
Arya bersiap berangkat kerja bersama dengan Najwa, Najwa sebenarnya ingin cuti, tapi hari ini anak didiknya ada kompetisi cerdas cermat yang di adakan oleh kampus Najwa dulu, Najwa sudah mendaftarkan mereka dan dia harus mengantarnya, bagai manapun mereka adalah tanggung jawab Najwa, meski Andre dan teman-temannya bisa menghendel tapi Najwa memilih menemani mereka dulu, baru dia menyusul Emily ke rumah sakit. "Kak Arya pergi bersama siapa nanti?". tanya Najwa saat di mobil, "sendiri, Abi mengurus di bengkel, dan di bengkel juga rame". jawab Arya, Najwa menghela nafas. pandangannya berarah ke depan. "perjalanannya kan hanya 2 jam, kamu gak usah khawatir Honney". kata Arya memegang tangan Najwa. "Tapi jalanan di sana kan sepi kak". lirih Najwa. "kakak janji gak akan pulang malam-malam". Arya berusaha menenangkan hati Najwa, dia tahu Najwa sangat khawatir. Najwa hanya diam, berat baginya melepas Arya pulang pergi keluar kota sendiri. "kamu mau turun langsung di kampus atau di markas?". tanya Arya mengalihkan. "turun di markas saja kak, anak-anak menungguhku". jawab Najwa. "okey, aku antar ke markas sekarang". Arya melajukan mobilnya menuju markas, tidak butuh waktu lama mereka sudah sampai di gang menuju markas, Arya menepikan mobilnya. "Kakak sebaiknya langsung berangkat saja, aku takut kak Arya telat". seru Najwa. Arya melihat jam di tangannya, benar kata Najwa sepertinya dia harus segera berangkat. "hati-hati sayang". Najwa mengangguk. "kak Arya juga, assalamualaikum". Najwa berpamitan pada Arya, tidak lupa dia mencium punggung tangan Arya. "nanti jika ke rumah sakit pakai taksi online atau minta antar Andre dan teman-temannya ya Honney, waalaikum salam". Najwa mengangguk. dia membuka pintu mobil dan keluar dari mobil Arya. Arya melajukan mobilnya di lihatnya waktu sudah siang dia harus segera sampai tepat waktu karna ini adalah hari pertamanya dia bekerja di sorum motor milik teman Devan. Najwa berjalan menuju markas, sampai di markas Najwa sudah di tungguh oleh 5 orang anak didiknya yang akan mengikuti lomba cerdas cermat. mereka di temani Andre dan teman-temannya. "Assalamualaikum". salam Najwa. "waalaikum salam kak". jawab anak-anak dan Andre. "kalian sudah siap?". tanya Najwa, anak-anak itu mengangguk. "baiklah kita berdoa dulu supaya di beri kelancaran". ajak Najwa. "bismillahir rahmaanirrahim, Rabbisyrahli shadri wayassyirlo amrI wahlul uqdatam mil-lisani yafqahu qauli. amin". Andre sudah menyiapkan mobil untuk mereka, "sudah siang kak sebaiknya kita segera berangkat". ajak Andre, Najwa mengangguk. anak-anak masuk ke mobil di bantu Andre, Najwa duduk di samping Andre sedangkan anak-anak di jok penumpang di belakang. sedangkan mobil satunya berisi teman-teman andre yang akan menemani, sebelum berangkat mereka melafalkan doa, "Subhaanal-ladzii sakh-khoro lanaa haadzaa wa maa kunnaa lahu muqriniin. Wa innaa ilaa robbinaa lamunqolibuun. amin". Andre melajukan mobil dengan kecepatan sedang di ikuti mobil yang dikendarai temannya di belakang.
__ADS_1
Di bandara seorang wanita paruh baya yang memakai pakaian tertutup turun dari jet pribadi bersama wanita seumurannya disampingnya yang berwajah kebule-bulean. mereka berdua di jumput beberapa orang lelaki berseragam hitam yang membawa mobil berwarna hitam. mereka berdua masuk ke mobil, mobil tersebut dengan cepat meninggalkan area bandara menuju suatu tempat.
