
Emily dan ibu menungguh di loby rumah sakit, dokter Williams datang menemui mereka. mereka bertiga menuju ruangan obgyn.
Ceklek..
"assalamualaikum..". Emily dan ibu masuk bersama. "waalaikum salam, silakan duduk dulu!". seru dokter Zahra. "terimah kasih dok". Emily dan ibu duduk bersama. "gimana nyonya apa Masih terasa sakit perut anda?", tanya dokter Zahra. "terkadang sedikit nyeri dok". jawab Emily. "anda masih terus minum obatnya kan?". Emily mengangguk. "mari kita periksa dulu". Emily mengangguk, ibu memegang erat tangan Emily memberi kekuatan untuk Emily. Emily dan dokter Zahra masuk ke ruang cek up.
Setelah mengajar Najwa menyusul Emily dan ibu ke rumah sakit, Najwa berjalan menuju ruang obgyn. di lihatnya ibu yang sedang menungguh di luar ruangan dengan gusar. "ibuk,". Najwa menghampiri ibu, ibu yang di panggil menengadahkan pandangannya ke sumber arah. "nduk, kamu sudah sampai?". Najwa mencium punggung tangan ibu dengan takzim, "nggeh buk, dimana mbak Amel?". mata ibu mengarah pada ruangan. "dia lagi di priksa". Najwa mengajak ibunya menungguh dengan duduk di depan ruang tersebut.
Ceklek..
Pintu ruangan terbuka terlihat dokter Zahra dan Emily keluar. Najwa dan ibu segera menghampiri mereka berdua. "Nyonya anda harus rutin meminum obat ya! jangan pernah putus asa, anda harus selalu kuat, anda pasti bisa". seru dokter Zahra, "insya Allah dok". lirih Emily, "dok, gimana keadaan mbak Amel?". tanya Najwa, dokter melirik Emily sejenak, "kamu tenang saja, nyonya Amel keadaannya baik-baik saja". terang dokter Zahra, "Alhamdulillah". ungkap Najwa, Emily merasa lega dengan penuturan yang diberikan dokter Zahra pada Najwa, tapi ada rasa semburat sedih di wajahnya meskipun dia menutupi. "baik dok, terimah kasih banyak, kita pamit dulu". dokter Zahra mengangguk, "assalamualaikum". "waalaikum salam", mereka beranjak pergi, dokter Zahra melihat kepergian mereka dengan nanar.
__ADS_1
Syarif melangkah dengan cepat disusul Arya, dia melihat jam di pergelangan tangannya, dia ingin segera menyusul Emily ke rumah sakit, di lihatnya ponsel dan mendial no. dokter Zahra, seketika langsung terhubung. Syarif meminta dokter Zahra tidak mematikan ponselnya saat memeriksa Emily, Karan Syarif ingin tahu penjelasan langsung dokter Zahra saat memeriksa. "gimana nyonya apa Masih terasa sakit perut anda?", terdengar suara dokter Zahra bertanya pada Emily. "terkadang sedikit nyeri dok". "anda masih terus meminum obatnya kan?, mari kita periksa dulu". hening sejenak. "nyonya, di rahim anda masih terlihat benjolan itu belum ada perubahan, mungkin baru seminggu anda minum obat, jadi belum memperlihatkan reaksinya, tapi tenang saja, Andah harus rutin mengkonsumsi obat, jika Minggu depan masih belum ada perubahan kita lakukan dengan terapi". terang dokter Zahra, "jika tidak ada perubahan gimana dok?". tanya Emily tercekat. "jalan satu-satunya kita akan mengangkat rahim anda, karna benjolan itu terdapat di dalam rahim anda".
Deg..
Jantung Syarif merasa sakit, mendengar penuturan dokter Zahra. "tapi tenang saja, karna dokter Caro sepesialis obgyn dari Amerika dia akan berkunjung kesini, mudah-mudahan dia bisa membantu anda". hening sejenak.
