
Tanpa terasa sudah 7 bulan kehamilan Najwa, hari ini adalah hari syukuran 7 bulan kehamilan Najwa, di rumah Arya sudah tertata rapi catering dan aneka ragam jajanan desa, tidak lupa roti yang di sajikan untuk para tamu, Najwa dan Arya sengaja mengundang anak-anak yatim dan anak didiknya di markas semua Najwa undang.
Acara 7 bulanan ini di mulai dengan membaca surat Maryam, surat Yusuf dan Ar Rahman, setelah itu ustadz Jailani memimpin doa. Najwa merasa bersyukur atas karunia yang di berikan tuhan yaitu bisa merasakan kenikmatan saat mengandung buah hati, apalagi sekarang bayi najwa kembar, Najwa mengelus perutnya seraya terus memancatkan doa untuk sang anak yang di dalam kandungan.
Selesai acara para tamu sudah berpamitan pada Najwa dan Arya, hanya tinggal keluarga dekat saja, ibu sesekali memberi wejangan pada Najwa, meskipun mama Arya selalu mewanti-wanti dan menjaga Najwa, tapi ibu juga sangat khawatir pada Najwa.
"nduk, kamu itu harus lebih hati-hati, jangan suka ceroboh, apalagi kandungan kamu sudah besar". tutur ibu, jujur ibu begitu khawatir apalagi kondisi kaki Najwa juga cacat, rentan Najwa keseleo. Najwa tersenyum pada ibu, jujur jika Najwa sudah cuti mengajar najwa akan bosen di rumah, maka dari itu Najwa meyakinkan ibu supaya ibu tidak terlalu khawatir.
"Ibuk tenang saja, Najwa pasti hati-hati kok". Najwa berhambur memeluk ibu.
"Buk, disini ada mama, ada kak Arya yang selalu waspada dengan keadaan Najwa, jadi ibuk tidak perlu khawatir". tekan Najwa, ibu menghela nafas.
"Ya sudah, jangan lupa minum susu dan vitamin, sebelum istirahat!". najwa mengangguk.
"Kalau begitu ibu dan papa balik dulu". Najwa melerai pelukan dari ibu.
"Assalamualaikum". pamit ibu. Najwa dan Arya mencium punggung tangan ibu dan papanya bergantian.
"Waalaikum salam, hati-hati Bu, pa!". ibu dan dokter williams mengangguk lalu melenggang pergi, tidak lupa mereka berpamitan pada besannya yang berada di taman.
***
Emily dan Syarif bergegas menuju rumah ayahnya. rencananya Emily akan membuka sanggar dan galery hasil pahat dan ukiran ayahnya Minggu depan, Dwi menyulap galery yang dulunya seperti gudang sekarang menjadi galery yang ornamennya begitu klasik dan sangat cocok untuk semua ukiran dan pahatan ayah. Sanggar ini di beri nama Sanggar Tunggal, Emily dan Syarif sampai di rumah, halaman rumah juga di renovasi sebagai tempat parkir, memang rumah orang tua Emily tidak seluas rumah Syarif, tapi untuk area parkir pengunjung masih bisa muat beberapa mobil. Sanggar ini di buka untuk umum, ayah bersyukur karna anak-anaknya mewujudkan impiannya, mempunyai galery dan sanggar yang akan di gunakan untuk mengajari karya seni untuk anak-anak, bagi ayah sebuah ilmu akan berarti jika kita gunakan untuk mengamalkan pada orang lain, dan kini ayah akan mengajari para anak-anak yang mempunyai talenta di bidang mengukir, memahat dan melukis. Terutama untuk anak-anak yang kurang mampu.
__ADS_1
Emily dan Syarif menghampiri ayah yang sedang berdiri di galery.
"Ayah". panggil Emily menyadarkan lamunannya. dia tersenyum pada Emily, Emily memeluk ayah, sedangkan Syarif menyalami ayah.
"Kalian sudah datang". sapa ayah. Emily mengangguk begitu juga Syarif. hening, ketiga orang itu seakan terkagum dengan isi dari galeri tersebut, banyak lukisan, karya seni ukiran surat-surat pendek, dan patung berbagai jenis dan ornamen.
