
"Iya bang, pokoknya Abang jangan khawatir, biar Amel yang urus semua". kata Emily pada Aleando.
"Oh, terus mbak di Bandung sendiri?". tanya Emily.
"ayah rindu pada kalian, kalian kapan kesini?".
"ya sudah, hati-hati disana, jaga mata, jaga hati, dan cepat pulang, assalamualaikum". Emily mematikan panggilannya dengan Aleando. Emily kembali masuk ke dalam rumah. Di dalam Emily mengedarkan pandangannya mencari keberadaan ayah dan ibunya, tadi mereka ada di ruang keluarga, tapi sekarang tidak ada, Emily berjalan ke dapur dan ternyata ibunya sedang berkutik di dapur.
"Ibu kok ada di sini? lagi buat apa Bu?". ibu melihat ke arah Emily dengan tersenyum. "ibu buat makanan kesukaanmu mil". ungkap ibu. Emily mengangguk, lalu mengambil celmek yang tergantung di dinding di sebelah laci dan memakainya. dia ingin membantu ibu memasak.
"Ya sudah, aku bantuin Bu". ibunya mengangguk, mereka bercengkrama saling bercerita.
"Kenapa kamu baru kesini, selama beberapa bulan ini?". tanya ibu pada Emily. Emily sejenak berhenti dari aktifitasnya mengupas bawang. Emily tidak mau jika orang tuanya tahu jika dia sakit, ibunya dan ayahnya pasti sedih. Emily menarik nafas panjang.
"mungkin kamu sangat sibuk ya nak?". ibu melihat Emily yang masih diam.
"syukurlah kamu baik-baik saja, ibu kira kamu sakit nak, karna ayah bilang dia bermimpi kamu berada di rumah sakit". ibu menatap dalam pada Emily. Emily sadar ikatan batin orang tua dan anak itu sangat dekat apapun yang terjadi pada anaknya mereka pasti bisa merasakan walaupun tanpa memberitahu.
"Ya buk, maafin aku, karna banyak pekerjaan, dan mas Syarif juga sangat sibuk". ibu mengangguk dan kembali melanjutkan aktifitasnya membuat perkedel dan nasi lemak. "Gak apa-apa. tapi kamu juga harus jaga kesehatanmu". Emily tersenyum. "iya buk..".
Sampai di bengkel Syarif mengecek aktifitas anak-anak. bengkelnya sekarang cukup besar, apalagi sekarang lagi mau buka cabang baru di luar kota, urusan bengkel Syarif menyerahkan semua pada Arya. sedangkan dia lebih fokus bekerja sama dengan Joy.
"Abi, gimana apa semua sudah beres?". tanya Syarif melihat mobil yang sudah selesai di benahi.
"Sudah bang".
"Baguslah.. apa ada kendala lagi?".
"Mobil yang itu bang, itu sudah selesai kita perbaiki tapi gak di ambil-ambil oleh pemiliknya. hampir 5 bulan". Syarif melangkah menuju mobil tersebut.
"apa pemiliknya gak meninggalkan nomer telfon?". Abi menggeleng.
__ADS_1
"ya sudah biarkan saja, besok akan aku urus,".
Selesai mengecek Syarif bergegas pulang.
"Abi, suru mereka pulang, dan ini ada tips kamu bagikan kepada mereka semua".Seru Syarif memberikan beberapa lembar uang pada Abi. "baik bang, terimah kasih banyak bang". Syarif melenggang pergi dari bengkel, dia ingin cepat-cepat pulang karna sudah rindu pada istrinya.
Di perjalanan pulang Syarif mendapat panggilan dari seseorang, Syarif menghela nafas berat mengetahui siapa yang menghubunginya.
"Selamat sore, ada apa?". sarkas Syarif.
"Tapi, ini sudah sore nona, apa tidak sebaiknya besok saja". ungkap Syarif.
"baiklah, dimana?". Syarif menghela nafas panjang. dia berbalik arah menuju restoran pinggir kota.
"Kenapa jauh sekali sih, kan banyak restoran terdekat". gerutu Syarif.
1 jam kemudian Syarif sampai di restoran tersebut, Syarif masuk ke restoran tersebut dan di sambut oleh pramusaji.
"Maaf, anda tuan Syarif?". tanya pramusaji, Syarif hanya mengangguk. pramusaji itu menuntun Syarif menuju ruang VIP.
