
Arya dan Najwa berangkat bersama, hari ini Najwa waktunya mengajar di pondok, "Sayang, maaf ya, aku belum sempat jenguk mbak Amel, nanti insya Allah kalau pulang aku mampir ke rumah sakit". Najwa mengangguk. "Kak Dayat ngerti kok kak. kakak tenang saja, nanti aku langsung ke rumah sakit selesai mengajar kak". jelas Najwa. Arya mengangguk, sampai di depan pondok Arya memarkirkan mobilnya, "assalamualaikum". pamit najwa, "waalaikum salam". jawab Arya. Najwa turun dari mobil, Arya melajukan mobilnya.
Di rumah ibu sedang memasak untuk bekal nanti ke rumah sakit, sedangkan Joy masih menungguh di ruang tamu, sesekali dia melihat foto keluarga kecil ibu, ada foto Najwa waktu kecil dan foto Najwa waktu lulus universitas. juga ada foto pernikahan Syarif dan Emily. Joy melihat ada sepasang foto lama gadis yang satunya berhijab dan satunya tidak berhijab. "itu foto mommy dan ibu waktu remaja nak Joy". ucap ibu seraya membawakan kopi untuk Joy. Joy tersentak, dia melihat ke arah ibu dan tersenyum. "mommy lucu ya, waktu remaja". gurau Joy menghampiri ibu di sofa. "mommy mu itu dulu tomboi Joy, di sekolah temannya banyak yang cowok, apalagi dia cantik, makanya banyak cowok yang ngedeketin mommy mu". Joy tersenyum membayangkan mommynya. "tapi mommymu itu selalu menolak saat ada cowok yang menyatakan cinta padanya, dia lebih fokus untuk sekolah". terang ibu, