
Seni adalah gambaran imajinasi yang terpikir oleh para seniman, mereka akan menyalurkan imajinasinya berupa sebuah karya, semakin indah sebuah karya maka akan semakin berharga.
Sanggar Tunggal, itulah tulisan yang terpampang dalam plang di atas pendopo. Anak-anak sudah berkumpul, begitu juga para pengunjung yang ingin melihat galery sudah padat. Ya, hari ini adalah hari pembukaan sanggar dan galery milik ayah Emily. semua keluarga dekat dan teman-teman sesama pengrajin pada berkumpul, mereka juga berkenan akan menjadi pengajar sukarelawan untuk anak-anak yang kurang mampu. Bagi Emily dan Syarif tidaklah susah untuk mencari anak yang ingin mengasah bakat yang terpendam. Emily dan Ale bersepakat menggratiskan anak-anak yang kurang mampu. Emily membagi 2 kelompok, 1 kelompok bagi anak-anak yang kurang mampu, dan kelompok 1 nya lagi bagi kelompok yang menengah ke atas. Ale dan Emily juga mengundang anak yatim, sengaja Ale membawa anak-anak angkatnya kemari, begitu juga Emily mengundang anak-anak pondok, Syarif juga mengajak anak-anak di markas, pembukaan hari ini begitu meriah. para pengunjung segera berhambur memasuki galery ketika ayah menggunting pita di depan pintu. Anak-anak yang sudah mendaftar lumayan banyak. mereka akan di bimbing langsung oleh ayah dan teman-teman sekomunitasnya. Seusai acara para keluarga berkumpul di rumah.
"Mbak,, mbak gak masuk?". tanya Emily melihat maira di teras menemani anak-anak angkatnya.
"Bentar lagi, mbak akan temani mereka bermain dulu". tolak maira halus, memang maira selalu menjaga anak-anak angkatnya. Maira dan Ale mengangkat anak-anak yatim, mereka selalu menyayanginya dan menganggap mereka seperti anak kandung.
"Baiklah kalau begitu aku masuk dulu". emily masuk meninggalkan maira dan anak-anak. Sedangkan Arya dan Syarif duduk di taman samping rumah, mereka membahas tentang pekerjaan. Bengkel mereka sekarang sedang melembung, bahkan sudah mempunyai anak cabang di luar kota, tak ayal Arya sering keluar kota untuk menilik bengkelnya. Karna Syarif juga sudah sibuk dengan bisnis yang dia kembangkan dengan Joy, Syarif lah yang mengelola, karna Joy di tugaskan oleh Jacob untuk mengurus peternakan Jacob di Kanada. "besok aku ada kunjungan di luar kota". kata Arya.
"Kamu akan pergi sendiri atau dengan Devan?". tanya Syarif. Arya menggeleng.
"Besok aku pergi sendiri". jawab Arya.
"Sebaiknya kamu suruh Abi saja yang mewakili!". saran Syarif.
"Abi aku suruh lebih fokus menghendel disini, karna bagaimanapun jika Najwa melahirkan aku akan cuti". papar Arya. Mengingat usia kandungan Najwa yang sudah memasuki usia 8 bulan, Arya menyiapkan segala sesuatu baik dari pekerjaannya maupun yang lain.
"Ya sudah, kalau itu keputusanmu". papar Syarif, dia sadar dia juga tidak bisa membantu banyak, semenjak Joy pergi ke Kanada Syarif dan Emily menyerahkan semua aset bengkel untuk Najwa dan Arya. Syarif lebih fokus pada perkebunan dan usaha yang dia rintis bersama Joy. Syarif berpamitan pada Arya untuk ke dalam. Sedangkan Arya masih duduk di kursi, melihat Najwa yang sesekali tertawa karna bercengkrama dengan anak didiknya di markas, Najwa begitu riang bersama anak didiknya, mereka bertemu kangen, semenjak usia hamil ke 7 bulan Najwa cuti mengajar baik di pondok dan di markas. Arya berjalan menghampiri Najwa dan bergabung dengan mereka.
"Eh kak Arya". ucap salah satu gadis yang berumur 10tahun. sontak Najwa berbalik dan melihat Arya ada di depannya.
"Kak Arya, ngagetin aku aja sih". celetuk Najwa. Arya terkekeh.
