Tuntun Aku Jadi Makmummu

Tuntun Aku Jadi Makmummu
Bab 31


__ADS_3

Tok.. Tok.. Tok..


Ceklek...

__ADS_1


"Maaf, cari siapa?", tanya ibu pada Devan, "Assalamualaikum Tante?", ibu melihat Devan dengan bingung, "waalaikum salam", jawab ibu, "Najwa nya ada Tante?", ibu menimang-nimang tumben ada teman laki-laki Najwa datang ke rumah, "Ada, kamu temannya Najwa ya?", selidik ibu, Devan yang di tatap ibu merasa tidak enak, "bukan Tante, tapi ini barang Najwa ketinggalan di mobil saya", Devan merasa gugup, ibu pun ahirnya memilih memanggilkan Najwa, "ya sudah, saya panggilin Najwa dulu, kamu tungguh sebentar ya", ibu masuk memanggil Najwa, Najwa yang sedari pulang kuliah di kamar, dia sibuk mengerjakan tugas, "Najwa ada yang mencarimu nduk", ibu mendekati Najwa, "sinten buk?", tanya Najwa yang matanya masi menatap leptop, "cowok, katanya barang kamu ketinggalan di mobilnya", Najwa menghentikan aktivitasnya dia teringat pada paper bag yang di kasi ustadzah Aini tadi dia lupa membawanya di mobil Devan. "Oh, iya buk, paper bag dari ustadzah Aini lupa gak ke bawah tadi Najwa keburu karna sudah terlambat kuliah", Najwa pun beranjak dan mengambil hijab instan untuk di pakai, "dimana buk orangnya?", Tanya Najwa, ibu memberi tahu kalau orang itu masih di depan, Najwa pun menghampiri Devan, Devan yang lagi duduk di kursi depan rumah kaget dengan kedatangan Najwa yang memakai stelan baju tidur dan hijab instan saja, karna setahu Devan Najwa selalu pakai baju gamis, Najwa yang di tatap Devan merasa canggung, "maaf, ada apa?", Devan memberikan paper bag tersebut pada Najwa, "ini tadi ketinggalan di mobil", Najwa mengambil paper bag tersebut dari Devan, "terimakasih", lirih Najwa, Devan pun memilih pamit untuk pulang, "Kalau begitu aku pulang dulu", Najwa mengangguk, "assalamualaikum", Devan beranjak pergi dari rumah Najwa. Najwa pun masuk ke dalam rumah dan menutup pintu kembali, tanpa disadari seseorang di dalam mobil telah memperhatikan mereka.


***

__ADS_1


Joy sedang memeriksa seseorang pasien di rumah sakit di temani seorang dokter, pasien itu mengalami radang usus buntu dan harus segera di oprasi, sayang pasien itu dari keluarga kurang mampu, keluarganya pun belum bisa membayar biaya rawat inap nya saja sudah 1 Minggu, apalagi di tambah biaya oprasi yang cukup mahal. "kemana keluarga pasien ini?", tanya Joy pada teman perawat yang biasanya menangani pasien tersebut, "istrinya pulang untuk meminjam uang untuk biaya oprasi", Joy bergeming, "lalu siapa yang menjaga disini?", tanya Joy menelaa karna di lihat tidak ada keluarga pasien sama sekali dan pasien harus segera di tindak lanjuti, suster tersebut menggeleng, "bapak ini hanya berdua dengan istrinya mereka tidak punya anak" terang suster dengan takut pada Joy, dokter pun memberi tahu Joy tentang riwayat pasien tersebut, Joy memerintahkan dokter untuk segera membawa pasien tersebut ke ruang oprasi. "Dok cepat lakukan oprasi pada pasien ini, aku akan mengurus administrasinya", dokter dan perawat tersebut mengangguk dan segera membawa pasien ke ruang oprasi, Joy memeriksa data pasien tersebut dan menandatangani administrasinya Joy melunasi biaya pasien tersebut. meski keluarga Joy yang memiliki rumah sakit tersebut tapi Joy harus konsisten harus memenuhi prosedur rumah sakit. Joy berjalan menuju ruang oprasi untuk membantu proses oprasi berlangsung satu jam. dokter telah selesai mengoprasi pasien tersebut dan keluar ruangan sedangkan Joy dan 2 perawat Masi membereskan bekas oprasi, dan mengecek kondisi pasien, pasien di pinda ke ruang rawat inap, ketika pintu ruang oprasi terbuka seorang wanita paruh baya menangis menghampiri pasien tersebut, Joy mendorong brangkar menuju kamar inap dan suster nampak menenangkan ibu itu, Joy keluar dari kamar inap pasien di bukanya pintu, istri dari pasien yang seusai di oprasi itu mendekati Joy dia berterimah kasih pada Joy karna sudah menolong suami ibu tersebut, "tuan, terimah kasih banyak, tanpa anda mungkin suamiku tidak tertolong", lirih ibu itu dengan menangis, Joy paling tidak tahan jika melihat orang menangis, apalagi ibu paru baya yang tanpa seorang anak dan keluarga, suaminya juga lagi terbaring di brangkar, "suami ibuk akan segera siuman, ibu jaga suami ibu aja di dalam, jika suami ibu nanti siuman ibu panggil dokter atau perawat ya, semua ini karna kesabaran ibu dan bapak, saya hanyalah perantara, saya permisi dulu Bu", Joy pergi meninggalkan ibu itu, "tuan, saya tidak bisa membalas apa pun untuk mu, tapi aku dan suamiku hanya bisa mendoakan yang terbaik bagi anda", Joy tersenyum pada ibu itu, "terimakasih", Joy pun melenggang pergi meninggalkan ibu itu menuju kamar pribadinya di lantai paling atas.


