Tuntun Aku Jadi Makmummu

Tuntun Aku Jadi Makmummu
Bab 79


__ADS_3

Umi Mariya dan Joy bergegas pergi dari rumah ibu.


Di mobil Joy masih terdiam. umi Mariya mengerti tentang perasaan Joy.


"Kamu katanya mau bilang sesuatu pada mommy, apa?". umi Mariya mencoba mencairkan suasana.


Joy melirik umi Mariya.


"Nanti saja mom, kalau sudah sampai rumah". kata Joy datar, umi Mariya mengangguk dan mengarahkan pandangannya ke depan, Joy fokus pada jalanan yang nampak padat.


Sampai di mension mereka berdua masuk, Joy duduk di sofa ruang tamu, sedangkan umi Mariya berjalan ke mini bar dan membuatkan Teh untuk Joy. Umi Mariya menyodorkan teh pada Joy, Joy pun dengan sigap menerimanya.


"Terima kasih mom". kata Joy mengulas senyum. umi Mariya duduk di sebelah Joy. "Apa yang kamu akan katakan pada mommy?". tanya umi Mariya menatap Joy.


"Begini mom, di rumah sakit banyak sekali pasien gagal ginjal, dan rata-rata anak-anak yang keluarganya kurang mampu". Terang Joy. Umi Mariya mengulas senyum dan mendekati Joy. "lakukan apa yang menurutmu baik nak, Mommy akan selalu mendukungmu". Kata umi Mariya dengan lembut. Melihat senyum umi Mariya Joy merasa hatinya begitu tenang. "Tapi _". belum selesai melanjutkan katanya umi Mariya menyela.


"Mommy akan membantumu nak". Joy tersenyum dan berhambur memeluk umi Mariya.


***


Suara ijab qobul menggema di seluruh ruangan. ucapan sah menjadikan saksi dimana pengantin sudah halal.

__ADS_1


Para tamu mengucapkan selamat pada pasangan mempelai, memang tidak banyak yang hadir, yang hadir hanyalah keluarga dekat. Di atas meja sudah tertata bermacam-macam hidangan, semua tamu yang hadir menikmati bermacam hidangan yang di sajikan. Keluarga Emily dan juga ayah dan mama Arya juga menghadiri acara tersebut, tak lupa keluarga umi Mariya, sedangkan adik dokter Williams juga menghadiri acara pernikahan ini. Ada ustadz Jailani dan ustadzah Aini mereka yang memberikan wejangan.


Selesai acara mereka pada pamit, Emily dan Syarif mengantar keluarganya sampai di depan, sebenarnya Emily masih kangen sama mereka.


"Kenapa kalian keburu pulang sih, aku kan masih kangen". tutur Emily sambil mengantar mereka ke depan.


"Kamu ini kan bisa kapan saja ke rumah ibu, Abang besok sudah mau balik, jadi Abang juga mau di manja sama ibu dan ayah". sarkas Aleando. Sedangkan ibu dan ayah saling terkekeh melihat anak-anaknya yang selalu berebut kasih sayang dari mereka.


"CK! Makanya jangan mikir kerja terus, sekali-kali manjain keluarga itu juga penting". celetuk Emily pada abangnya. Ale melirik sinis. Sedangkan Maira hanya gedek-gedek kepala, tapi kata Emily juga ada benarnya, Aleando memang jarang sekali mengajak Maira jalan-jalan, tapi maira tidak pernah mempermasalahkan karna dia tahu Ale sangat sibuk. Baginya cinta dan kesetiaan Ale adalah kebahagiaannya, karna Aleando bersedia menerima segala kekurangannya. Ya,Maira bukanlah wanita sempurna karna dia tidak bisa memberikan Aleando keturunan, Maira mandul. Sempat Maira menyuruh Ale untuk menikah lagi tapi Ale tidak mau, baginya Maira adalah bidadari yang Tuhan kirim untuknya, dan begitu banyak perjuangan yang Ale tempuh untuk mendapatkan bidadari itu, dia hanya menginginkan Maira yang menjadi bidadari surganya. meskipun Allah tidak menitipkan di rahim maira tapi Allah memberikan banyak anak-anak untuknya, yaitu dengan merawat anak-anak yatim piatu, maka dari itu Aleando bekerja keras untuk anak-anak adopsinya. Kasih sayang Ale dan Maira juga sangat tulus untuk mereka, karna mereka juga adalah anugera terindah dalam kehidupan mereka.