"dok, tolong jangan beri tahu ibuk dia pasti akan sedih, aku tidak mau melihat mereka bersedih dok.". "baiklah, tapi anda harus janji, anda harus tetap optimis". Emily mengangguk.
***
Seperti biasa jenny menemui Gerry yang sedang di kantor. kantor mereka berada di gedung yang sama, jenny memulai bisnisnya di Kanada yaitu bisnis fesion, sedangkan beberapa mall milik ayahnya di Indonesia, dan dia kini bekerja sama dengan Gerry dalam bidang otomotif, dia sangat ingin menggeluti bidang itu karna dia merasa tertantang dengan Syarif. lelaki yang terang-terangan menolaknya, dia ingin membuktikan pada Syarif kalau Syarif kelak membutuhkannya dan disaat itu Syarif harus dia miliki.
__ADS_1
"gimana apa berhasil memikat mereka?". tanya Gerry antusias. jenny mengangguk dan tersenyum puas. melihat itu Gerry makin gemas, "kamu memang terbaik say". jenny duduk di sofa di mengangkat kakinya ke meja. "kamu tahu kan, tidak ada kamus gagal dalam hidupku". dia merebahkan tubuhnya di sandaran sofa, "ya, dan aku yakin dia akan bertekuk lutut padamu". seringai Gerry. jenny menatap Gerry, "aku harap kau jangan lagi ikut campur, karna dia adalah milikku". tegas jenny. Gerry mengangguk, "kau dapat memiliki dia dan aku akan mendekati Emily lagi". gumannya dalam hati.
"apakah kau ingin bersenang-senang?". tanya Gerry, jenny pun mendongak melihat Gerry dia tersenyum mengajak Gerry pergi ke club, mereka berdua pun meninggalkan kantor.
Syarif memarkirkan mobil di area rumah sakit dia melihat Emily, ibu dan Najwa ingin keluar, Syarif bergegas menemui mereka.
"kak Dayat". Najwa kaget dengan kedatangan Syarif yang tidak menghubungi jika ingin menyusul. Syarif berhambur memeluk Emily, "sayang...". hening sejenak, Emily sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak jatuh. "gimana kata dokter?". lirih Syarif. "dokter bilang aku baik-baik saja mas, mas tidak usah khawatir". terang Emily merasa getir. "begitu kah?". Emily mengangguk. "mas sudah selesai meetingnya?".tanya Emily mengalihkan. Syarif mengangguk. "gimana mas apa lancar meeting tadi?", Syarif hanya mengangguk, "Alhamdulillah mas", Emily melerai pelukan Syarif. "mas ayo kita pulang dulu, mas capek kan, ibuk juga kelihatannya sudah lelah". ajak Emily Syarif pun mengangguk, mereka berempat berjalan beriringan menuju mobil milik Arya yang di bawah Syarif. "Najwa ikut pulang ke rumah aja buk, biar nanti kak Arya saja yang jemput". tutur Najwa, Syarif pun mengangguk.
***
Di belahan bumi yang berbeda, Joy menatap geram pada foto Gerry, Joy menyuruh orang mengintai Gerry karna Joy merasa ada gelagat aneh, dan benar saja Gerry telah memanipulasi kerja samanya dengan bengkel milik Syarif. dan kini Joy lebih geram karna Gerry bekerja sama dengan jenny untuk menghancurkan Syarif dan Emily. "keterlaluan kau Gerry, kau tidak tahu siapa lawanmu". Joy melihat CCTV yang terhubung dengan Gerry dan jenny di club.
__ADS_1
Gerry tidak tahu jika Syarif dan Joy berhubungan dekat, bahkan Joy adalah salah satu invertor di perusahaan Gerry yang berada di Kanada, begitu pun jenny, mereka tidak tahu jika Joy sangat berpengaruh bagi keluarganya, karna itulah Tante Henny merasa geram saat Gerry memintanya untuk membantu bekerja sama dengan Syarif. Tante Henny tahu jika Syarif merupakan sahabat Joy dan ayah Joy menganggap syarif sebagai anak.