
Syarif meletakkan ponselnya di atas nakas, barusan dia bertukar pesan dengan arya, terdengar suara adzan ashar di masjid, Syarif melihat emily Masi terlelap, dia tidak tega membangunkan Emily, dia beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi guna untuk membersikan diri, seusai mandi Syarif keluar kamar mandi dan memakai baju kokoh dia hendak pergi ke masjid, tapi dia teringat jika dia harus membimbing Emily bacaan-bacaan sholat, Syarif mengurungkan niatnya di ambilnya Al Qur'an di tas Emily, karna Syarif tahu kalau Emily selalu membawa Al Qur'an di tasnya, di buka mussaf tersebut dan dia membaca surat Al ashr, di lanjutkan dengan surat Al insyirah, sesusai membaca Syarif mengembalikan Al Qur'an di tas Emily, di lihatnya jam di dinding menunjukkan pukul 4 sore Syarif membangunkan Emily, Emily yang merasa ada yang menciumnya dia pun terbangun dan benar saja dia melihat Syarif yang duduk dengan senyuman manis untuknya, "bangun sayang, uda sore, kamu mandi dulu dan kita sholat ashar", Emily mengerjap dia teringat jika dia belum sholat, "jam berapa mas?", emily bangun dari tidurnya dia melihat jam di dinding belum sempat Syarif menjawab pertanyaannya dia bergegas menuju kamar mandi, "Astagfirullah mas, Uda jam 4 kenapa tidak bangunin dari tadi kita kan belum sholat ashar", gerutu Emily di dalam kamar mandi, "mas gak tega lihat kamu tidurnya nyenyak si,", dan tidak butuh waktu lama Emily sudah keluar kamar mandi dia bergegas mengambil mukena dan menggelar sajadah untuk dirinya dan Syarif, Syarif yang melihat Emily tersenyum dan menuju kamar mandi mengambil wudlu, tidak selang lama Syarif keluar dari kamar mandi dia melangkah menuju sajadah yang sudah di gelar Emily untuknya. seperti biasa Syarif membimbing Emily tiap bacaan sholat dia lantunkan dengan lambat agar Emily dapat mengikuti bacaan tersebut.
***
Matahari menyinarkan sinarnya ke pradaban di bumi ini, memberi cahaya untuk setiap manusia agar memulai aktivitasnya, burung pun tak kala mereka berkicau dengan merdu seakan menjadi alarm pagi telah datang. Dua sejoli sedang berlari riang di antara kerumunan orang yang berolaga mereka menyusuri komplek perumahan, dan menuju gerbang utama perumahan tersebut ada sebuah taman yang asri, "Mas duduk dulu, aku capek", Emily duduk di atas rerumputan hijau, Syarif menyodorkan botol minum untuk Emily, Emily dengan sergap meminum air tersebut sampai setengah botol, Syarif duduk di sebelah Emily, dia mengambil handuk yang di sampirkan di leher dan mengusap dengan lembut keringat Emily, Emily merasa malu dan wajahnya seakan layaknya kepiting rebus karna banyak mudah mudi yang ada di taman itu memperhatikan mereka, "Mas, aku malu", lirih Emily, Syarif yang melihat wajah Emily tambah gemas, Syarif menarik Emily di pangkuannya melihat Emily wajah Emily Syarif makin senang menggoda Emily, karna wajah Emily seperti tomat merah yang mereka. "kenapa malu, kita itu sudah halal lho sayang, ini itu termasuk ibadah", lirih Syarif di telingah emliy, "iya mas, tapi lihat semua memandang kita tu", ketus Emily, "biarin", Syarif memper erat pelukannya.
__ADS_1
Arya bersenandung riya dia begitu tidak sabar menungguh malam, dia mencoba belajar menyiapkan kata-kata romantis untuk Najwa, "Najwa, dari dulu kakak itu sayang sama kamu, apa kamu juga sayang kakak?", Arya bermonolog sendiri, "aaah...kok gitu si, coba lagi Arya, kamu pasti bisa", Arya terus menyemangati dirinya, "Najwa, sebenarnya dari dulu kakak itu mencintaimu, dan apa kamu juga punya perasaan sepertiku?", terukir senyum merekah di wajah Arya. tanpa di sadari mama dan ayahnya mengintip di balik pintu,awalnya mama Arya ingin memanggil Arya untuk sarapan, tapi saat membuka pintu mama melihat Arya tersenyum-senyum sendiri dan beberapa kali bermonolog sendiri, awalnya mama Arya ingin menyamperin Arya tapi niat itu di urungkan karna melihat Arya yang sedang belajar kata untuk mengungkapkan perasaannya pada Najwa, kebetulan ayah Arya hendak turun ke lantai bawah melihat mama yang mengintip di pintu dia pun menegur mama Arya, "ma, ngapain kok intap intip, ada apa?", sontak mama Arya kaget dengan kedatangan suaminya, "ih, ayah ngagetin aja, lihat anak kita dia lagi belajar mengungkapkan perasaannya untuk Najwa", antusias mama, di balas dengusan oleh ayah, "harusnya kalau dia beneran suka ya gak usah belajar segala, masak kala sama ayahnya", celetuk ayah Arya meninggalkan mama yang masi mengintip Arya, "lho mas, mas dulu kan gak perna ngungkapin perasaan mas pada aku", mama menyusul ayah turun ke bawah, "Emang kamu lupa ma?", Mama terus mengingat - ingat, "ya gak lupa ya, tapi beneran mas gak pernah tu ngatain cinta sama aku", gerutu mama terus mengekor pada suaminya, "Lha terus saat aku melamarmu pada mbak Aisyah kamu lupa?", ucap ayah sambil duduk di kursi di ruang makan, "mas lamar aja, Tanpa mengungkapkan perasaan mas padaku", dengus mama Arya, "karna aku takut kamu tidak suka padaku, makanya aku langsung melamarmu dan menjadikanmu sebagai bidadariku", ungkap lembut ayah, mendengar pujian itu hati mama luluh dan wajahnya merah merona. dulu ayah Arya dan bapak Syarif mereka bersahabat sejak masuk pesantren, ketika Aisyah ibu Syarif dan Fatimah mama Arya pindah ke pondok karna panti asuhan ditutup mereka berdua melihat Aisyah dan Fatimah seperti kakak adik, awalnya bapak Syarif yang melamar Aisyah ibu Syarif pada pak kiyai, dan mereka menikah, setelah itu ayah Arya melamar Fatimah dan mereka menikah, memang jarak umur ayah dan mama Arya sangat jauh selisih 10 tahun, ayah arya dan mamanya menikah ketika Fatimah lulus kuliah, tapi setelah menikah mereka di karuniai seorang anak yaitu Arya, berbeda dengan ibu dan bapak Syarif setelah lama menikah baru di karuniai seorang anak.
"pagi,,, ayah, mama", sapa Arya menghampiri ayah dan mamanya di meja makan, "Pagi sayang", jawab ayah dan mama kompak, "gimana apa kamu sudah beli cincin untuk Najwa?", tanya ayah pada Arya, "Belum yah, nanti Arya pergi ke mall sama mama", jelas Arya di balas anggukan dari mama, "Oh, good luck,jangan lupa beli kado untuk Syarif juga, waktu Syarif menikah kita kan juga gak hadir di pernikahannya ma", seru ayah sambil menyuap nasi yang ada di piring, "iya ayah", jawab mama singkat mereka melanjutkan sarapan dengan tenang.
ceklek..
__ADS_1
Pintu terbuka dan di depan pintu ada seorang pemuda yang sangat tampan berdiri, pemuda itu tersenyum pada ibu, "Nak Joy, mau jumput Najwa ya?", tanya ibu karna melihat Najwa yang sudah rapi, "iya buk", jawab Joy mengangguk, "ayo masuk, Najwa lagi sarapan", ajak ibu, "makasi bu, Joy tungguh Najwa di sini aja", tolak Joy halus, ibu tersenyum lalu beranjak meninggalkan Joy, tapi langkah ibu di tahan oleh Joy, "Bu,", ibu melihat Joy tersenyum, "ada apa?", tanya ibu lembut, "apa ibu tidak keberatan karna Najwa mungkin nanti pulangnya agak sore, kita mau beli buku untuk anak-anak supaya bisa membaca Al Qur'an, dan Najwa nanti juga akan mengajari mereka mengaji Bu",lirih Joy, ibu tersenyum "Jika itu untuk kebaikan ibu senang nak, kalian itu orang-orang baik yang mau mengamalkan ilmu dan membantu orang-orang yang membutuhkan, ibu juga yakin kamu bisa menjaga Najwa", ibu beranjak memanggil Najwa, tidak lama kemudian Najwa keluar di susul ibu, mereka berdua pamit pada ibu.
Di dalam mobil hening, Joy yang menahan dari tadi tidak bicara akhirnya kandas pertahanannya, "Aku tadi kan bilang kita sarapan di jalan_", belum selesai bicara Najwa menyaut, "Ya mas Najwa ingat", tatapan Najwa mengarah ke luar, Joy yang lagi menyetir tambah kesal karna merasa tidak di hargai, "Tapi kata ibu kamu sudah sarapan", Najwa menarik nafas dalam dan melihat ke ara Joy, "AKU TADI CUMA MAKAN ROTI".
Ciiiiiiiitttttt...
__ADS_1