__ADS_1
Emily dan Syarif sampai di rumah sakit ditemani ibu, sebenarnya Syarif ingin memberi tahu keluarga Emily tentang penyakitnya, tapi Emily melarang Syarif mengatakan pada ayah dan ibunya, karna Emily tidak ingin ayah dan ibunya sedih jika dia telah mengidap penyakit, "Sayang, apa tidak sebaiknya kita bilang pada ayah dan ibu?". bujuk Syarif sudah beberapa kali pada Emily. Emily menggeleng. "Mas, jangan bilang pada ayah dan ibu, aku gak mau mereka sedih". lirih Emily. "tapi kamu janji akan melawan penyakitmu kan sayang?". Emily memandang suaminya dengan sendu, "insya Allah mas, aku akan berusaha semampuku". Syarif memeluk Emily, "sayang, aku sangat mencintaimu". Emily sebisa mungkin menahan tangisnya. ibu yang melihat luruh. ternyata ujian cinta anaknya sangatlah berat. "dulu bapakmu di uji dengan kesabaran menungguh nak, sekarang kamu di uji dengan sabar menghadapi cobaan penyakit di rahim istrimu, semoga kalian dapat melampaui semua ini dengan keikhlasan". Syarif dan Emily sudah sampai di rumah sakit 1 jam yang lalu, Syarif sudah mengurus semua administrasi, dan Emily sudah di cek kondisinya, lalu dokter menyuruhnya untuk istirahat di kamar dulu, karna operasinya akan di lakukan jam 12 siang, menungguh teman dokter Sofia datang untuk menemani dokter Sofia saat operasi nanti. "kamu istirahat dulu, ingat kamu harus sehat supaya nanti operasinya lancar". kata Syarif membetulkan selimut untuk menutupi badan emily. Emily mengangguk, dia menyandarkan kepalanya di bantal, dan tersenyum manis pada Syarif. "baik mas". Syarif mengecup kening Emily. Emily terpejam.kemudian Syarif duduk di samping Emily. sedangkan ibu masi fokus melihat anak dan mantunya. dia duduk di sofa. Syarif sengaja memilih kamar VIP, sebenarnya Joy menyuruh Syarif pinda ke kamar VVIP yang terletak di sebelah ruangan Joy, tapi Syarif menolak, dia memilih kamar VIP saja sudah cukup layak untuk Emily.
__ADS_1
Getar ponsel ibu mengagetkannya. ibu merogo ponselnya yang berada di saku gamisnya, di lihat sebuah pesan masuk. 'aku sudah sampai, nanti sekitar 1 jam lagi aku dan Caro akan ke rumah sakit'. "Alhamdulillah, terimah kasih banyak Mariya" ibu mengirim hasil ketikannya. di lihatnya pesan ibu sepertinya sudah di baca, 'kalian adalah keluargaku, kamu gak perlu berterimah kasih Ais'. balas pesan dari Mariya. 'Aku selalu merepotkan mu, maaf'. balas ibu. 'semoga Allah memberikan kemudahan'. ibu membaca pesan dari Mariya. dia pun membalas. "amin". ibu bersyukur karna dokter Caro bersedia datang kesini. di lihatnya Syarif masi duduk di samping Emily, ibu menghampiri Syarif, dia akan memberi tahu jika dokter Caro akan membantu proses operasinya Emily nanti. "nak, tadi umi bilang sama ibuk katanya dia akan datang kesini satu jam lagi bersama dokter Caroline". Syarif menatap ibunya, seolah tidak percaya yang dia dengar, Syarif tahu kalau dokter Caro jadwalnya sangat padat, dan Joy bilang dokter Caro tidak bisa membantu sepenuhnya, hingga dia menyuruh asistennya yaitu dokter Sofia untuk menggantikannya. "ibu serius?". tekan Syarif lagi, ibu mengangguk. "Alhamdulillah buk". Syarif memeluk ibunya. Emily mengerjap mendengar suara Syarif. dia melihat Syarif dan ibu berpelukan. "Mas,". lirihnya, Syarif melihat mendengar panggilan Emily, dia langsung menghampiri dan memeluknya, "ada apa mas?". tanya Emily. "Sayang dokter Caro nanti yang akan membantu mu operasi". Emily mengernyit. "tapi katanya dokter Caro tidak bisa kesini?". Syarif melerai pelukannya. "ini karna doa kita sayang, Allah mengirim dokter Caro untuk membantumu_". Syarif menjeda katanya, "mudah-mudahan nanti operasinya berjalan lancar". doa tulus Syarif. "amin". ibu dan Emily serentak mengamini.
__ADS_1