Tuntun Aku Jadi Makmummu

Tuntun Aku Jadi Makmummu
Bab 44


__ADS_3

Tok.. tok.. tok..


Pintu ruang Joy di ketuk, "masuk!!", pinta Joy, perawat masuk membawa berkas data pasien yang kurang mampu, "ini berkas yang bapak minta", perawat itu menyerahkan berkas itu pada Joy, Joy menerimanya dan menyuruh perawat itu kembali, Saat membuka berkas itu Joy mendapat notifikasi dari ponselnya, di lihatnya pesan dari temanya, 'Ada orang yang melacak data syarif'. Joy mengernyit membaca pesan tersebut, Joy memang selalu waspada dengan kehidupan yang dia dan Syarif jalani karna pekerjaan mereka dulu sebagai agen detektif memang tidak mudah banyak juga musuh-musuh mereka. Karna Joy dan Syarif selalu membantu kepolisian menangkap seorang mafia dan penjahat dan para penyelundup narkoba. meski Syarif tidak ingin lagi berurusan dengan pekerjaan tersebut tapi Joy masih tetap waspada. 'apa kau sudah tahu orangnya?', Joy mengirim pesan, 'akan aku cari tau'. Joy menghela nafas kasar, dia beranjak pergi dari rumah sakit menuju suatu tempat.

__ADS_1


***


"mas, bangun sudah sore", Emily membangunkan Syarif, setelah menuntun Emily masuk ke kamar Syarif langsung merebahkan dirinya di ranjang yang ukurannya tidak terlalu besar. Emily membuka jendela dan melihat banyak orang yang sedang memetik stroberi dan ada pula yang menanam bunga Emily terus memperhatikan mereka di dalam kamar, ingin dia menemui mereka dan ikut serta, tapi di lihatnya Syarif tertidur pulas. Emily pun memilih membaca buku fiqih yang di pinjami Najwa. di lihatnya jam di dinding menunjukkan pukul 3 sore, dia pun membangunkan Syarif. Syarif menggeliat mendengar suara Emily, dia pun sedikit demi sedikit membuka mata melihat Emily duduk di sampingnya, "sayang..", suara Syarif serak. "Mas bangun sudah ashar, kita sholat dulu!", Syarif duduk bersandar di tempat tidur mengumpulkan nyawanya. "Mas aku ke kamar mandi dulu, ambil wudhu", Emily beranjak ke kamar mandi, Syarif bangun dari tempat tidur dia melihat aktifitas para warga di perkebunan.

__ADS_1


Di mension milik Daddy nya Joy, Mariya mengantar kepergian sanum dan Aslan mereka akan tinggal di Amerika bersama Jacob, Jacob akan memperkenalkan sanum pada ayahnya, dan rencananya mereka akan menikah disana, "kamu yakin dengan keputusanmu?", tanya Alfredo pada Jacob, "mungkin sanum disana lebih aman", "sanum, mungkin umi akan merindukanmu dan Aslan, rumah ini akan sepi", lirih Mariya, "Oma, kita kan bisa chatingan", celetuk Aslan. "Aslan kalau sampai sana langsung hubungi Oma ya!", "oke", kata Aslan mengacuhkan jempol, "Sanum, jika kalian menikah umi akan kesana, jagalah Daddy, mungkin dia agak cuek tapi dia penyayang", terang Mariya, "doakan sanum umi", sanum mencium punggung tangan Mariya dengan lembut. Joy datang dia yang akan mengantar Jacob ke bandara, Joy menghampiri Jacob dan menyerah kan map pada Jacob, yaitu map berisi sertifikat mualaf milik Jacob, Jacob meminta bantuan Joy untuk menjadi mualaf dan Joy yang mengurus semua Joy menyarankan agar Jacob menikah di Amerika saja karna di takutkan masih ada musuh yang akan mencari kelemahan Jacob yaitu sanum. Joy pun mengantar Jacob dan sanum ke bandara jet pribadi keluarganya sudah menungguh.


Di malam yang indah semirik angin menyibak rambut Emily, Emily berdiri di depan jendela, melihat pemandangan yang indah lukisan alam yang sangat indah, bulan dan bintang menyinar di perkebunan stroberi dan bunga-bunga yang bermekaran di malam hari.

__ADS_1


"sayang, kamu cantik sekali", puji Syarif memeluk Emily dari belakang. "Mas, bikin kaget aja", "ayo kita makan, pak Yusuf sudah menyiapkan makan malam untuk kita", Emily berbalik menatap Syarif, "mas, apapun yang terjadi pada ku kelak, aku harap cinta mas Masi sama", lirih Emily, "sayang, kamu bicara apa si, mas akan selalu sayang padamu", Syarif mencium kening Emily, "lebih baik kita makan malam". Syarif menuntun Emily keluar rumah menuju gazebo yang ada di taman, di hiasi dengan lampu-lampu pernak pernik membuat suasana menjadi romantis. "ayo kita makan disini saja", Syarif membawa nampan berisi makanan dan minuman. Emily antusias, Syarif meletakkan nampan di gazebo, Emily sungguh sangat senang, "ayo sayang mas suapi ya", "gak usa mas malu jika di lihat pak Yusuf, kita makan berdua aja", tolak Emily. "pak Yusuf di dalam, ayo lah satu suapan saja biar romantis", bujuk Syarif, akhirnya Emily mau di suapi Syarif. Emily sungguh bersyukur atas semua karunia besar yang Tuhan berikan kepadanya, penantian yang selama ini dia nantikan telah terwujud menjadi seorang mualaf dan menikah dengan Syarif adalah anugrah yang begitu besar yang Tuhan berikan padanya, dia berjanji akan menjadi seorang makmum yang setia dan menjadikan dirinya lebih baik lagi dan bermanfaat bagi orang lain, itu lah mimpi Emily ke depan, dia harus lebih banyak belajar pada Syarif dan orang-orang yang mengerti agama. "ya Allah aku mohon padamu aku ingin menjadi seseorang yang sangat berarti untuk orang lain, dan jadikan hambamu ini menjadi seorang istri yang sholehah. amin".


__ADS_2