"Kalian cerita apaan, kok kayaknya seru banget?". tanya Arya mengarah pada anak-anak.
"Kita cerita banyak sekali". celetuk anak-anak bersama. Arya tersenyum dan mengambil beberapa lembar uang untuk di bagikan pada anak-anak.
"Ini ada Rizki untuk kalian, karna kalian telah membuat kak Najwa tersenyum". kata Arya yang di sambut ceria para anak-anak.
__ADS_1
"Terima kasih kak Arya". Arya mengangguk. Najwa mendekati berlirih.
"Terima kasih banyak kak". senyum Arya merekah melihat anak-anak yang bergembira karna mendapat uang darinya.
"Sedikit Rizki untuk kita bagi, aku bersyukur karna dengan Rizki itu mereka begitu bahagia". tutur Arya.
"begitu juga denganku yang selalu bersyukur karna mendapat imam yang baik sepertimu kak". kata Najwa tulus pada Arya. Arya memeluk Najwa, mereka pun melangkah untuk berpamitan.
Ale dan mairah bergantian membersikan beberapa sisa piring bekas tamu, semua tugas di lakukan bersama, jadi mereka tidak membayar seseorang untuk beres-beres dan mencuci piring.
***
Kicau burung mengiringi sang mentari untuk kembali menampakkan rupanya di muka bumi. Sinarnya memberikan sejumlah manusia nutrisi untuk penyemangat hati, demi tujuan yang menggerayangi dalam jati diri.
Hari ini adalah kiasan yang lebih baik di banding hari kemarin. Itulah sang penyemangat untuk gapai sebuah mimpi. Semilir angin menyibak gorden yang tergantung. menggiring tapak wanita yang teduh untuk memejamkan mata, mensyukuri setiap pemberian Tuhan yang agung. Seulas senyum terukir dalam bibir di dekaplah sang wanita dalam
dekapan tubuh yang suci.
"menikmati nikmat Tuhan kak". jawab sang wanita. tubuhnya semakin di dekap.
"Kamu tahu, hal yang membuatku bahagia?". wanita itu mendongak ke arah sang pujangga.
"Apa kak?". lirihnya.
"Melihatmu tersenyum bahagia". wanita itu bersemu merah memeluk erat sang pujangga.
"Nanti rencananya kakak ada kunjungan ke bengkel cabang Honney". lirihnya sedih.
"Apa kak Arya menginap?".
__ADS_1
"Nanti setelah selesai aku langsung pulang".
"Kak Arya sama Devan?". tanya Najwa. Arya menggeleng.
"Kebetulan Devan lagi sibuk, jadi kakak pergi sendiri". Najwa nampak sedih.
"jaga diri baik-baik, anak ayah jangan nakal sama bunda ya!". Lirih Arya mengusap perut Najwa.
"Ayah juga, hati-hati". ucap Najwa meniru gaya anak-anak. Arya tersenyum dan mencubit pipi tembem Najwa yang semakin imut dan berisi.
"EHEM". suara deheman membuyarkan aktifitas Najwa dan Arya. mereka melihat ke sumber suara.
"Eh.. Mama...". kata Arya melerai pelukannya pada Najwa, sedangkan Najwa masih tersipu malu.
"Kalian itu bermesraan nanti lagi, sekarang waktunya sarapan, di tungguh ayah, lagian Arya kamu itu gak usah egois, anak-anakmu itu butuh nutrisi juga". celetuk mama kembali ke ruang makan sambil geleng kepala. ayah yang melihat mama menggerutu lantas bertanya karna penasaran.
"Kenapa ma? dan dimana Arya sama Najwa.
"tu lihat". mata mama mengarahkan pandangan pada Najwa dan Arya yang berjalan menuju meja makan.
"Pagi yah". sapa Arya pada ayahnya.
"pagi nak". ayah memerhatikan Arya yang berpakaian formal.
"Kamu mau kemana?". tanya sang ayah.
"Arya ada kunjungan di luar kota". jawab Arya.
"Kamu itu harusnya minta yang lain aja yang mewakili, kamu tahu Najwa sedang hamil besar". lirih ayah. Arya menarik nafas berat. Najwa melihat Arya tidak ingin Arya merasa berat saat di perjalanan.
__ADS_1
"Najwa gak apa-apa kok pa, lagian kan ada mama di rumah yang jagain Najwa".