisi tubuh, dan jangan bikin stres karna bisa bahaya pada lukanya". ujar dokter Wiliams meski dia merindukan Aisyah tapi dia tetap profisional dalam bekerja, dia tidak ingin masalah pribadi di sangkut pautkan sama pekerjaan. ibu menerima hasil CT Scand Syarif, "terimakasih dok". ibu beranjak keluar ruangan. "Ais, apakah kamu akan sholat dhuhur di masjid?". tanya dokter Wiliams mendengar adzan dhuhur berkumandang di masjid rumah sakit. ibu yang di panggil namanya berhenti dan mengangguk, lalu melanjutkan lagi langkahnya keluar ruangan.


Di lain tempat nampak seorang gadis yang sedang duduk di gazebo belakang rumah, terlihat ada seseorang yang menghampiri. "nak, kamu kenapa?". tanya umi yang melihat Emily murung. "Umi, Emily sadar umi, ibu dan ayah pasti sedih". lirih Emily, "mereka lebih sedih jika melihat kamu tidak bahagia". umi menepuk pundak Emily meyakinkan. "berdoalah supaya ayah ibumu bahagia akan pilihanmu, kamu sudah besar dan kamu sudah bisa menentukan pilihanmu, jangan lakukan sesuatu jika kamu masih belum yakin". Emily mengangguk. "umi tinggal dulu ya nak, jangan sunkan bilang apapun pada umi". umi beranjak dari gazebo menuju musholah. "Umi, sebenarnya Emil mecintai seseorang umi, tapi halangan bagi kami adalah agama dan Emily sedang di lamar orang yang sudah berjasa bagi ayah". langkah umi terhenti dan kembali duduk di samping Emily. "semua ada di dalam sini nak jawabannya". kata umi memegang tangan Emily dan meletakkan di dada. "jika kalian jodoh pasti akan ada jalan untuk bersama nak, percayalah pada ketentuan Tuhan, lakukan apa kata hatimu". sambung umi.

__ADS_1


Emily terus berdoa dan benar kata umi jika dia berdoa Tuhan akan memberikan jawaban lewat hatinya, hatinya kini sudah lebih yakin akan pilihannya.


"Kak, apa kakak tidak ingin memperjuangkan cinta kakak?". lirih najwa di samping Syarif. "dia sudah dilamar orang dek". cela Syarif, "Tapi kak Emil tidak suka dengan orang itu". terang Najwa meyakinkan Syarif, "dek kita berbeda keyakinan". najwa menarik nafas dalam "apakah jika kak Emil menjadi mualaf kak Dayat mau memperjuangkan cinta kalian". Syarif terdiam. "di dalam diri kak Emil tertanam jiwa Islam kak, kakak harus perjuangkan cintamu".

__ADS_1


__ADS_2