
Di dalam mobil hening, Joy yang menahan dari tadi tidak bicara akhirnya kandas pertahanannya, "Aku tadi kan bilang kita sarapan di jalan_", belum selesai bicara Najwa menyaut, "Ya mas Najwa ingat", tatapan Najwa mengarah ke luar, Joy yang lagi menyetir tambah kesal karna merasa tidak di hargai, "Tapi kata ibu kamu sudah sarapan", Najwa menarik nafas dalam dan melihat ke ara Joy, "AKU TADI CUMA MAKAN ROTI".
Ciiiiiiiitttttt...
__ADS_1
Joy ngerim mendadak, karna tidak menyangka Najwa membentaknya, "Astagfirullah hal adzim", Najwa hampir tersungkur, Joy menghela nafas dalam, Najwa pun tidak enak hati karna tadi dia spontan mengungkapkan kata dengan nada tinggi, sekarang mereka berada di depan mini market Joy turun dan membelikan minum untuk Najwa. hening itulah gambaran yang ada di dalam mobil, Joy dan Najwa sibuk dengan pikirannya masing-masing, Najwa yang takut karna dari tadi Joy hanya diam, 'apa mungkin mas Joy marah padaku, aduh,,, gimana ini' pikir najwa, sedangkan pikiran Joy Mala lebih takut, takut karna membuat Najwa marah dan dia telah membuat kesalahan dengan mengerem mendadak dan tanpa sadar hampir mencelakai najwa, Joy takut jika Najwa tidak mau lagi diantar olehnya perasaan itu entah sejak kapan tumbuh Joy bahkan ingin selalu di dekat Najwa, Joy pun sadar jika Najwa tidak mungkin mencintainya apalagi Joy tahu kalau Najwa sudah di jodohkan dengan Arya, mobil melaju dengan kecepatan sedang, Joy memarkirkan mobilnya di depan rumah makan masakan Padang, karna Joy tahu Najwa suka dengan masakan Padang meski ibu dan bapaknya orang Jawa, "Ayo kita turun, kamu pasti sudah lapar", ajak Joy, terukir senyum di bibir Najwa, "Alhamdulillah", Joy mengernyit mendengar Najwa bersyukur, 'Mungkin karna dia lapar mankanya dia membentakku tadi', pikir Joy yang akan turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Najwa, Najwa pun turun dia mensejajarkan langkahnya dengan Joy karna tidak mau Joy marah lagi, para pengunjung kedai dibuat heran dengan kedatangan Joy dan Najwa tidak biasanya orang kaya yang mobilnya saja mobil sport mau makan di kedai kecil seperti ini, apalagi najwa dan Joy layaknya pasangan yang serasi, Joy mengajak Najwa duduk di bangku pojok di sebelah jendela, Najwa di buat takjub dengan pemandangan di luar yang memperlihatkan perkebunan stroberi dan melon, juga tanaman bermacam-macam bunga, "Masya Allah mas, indah sekali", di belakang kedai makan ini memang ada lahan yang luasnya 1 hektar dan lahan itu di manfaatkan untuk berkebun, menanam stoberi, dan bermacam-macam buah kadang juga sayuran dan di sampingnya ada juga ada tanaman hias, bermacam-macam bunga, biasanya tanaman/bunga-bunga itu di beli oleh seorang dari luar kota ataupun di daerah tersebut. "kamu suka?", Najwa mengangguk apalagi melihat stroberi mata najwa berbinar andai dia bisa memetik langsung buah itu dan langsung dimakan, 'heemmm,,, andai aku bisa memetiknya langsung, duh,, bikin ngiler,,' angan najwa, Joy yang memperhatikan Najwa menyimpan senyum, "Aku pesan dulu, kamu mau pesan apa?", Najwa berpikir sejenak, "samakan saja mas", mata Najwa masih tertuju keluar memperhatikan bunga-bunga mawar yang bersemi di pekarangan tersebut. Joy pergi memesan makanan tersebut, tidak lama kemudian Joy membawa nampan yang berisi nasi yang di campur dengan sayur dan di sampingnya ada rendang daging ala Padang 2 porsi dan 2 teh hangat, Joy menaruh nampan tersebut di meja, Najwa yang melihat Joy menata makanan di meja tidak menyangkah saja Joy yang kelihatan angkuh mau melakukan hal demikian, "jangan bengong, entar Mala suka sama gue", celetuk Joy, Najwa membeo mendengar ungkapan Absur Joy, "ayo cepat di makan", ajak Joy, Najwa tersentak dia pun gelagapan melihat makanan kesukaannya tidak butuh waktu lama langsung di lahap, lagi-lagi Joy tersenyum melihat Najwa, "pelan-pelan", Najwa pun berasa malu dia melambatkan suapannya, tidak butu waktu lama makanan Najwa sudah habis, "Alhamdulillah".