"Sudah-sudah, kalian ini sudah berkeluarga kok masih kayak anak kecil!". ibu melerai, Syarif berbisik pada Emily.


"Mil, kita pulang dulu ya!". Pamit ibu dan ayah Emily. Emily memeluk mereka.


"Hati-hati Bu, yah!". dan berganti memeluk Maira.


"Mbak juga hati-hati ya!". Maira mengangguk, "Assalamualaikum!". salam Maira. Aleando pamit pada Syarif.


"Waalaikum salam". jawab Syarif dan Emily serempak. Mereka pun masuk ke dalam mobil Aleando. Emily menatap dengan nanar kepergian keluarganya dimana mereka adalah orang-orang yang dia sayangi.


"Kenapa tumben kalian datang kesini?". tanya seorang wanita yang usianya hampir setengah abad tapi paras kecantikannya masih terpancar seperti baru berusia 30 tahunan. Dua orang yang duduk di depannya saling menatap. mereka adalah sepasang kekasih.

__ADS_1


"Saya kesini ingin meminta restu dari Tante". jawab dari lelaki tampan. Wanita itu tersenyum kecut.


"Kalian mau menikah?". sarkas wanita itu. Sepasang kekasih itu mengangguk bersama. "Tolong restui kami ma!". jawab sang wanita itu dengan memohon. Wanita paruh baya itu menarik nafas dalam.


"Kalian berbeda keyakinan". sangga wanita itu.


"Aku rela pinda keyakinan Tante, asal Tante merestui kita". Jawab tenang sang lelaki.


"Lakukanlah, Meski aku bukan orang yang taat. bahkan selalu melakukan kemungkaran, aku tetap ingin anakku satu-satunya menikah dengan seorang muslim". lirihnya. Lelaki itu menatap sang kekasih sejenak, dan beralih menatap ibu dari wanita itu.


"Baiklah Tante, saya akan melakukannya". mata sang kekasih terbelalak tak menyangka ketulusan lelaki itu sampai bisa harus merelakan berpinda keyakinan.


"Ma, tapi bukankah ini sebuah paksaan? seseorang yang akan berpinda agama itu harus dari keinginannya sendiri". tukas sang wanita. Dia sadar dia tidak mau memaksakan seseorang untuk mengikuti keyakinannya. Sang ibu hanya diam tidak menjawab. Tapi pria itu meyakinkan jika dia berpinda itu atas dasar keinginannya dan dari hatinya sendiri.


"Jujur, dulu aku sangat membenci agama ini, tapi setelah banyak hal yang ku lalui aku yakin mungkin ini lah agama terbaik, aku akan menemui pak ustadz besok sebelum kita ke Kanada". lelaki itu meyakinkan sang kekasih.


Setelah acara selesai, Ibu dan dokter Williams bersiap-siap untuk pinda ke apartemen.


"Mas, apa gak sebaiknya kita pinda besok aja?". papar ibu pada dokter Williams saat di kamar. Dokter Williams mendekati ibu. Jujur jantung ibu serasa berdetak lebih kencang, meski sekarang mereka sudah halal tapi ibu masih malu pada dokter Williams, dokter Williams memegang tangan ibu. Sentuhan ini seakan memberikan kenyamanan yang sangat lama sekali dia rindukan.


"Ais, kita bisa kesini setiap hari, aku tahu ini pasti berat untukmu, aku tidak akan pernah memisahkan kalian, kalian juga bagian dalam hidupku". jelas dokter Williams. ibu mengangguk. Dokter Williams tersenyum, dia tidak pernah menyangka akan takdirnya saat ini. Inilah takdir tuhan dengan doa dan berikhtiar ternyata dia di satukan dengan Aisyah di saat usia mereka yang sudah kepala 5. Tapi meski usianya sudah kepala 5 paras mereka masih seperti berusia 40 tahun. Apalagi dokter Williams ketampanan dan ke gagahannya masih bisa menghipnotis kaum wanita yang di luar sana.

__ADS_1


__ADS_2