
"kamu mau kemana pagi-pagi gini Jen?". tanya Tante Henny meletakkan majalah bacaannya, saat melihat jenny pagi-pagi sudah siap dengan stelan kemeja di padu span mini melewatinya. "ya biasa ma, lagian disini aku kan liburan ya mau happy-happy,". jawab jenny nyengir, melihat tingkah anaknya Tante Henny menghela nafas. "tersera kamu la..", dia kembali membaca majalah bacaannya lagi, jenny menghampiri mamanya. "Mama gak ke salon?", tanya jenny pada mamanya, "Nanti siang". jenny berlalu pergi meninggalkan mamanya. Tante Henny menatap nanar kepergian anak semata wayangnya, "aku harap kamu tidak seperti mama yang suka bergonta ganti pasangan Jen". lirihnya.
Satu Minggu sudah Emily berobat jalan, dan sekarang saatnya dia kontrol. Emily sadar jika dia harus sabar untuk menjalani semua cobaan ini, karna tuhan kelak pasti membalas kesabaran yang dia miliki. "Mas, aku ke rumah sakit sama ibuk aja, mas kan ada meeting". lirih Emily pada Syarif ketika mereka sarapan. "Kamu yakin?". tanya Syarif getir, sebenarnya Syarif ingin menemani Emily saat kontrol,tapi ada meeting penting dengan perusahaan yang akan bekerjasama dengan bengkelnya, sebenarnya Syarif menyuruh Arya saja yang datang tapi CEO tersebut menginginkan Arya dan Syarif datang bersama karna mereka ingin berkenalan langsung dengan Syarif. Syarif bimbang karna bengkel saat ini keuangannya sangat menipis di akibatkan Gerry yang telah memanipulasi keuangan dan dia menghentikan kerja samanya. "iya mas, mas ini juga demi bengkel yang di dirikan alm. bapak, aku di temani ibuk aja, lagian disana juga ada dokter willi jadi mas gak perlu khawatir!". terang Emily. syarif menghela nafas berat. "baiklah, nanti aku akan menyuruh Najwa ke sana selesai dia mengajar". titah Syarif, Emily tersenyum simpul. saat di dapur ibu mendapat telfon dari Mariya dia bilang jika dokter Caro bisa membantu tapi dia sementara ini sedang mengisi seminar di Kanada kemungkinan dokter Caro bisa berkunjung ke Indonesia sekitar 1 bulan ke depan saat dia libur, sekalian dia berlibur ke Bali bersama keluarganya. "Alhamdulillah, terimah kasih banyak Mariya". "kamu jangan khawatir, Joy juga berusaha untuk mencari dokter lain jika dokter Caro tidak bisa". terang Mariya di sebrang. "aku tidak tahu harus membalas ke baikanmu", lirih ibu, terdengar kekehan dari sebrang. "1 hal yang harus kau ingat Ais, bahwa kita keluarga. kamu jangan lagi mengucapkan hal-hal seperti tadi ya!". ibu terharu dengan sahabatnya, "aku beri tahu Syarif dan Emily dulu ya, mereka pasti senang. assalamualaikum". terdengar jawaban salam dan ibu menutup ponselnya seraya mendatangi Syarif dan Emily untuk bergabung sarapan bersama. "kalian sudah selesai makannya?", Emily mengangguk. "ibuk dari mana?", tanya Syarif. "ibuk dapat telfon dari umi Mariya dia bilang dokter Caro bisa ke sini bulan depan". terang ibu, Syarif dan Emily tersenyum mendengar penuturan ibu, "benar kah buk?", tanya Syarif, ibu mengangguk, Syarif tersenyum seraya memeluk Emily, "Alhamdulillah sayang, mudah-mudahan dokter Caro bisa membantu kita". "amin..".
