Tuntun Aku Jadi Makmummu

Tuntun Aku Jadi Makmummu
Bab 69


__ADS_3

Selesai acara tasyakuran, Emily dan Syarif berpamitan pulang pada ustadz Jailani dan ustadzah Aini, sedangkan ibu dan Najwa masih menemani anak-anak di pondok bersama umi Mariya, rencananya umi Mariya mengajak ibu main ke rumahnya, sedangkan Najwa akan di jumput oleh Arya, karna Arya sudah izin pulang setengah hari. "ustadz kita pamit dulu". pamit Syarif. "terimah kasih banyak Rif, semoga Allah melindungi kalian". doa ustadz Jailani, "amin". setelah berpamitan mereka masuk mobil. tanpa mereka sadari 2 orang telah mengintai mereka dari mobil berbeda. Syarif melajukan mobilnya, begitu juga dengan 2 mobil yang mengintai mereka mengikutinya dari belakang dengan jarak yang berbeda.


"assalamualaikum". salam Emily di sebuah toko baju. "waalaikum salam". jawab seorang wanita menghampiri Emily, wanita itu sangat kaget. "Tante...". panggil Emily tersenyum di depan tantenya. "mil,, beneran ini kamu?". Emily mengangguk. "kamu kok tumben kesini gak bilang dulu sama tante?". Emily memeluk Maya dengan erat. "aku kangen sama Tante..". lirih Amel. "ada apa? kamu ada masalah?". tanya Maya pada Emily. "gak kok tante hanya pengen main saja, tadi dari pondok, kebetulan lewat sini, ya sekalian mampir kesini". maya melerai pelukannya, "dimana Syarif?" Emily melihat ke depan pintu kaca dan memperlihatkan Syarif yang sedang berjalan masuk. "itu dia mas Syarif Tante". Syarif masuk ke dalam toko menghampiri Emily. "Tante,,". sapa Syarif menunduk pada Maya. maya membalas dengan senyuman. "mbak Emil?". sapa para pegawai Maya, Emily tersenyum pada mereka. "mbak emil, kenapa gak perna main kesini?". tanya salah satu pegawai, "iya maaf, mbak sibuk karna banyak pekerjaan". jelas Emily, semua pada mengangguk, "ya sudah, kita masuk yuk, kalian jaga toko dulu ya, kita ke dalam dulu". kata Maya, Emily dan Syarif mengikuti Maya masuk ke ruang tamu.

__ADS_1


"kalian duduk dulu, saya buatin minuman dulu". titah Maya sesampai ruang tamu, "Tante, gak usah repot-repot!". sela Syarif. "gak repot, kan menjamu tamu itu wajib". tukas Maya masuk ke dapur. Emily dan Syarif duduk di sofa.


Drrrtt.. Drrrtt..

__ADS_1


Bunyi ponsel Syarif bergetar, di lihat ada panggilan dari Joy. "siapa mas?". tanya Emily pada Syarif. "Joy sayang". jawab Syarif memegang ponselnya. "ya sudah cepat di angkat siapa tahu penting". seru Emily Syarif mengangguk dan mengangkat panggilan dari Joy. "Ada apa?". tanya Syarif pada Joy di sebrang. "sebegitu penting ya, apa gak bisa kamu saja yang hendel?". Emily melihat Syarif, "okey, tapi aku antar istriku pulang dulu". Syarif menutup panggilannya dengan Joy, Syarif menarik nafas dalam, "ada apa mas?". tanya Emily lembut, "ada klien penting dari Amerika sayang, dan kata Joy aku juga harus datang ke pertemuan itu, sebab mereka ingin bertemu dengan aku". jelas Syarif, "ya sudah mas pergi saja, gak apa-apa". ungkap Emily, "kalau gitu mas antarin kamu pulang dulu". Emily menggeleng. "mas lebih baik pergi saja, nanti kalau mas pulang jumput aku disini, aku masih kangen sama Tante". maya keluar dari dapur membawa camilan dan minum. "betul kata istrimu, biar dia disini dulu main sama Tante, nanti kalau kamu pulang baru jumput". Syarif melihat Emily untuk memastikan, Emily mengangguk, "ya sudah, kalau gitu aku titip Amel Tante". Syarif beranjak dari duduknya, Maya mengangguk. "sayang, mas pergi dulu ya", pamit Syarif, "Tante Syarif pergi dulu, nitip Amel ya Tante". pamit Syarif pada Maya, "tenang saja, istrimu aman bersama Tante". kekeh Maya. "terimah kasih Tante". Syarif melangkah keluar di susul Emily mengantar kepergian Syarif sampai depan pintu, "mas, hati-hati". Emily mencium punggung tangan Syarif. Syarif membelai pucuk kepala Emily yang tertutup kerudung, lalu mencium keningnya. "ya sayang, assalamualaikum". salam Syarif, "waalaikum salam". jawab Emily, Syarif bergegas masuk ke mobil dan melajukan mobilnya menuju kantor menemui Joy. di sebrang jalan ternyata ada dua orang yang memperhatikannya di dalam mobil yang berbeda dengan tujuan yang berbeda pula. Emily kembali masuk ke dalam toko Maya.