Syarif dan Emily mendorong koper mereka menuju mobil yang dia titipkan di bandara, sengaja mereka tidak menghubungi keluarga jika mereka sudah kembali dari Bali, Syarif meletakkan koper di bagasi dan menaiki mobilnya disusul Emily, "kita ke rumah ayah dulu, besok baru pulang ke rumah ibuk", ungkap Syarif seraya melajukan mobilnya, Emily tersenyum senang antara rindu dengan ayah ibunya, "Mas aku hubungi ayah dulu", Emily cepat-cepat menghubungi ayahnya, "Halo Emil, ada apa nak? tumben menghubungi ayah" terdengar suara di sebrang, "Amel akan berkunjung ke rumah", jawab Emily, "oh, maaf nak, ayah lupa jika namamu sekarang Amel", lirih ayah terdengar kekecewaan, "Bagi ku sama aja ayah, yang terpenting ayah dan ibu Masi sayang aku", ungkap Emily melirik Syarif, "iya nak, kami tungguh ya, ibu biar siapin makanan untuk kalian", Emily pun tersenyum riang, "makasih ayah", Emily menutup panggilannya, "Sebentar lagi kita sampai sayang", Syarif mengusap kepala Emily dengan sayang, Emily berhambur memeluk Syarif, "makasih mas", "Untuk apa?", tanya Syarif yang tidak mengerti, "untuk semuanya mas", Ungkap Emily, Syarif menanggapi dengan tersenyum, Syarif berbelok di komplek perumahan tempat orang tua Emily tinggal, tidak lama kemudian Syarif memarkirkan mobilnya di halaman rumah orang tua Emily, memang rumah Emily tidak sebesar rumah Syarif, tapi di depan rumah Emily Masi ada halaman dan taman bunga yang di tata dengan rapi, mendengar suara mobil berhenti ayah dan ibu keluar dan menyambut Emily dan Syarif, Emily keluar mobil dengan riang, karna sudah rindu pada orang tuanya, Syarif membuka bagasi dan mengeluarkan bingkisan persegi panjang, dan memberikan pada ayah mertuanya, "ayah, ini mas Syarif membelikan untuk ayah", ayah menerima bingkisan tersebut, "terimakasih, ayo kita masuk, ibu sudah masak kesukaanmu Mel", ajak ayah dan semua pada menurut kata ayah, dan masuk bersama menuju meja makan ibu pun mengajak Emily makan siang bersama Syarif, sedangkan ayah sudah selesai makan duluan dia membuka bingkisan yang di berikan oleh Syarif, ayah tersenyum melihat lukisan asli pengrajin dari Bali, ayah berterima kasih pada Syarif dan memajang lukisan itu di dinding ruang tengah, rumah orang tua Emily sangat minimalis tapi tertata rapi penuh dengan hiasan pernak pernik dan ukiran karna memang ayah Emily juga seorang pengrajin kayu, di belakang rumah ada kebun kecil biasanya ibu menanam sayuran, dan di samping kebun ada kuil untuk ibadah. Emily mengajak Syarif istirahat di kamarnya, Syarif mengambil kopernya di bagasi mobil di bawahnya ke kamar Emily, Syarif pun menata baju miliknya ke dalam lemari pakaian milik Emily, "mas kenapa bajunya di masukin semua, kita kan hanya 1 hari disini?", Syarif meletakkan kopernya di atas lemari pakaian, "buat ganti kalau berkunjung kesini", Syarif mendekap Emily, sontak Emily pun kaget, Emily tersipu malu karna Syarif menatapnya intens, "sayang kamu sudah suci belum?", tanya Syarif lembut, Emily tersipu dia menunduk dan mengangguk mengisyaratkan pada Syarif kalau dia sudah selesai menstruasinya, Syarif pun bergegas menggendong Emily ala bridal dan menjatuhkan di kasur, hasrat yang selama ini dia tahan kini dia bisa menyalurkan. "Mas, tapi_", Emily melihat ke arah bawah, "Tapi apa?", tanya Syarif penasaran, "aku belum suci, masih berhadas". "APA".

__ADS_1


__ADS_2