"Selamat sore mas". sambut jenny pada Syarif. Syarif mengangguk lalu duduk. Pramusaji memberikan daftar menu makanan. Syarif hanya memilih minuman jus jeruk saja.
"Kenapa tidak memilih makanan?". tanya jenny.
"Maaf, istri saya sudah memasak untuk saya". jenny tersenyum kecut.
"Baiklah, tolong bawahkan 2 jus jeruk untuk kami". titah jenny pada pramusaji.
"baik nona". pramusaji itu beranjak meninggalkan mereka.
"Baiklah, hal apa yang anda akan sampaikan". sarkas Syarif. jenny mengangguk.
__ADS_1
"Baiklah, silahkan anda pahami ini". jenny memberi secarik kertas pada Syarif. Syarif menerima kertas itu tapi dia mengernyit.
"Kenapa harus ke luar negri?". tanya Syarif.
"Ya, kamu kan tahu mereka akan bekerja sama dengan kita, So itulah yang mereka minta. dan ku rasa akan sangat menguntungkan bagi kita". kata jenny. sedangkan Syarif mendengus kesal. pramusaji membawa jus jeruk dan menaruhnya di meja. jenny meminumnya. tapi perutnya terasa mual.
"HUUEEK!!". Syarif memperhatikannya.
"Maaf mas, aku ke toilet dulu". jenny buru-buru ke toilet. Syarif mengangguk dan kembali fokus pada berkas tadi. sedangkan di toilet jenny mual terus, dan memuntahkan semua yang ada di perutnya.
"sial, apa jangan-jangan mereka mau meracuniku". gerutu jenny. "awas saja, jika memang benar kalian tahu akibatnya_Hueek!!".
Hampir setengah jam jenny berada di toilet, Syarif melihat jam di pergelangan tangannya. "kenapa dia belum kembali juga". guman syarif, Tidak lama kemudian jenny datang dengan wajahnya sangat pucat. Syarif memperhatikan seksama. "mas, maaf sudah menungguh lama!". kata jenny pada Syarif. Syarif mengangguk mengerti. jenny duduk kembali.
"Hei, kamu sini!". panggil jenny pada pramusaji yang berjaga.
"ada apa nona?". tanya pramu saji itu mendekati jenny.
"gara-gara minuman ini, aku keracunan". sarkas jenny, pramusaji itu takut di tuduh seperti itu. Syarif memperhatikannya saja.
"Maaf nona, tapi tuan ini juga meminum jus seperti milik anda, tapi tuan tidak apa-apa kan?". Syarif mengangguk. jenny tambah kesal, bagainmana bisa dia tadi sampai mual. jenny tambah geram wajahnya juga sangat pucat, Dia hendak berdiri memberi pelajaran pada para karyawan restoran, tapi seketika matanya buram dan dia pingsan.
"Eh,, Nona". sontak Syarif dan pramusaji itu tersentak.
Gerry bersiap-siap untuk berangkat ke Kanada, dia sementara waktu akan menetap disana, selain untuk menstabilkan perusahaannya diasana. Dia awalnya tidak ingin meninggalkan jenny, Gerry sadar kejadian beberapa bulan lalu dia dengan jenny membuatnya berpikir jika jenny mahil dia harus bertanggung jawab. tapi semenjak kejadian itu jenny jarang bersamanya. Dia sempat bertanya pada jenny tapi jenny selalu mengalihkan pembicaraan. Sebenarnya dia juga masih mencintai Emily. Tapi dia tidak boleh egois, Emily sudah bahagia dengan Syarif, apakah jenny akan berusaha mengusik kebahagiaan mereka. entahlah, pikiran Gerry kalut, memikirkan perusahaanya yang hampir di ambang kebangkrutan saja membuatnya pusing apalagi memikirkan semua. hingga dia lebih memilih untuk kembali ke Kanada dan menetap di sana sampai benar-benar kondisi perusahaannya sudah stabil.
"Ini mungkin yang terbaik, lebih baik aku kembali ke Kanada, dan melepaskan Emily. biarlah dia bahagia dengan Syarif". guman Gerry sendiri.
Drrtt.. Drrtt..
Bunyi ponselnya membuatnya melangkah mengambil ponsel dan menjawab panggilan tersebut.
__ADS_1
"ya ada apa?". jawab Gerry.
"APA?".