"Nak, aku sangat bersyukur karena kalian telah mewujudkan impian ayah". ungkap tulus sang ayah.
"Ayah, ini semua belum sebanding dengan pengorbanan ayah selama ini untuk kita". lirih Emily.
"Ayah dan ibu rela melakukan apapun untuk kebahagiaan anak-anakmu ini". lanjut Emily. dia sadar orang tuanya rela berkorban untuk dirinya.
"Ayah dan ibu tidak pernah merasa menyesal mengorbankan apapun nak demi kebahagiaanmu, ayah dan ibu selalu ikhlas, dan inilah jawaban Tuhan, buah keikhlasan adalah kebahagiaan. ayah bangga pada kalian, baik kamu dan Ale kalian telah memberikan kebahagiaan pada ayah dan ibu, kalian berdua juga memberikan kami menantu yang sangat baik dan menyayangi kami menganggap kami bukan seperti mertua tapi seperti orang tua kandung sendiri". papar ayah tulus, tanpa terasa air mata Emily luruh karena terharu. Syarif mendekati ayah.
"Ayah, Syarif akan melakukan apapun untuk kebahagiaan ayah dan ibu, terimah kasih banyak karna kalian telah menerima Syarif sebagai menantu kalian, aku sangat bersyukur mempunyai orang tua seperti kalian". Syarif memeluk ayah.
"Ya, siapa lagi kalau bukan kamu, masak kamu suruh daddymu yang pulang pergi ke Amerika". tutur umi Mariya masih berkutat dengan Tamanan barunya.
"Tapi bukannya uncle Jacob yang harusnya mengurus perusahaan itu, itukan miliknya". Joy masih menggerutu.
"Uncle mu itu punya mempunyai babby Jo dia tidak mungkin bisa jauh dari istrinya. kamu kan tahu sendiri tanteku masih punya trauma". jelas umi Mariya menatap sejenak anaknya.
"Disini kan ada Syarif dia yang akan hendel perusahaan disini". lanjut umi Mariya.
__ADS_1
"Rumah sakit?". kesal Joy.
"Biar Daddy mu dan bisa juga di bantu om Williams". Joy menghela nafas kasar.
"Terus Jo di asingkan di sana sampai kapan mom?". lirih Joy frustasi.
"Sampai saatnya kamu kesini dan menikah". Joy terpengangah mendengar penuturan umi Mariya. itu artinya Joy tidak boleh tinggal disini sebelum menikah, menikah dengan siapa? hati Joy saja masih terpaut dengan Najwa, semakin Joy mencoba mengikis tapi semakin dalam pula hatinya seakan terpatri dengan Najwa.
"Mom, bilang saja seumur hidup aku harus tinggal sama sapi ternak milik uncle". Geram Joy meninggalkan umi Mariya. Umi Mariya hanya bisa tersenyum.
'Rab, lumpuhkanlah perasaan anakku jika mereka tidak berjodoh, tapi ikatlah mereka jika mereka berjodoh'. doa umi Mariya.
Joy di kamar masih tidak habis pikir dengan mommynya, kenapa harus dia yang harus mengurus peternakan Jacob, mereka kan bisa menyuruh orang. apalagi di sana tempatnya sangat jauh dari penduduk.
"Kenapa kalian tega, aku kan poboia sama sapi". gerutu Joy. Joy mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
"Hay, what happen?". terdengar suara di sebrang.
"Suruh orang lain untuk mengurus sapi-sapimu!". sarkas Joy.
"Ayo lah Joy, disana itu jauh penduduk, aku takut sapiku terancam".
"Kamu kan bisa panggil boddy guard untuk menjaga peternakan mu". sarkas Joy.
__ADS_1
"Bukan masalah boddy guard, tapi kamu kan tahu pesaing bisnis papa disini banyak, mereka bisa saja meracun semua sapi ku". racau jocob memelas.
"Ayolah Joy, ini untuk sementara, jika babby sudah besar, kita akan tinggal disana, karna itu adalah keinginan tantemu". mohon Jacob. Joy menarik nafas dan mematikan sambungan telfonnya.