Di mall Arya dan mamanya disibukkan dengan memilih hadia yang cocok untuk Najwa, Arya melihat liontin yang elegan, "mbak coba lihat yang ini", tunjuk Arya ke arah liontin tersebut, penjaga toko mengambilkan liontin tersebut pada Arya, "Mbak apa liontin ini cuma satu?", penjaga itu mengangguk, mama Arya menghampiri Arya, "apa gak sebaiknya kamu belikan cincin permata saja Ar?", usul mama, tapi Arya Masi kekeh dengan pendiriannya, "Gak ma, kita belum tunangan, lebih baik liontin ini aja, gimana ma, bagus gak?", mama Arya mengangguk, "ya sudah kalau itu pilihanmu", mama beranjak mencari hadia yang cocok untuk Syarif dan istrinya, "Mbak bungkus liontin ini", Arya memberikan liontin itu pada penjaga toko, "baik tuan", tidak butuh waktu lama penjaga toko itu memberikan paper bag pada Arya, Arya menghampiri mamanya yang sibuk mencari gelang untuk istri Syarif.
__ADS_1
Di rumah yang begitu luas seorang paruh baya sedang main golf bersama teman sebayanya, 1 pukulan masuk, "apa kamu yakin akan melamar Aisyah?", mereka menuju kursi di area taman dan duduk bersama, seorang ART membawakan minuman untuk kedua lelaki tersebut, "Aku yakin, tapi dengan perlahan aku akan mendekati Aisyah", ungkap laki-laki paru baya itu menyesap teh yang ada di meja, "apa kamu yakin anak-anaknya akan setuju?", lelaki itu hendak menjawab, "Kalian disini, aku mencari kemana-mana", Seorang wanita anggung berpakaian syar'i menghampiri dua lelaki tersebut, "Mariya, apa sebegitu lengketnya kamu sampai ku pinjam suamimu sebentar saja sudah kehilangan?" celetuk dokter Williams, "Kamu kan tidak izin dulu pada ku Will", sanggah Mariya, Mariya duduk di samping Alfredo, "Aku kangen sama Najwa dan Aisya sayang, sudah lama dia gak main kesini", guman mariya yang di tanggapi senyuman oleh suaminya, "bukan kamu saja yang kangen, tapi lihat tu, orang itu mungkin lebih kangen sama ibunya Najwa", gurau Alfredo, mariya dan Alfredo tertawa bersama sedangkan dokter Williams wajahnya merah padam mendengar ungkapan Alfredo.
Joy dan Najwa sampai di mall mereka langsung menuju ke toko buku yang ada di mall toko buku muslim, Najwa sudah memesan pada pemilik toko kebetulan langganan najwa untuk membungkus buku metode membaca Alquran jilid 1 dulu sebanyak 25, Najwa pun memilih buku tentang kisah tauladan dari istri-istri nabi, selesai memilih buku Najwa membawa ke kasir untuk di bungkus dan membayarnya, "berapa mbak semuanya?", penjaga kasir tersebut bilang pada Najwa kalau sudah di bayar oleh Joy yang dikira suami Najwa, "sudah dibayar sama suaminya mbak", Najwa tercengan, merasa belum punya suami Najwa pun mengira kasir itu salah orang, "mbak mungkin salah orang kali, coba mbak cek dulu", kasir itu Mala di buat bingung oleh Najwa, Joy yang mendengar itu menghampiri Najwa, "ayo pergi, mbak sudah di total semua kan?", tanya Joy mengambil paper bag berisi buku, kasir itu mengangguk dan mengembalikan kartu ATM pada Joy, "terimah kasih", ucap kasir tersebut, Joy melangkah keluar dari tokoh tersebut, Najwa yang masih tercengang di tempat dia di sadarkan penjaga tokoh, "mbak suaminya Uda keluar tu", Najwa reflek, "iya makasih mbak", Najwa pun melangkah keluar tokoh buku dan menyusul Joy yang berjalan duluan. Tanpa sadar sepasang mata memerhatikan mereka berdua, sorot mata itu menunjukkan kekecewaan dan kesedihan.
__ADS_1