Sementara di pondok, Arya sudah menjemput Najwa, kondisi Najwa kurang enak badan, mereka berpamitan duluan, sedangkan ibu dan Mariya masih bercengkrama dengan ustadzah Aini. "Umi, jika berkenan umi bisa mengisi acara di pengajian di sini untuk anak-anak bulan depan". ungkap ustadzah Aini pada Mariya. "insya Allah ustadzah, jika tidak ada halangan saya akan datang ke pengajian". terang Mariya, ustadzah Aini bersyukur Karna Mariya berkenan hadir di acara pengajian bulan depan. "Alhamdulillah umi, terimah kasih banyak, anak-anak pasti akan senang mendengarnya". lanjut ustadzah Aini. beberapa jam mereka bercengkrama Mariya mengajak ibu untuk pulang bersama, ibu dan Mariya berpamitan pada ustadzah Aini karna ustadz Jailani sedang mengajar santri putra, ibu dan Mariya pun melenggang pergi dari pondok, Mariya mengajak ibu makan dulu di luar, sekarang mereka di jemput oleh sopir Mariya, karna Joy sedang ada pertemuan dengan klien penting dari luar negri. sesampai di restoran mobil mereka berhenti, pak supir membukakan pintu untuk mariya dan ibu, ibu dan Mariya keluar dari mobil. "terimah kasih pak". ungkap ibu pada pak supir, pak supir mengangguk, Mariya mengajak masuk ibu ke dalam restoran karna sudah ada yang menungguh mereka di dalam. sesampai di dalam restoran mereka di sambut oleh pramusaji dan langsung di antar ke ruang VIP. Seorang lelaki seumuran mereka sedang duduk menungguh mereka. "silakan masuk nyonya". pramusaji mempersilahkan masuk. ibu dan Mariya masuk, dan duduk bersama dengan lelaki itu, "selamat siang", sambut lelaki itu, "siang, maaf sudah menungguh lama!". timpal Mariya, ibu hanya diam, pramusaji membawa menu dan memberikan pada mereka, setelah memesan Mariya pamit ke toilet. "aku pamit ke toilet dulu". ibu dan lelaki itu mengangguk. Mariya beranjak menuju toilet. kini tinggal ibu dan lelaki itu. "bagaimana kabarmu?". tanya lelaki itu pada ibu. "Alhamdulillah baik, dan gimana keadaanmu? maaf aku gak sempat menjenguk waktu kamu sakit". lirih ibu, " seperti yang kamu lihat, Alhamdulillah sudah membaik". jawab lelaki itu. "Ais, izinkan aku menikahimu?".

__ADS_1


Deg'


Jantung ibu seakan berhenti mendengar ungkapan lelaki itu. "Mas, tolong jangan bercanda". ungkap ibu serius. "aku tidak bercanda, aku serius". ucap lelaki itu tegas. "tapi_". kata ibu terhenti ketika melihat Mariya sudah kembali dari toilet.

__ADS_1


__ADS_2