__ADS_1
"Kak, apa meetingnya harus berdua ya?", tanya Najwa ketika di mobil, Arya mengangguk, "aku sudah bicara sama mereka tapi mereka tetap ingin kita harus datang berdua". lirih Arya. "aku sadar aku terlalu percaya sama seseorang sehingga jadi begini, aku terlalu teledor", lanjut Arya sedih. Najwa menatap Arya merasa sedih juga. "Kak Arya gak sepenuhnya salah, dari semua yang terjadi kita buat pelajaran untuk kedepan". Arya mengangguk. "nanti Najwa selesai mengajar akan menemani mbak Amel di rumah sakit". Arya mencium kening Najwa, "terimah kasih Honney". Najwa mengangguk. tidak terasa sudah sampai di gang markas, Arya memarkirkan mobilnya, sudah ada Anak didiknya yang menunggunya untuk jalan bareng menuju markas, Arya ingin membukakan pintu untuk Najwa tapi Najwa melarang, "Najwa pergi dulu kak, assalamualaikum", Najwa mencium punggung tangan Arya dengan takzim. "waalaikum salam, hati-hati ya!". jawab Arya. Najwa pun mengangguk kemudian turun dari mobil menghampiri anak didiknya yang menunggunya, mereka berdua berjalan bersamaan. melihat Najwa yang sudah pergi Arya pun menjalankan mobilnya ke bengkel berjumpa dengan Syarif.
Sebuah mall yang terletak di pertengahan kota menjadikan mall itu sangat ramai pengunjung dan telaknya juga strategis, apalagi ada sebuah restoran yang di desain sangat menarik dan elegan biasanya di pakai untuk acara pernikahan atau ulang tahun, juga acara pertemuan pembisnis besar juga sering menyewa tempat tersebut. di ruang VIP seorang wanita duduk di temani 2 asistennya sedang menungguh seseorang. "Apa kalian sudah bilang jika Syarif harus datang kesini?", tanya wanita itu pada asistennya. "non jenny tenang saja, mereka berdua dalam perjalanan". terang asisten jenny, sebuah senyuman terukir di bibir seksi jenny.
__ADS_1
Ting!!..
pintu lift terbuka Arya dan Syarif berjalan ke luar menuju ruang VIP.
__ADS_1
"selamat siang,, dengan bapak Leon?". Leon tersenyum mengangguk. "Oh, bapak Arya dan bapak Syarif?". Arya mengangguk. "silakan duduk!". titah Leon asisten jenny, "perkenalkan ini nona jenny, dia adalah big bos kami". Leon memperkenalkan jenny. jenny mengulurkan tangannya pada Arya, Arya hanya membalas dengan menangkupkan tangan ke dadanya, "nama saya Arya nona dan ini rekan saya Syarif". jenny pun tersenyum, dia mengalikan pandangannya pada Syarif, kini dia menangkupkan tangannya ke dada, "hallo mas, Masi ingat aku?". Syarif memindai penampilan jenny dia merasa familiar dan benar saja wanita ini adalah wanita yang di tolong bersama dengan Abi. "benar, aku jenny wanita yang mas tolong waktu itu". Syarif hanya mengangguk, Arya melihat pada Syarif, "kalian sudah saling kenal?". syarif menatap Arya, "mas Syarif ini telah menolongku", ungkap jenny,Arya mengangguk mengerti kemudian dia duduk begitu pun dengan Syarif dia tidak menanggapi hanya duduk di samping Arya. Arya menjelaskan tentang sistem kerja sama yang akan mereka jalin, jenny terus memperhatikan Syarif, Syarif sadar jika dia di perhatikan oleh jenny, kadang tatapan mereka beradu, lama kelamaan Syarif jengah. dia pun memikirkan keadaan Emily saat ini, pikirannya kalut, ingin cepat-cepat selesai dan menyusul Emily di rumah sakit milik keluarga Joy. meeting pun sudah selesai Syarif dan Arya berpamitan untuk pulang duluan, Syarif dan Arya bergegas untuk kembali tapi jenny mencega mereka pulang dulu karna mereka belum mencoba menu makanan baru yang telah di sajikan. "kalian boleh pulang tapi setidaknya cobalah menu baru dari restoran kami, sebelum aku merilisnya aku ingin tahu apa pendapat kalian dengan menu baru kami", Syarif menghela nafas kasar, dia menatap Arya, Arya hanya bisa mengangguk untuk mengajak Syarif duduk dan mencicipi menu yang di hidangkan. mau tidak mau Syarif pun mengikuti kemauan Arya. jenny tersenyum menang.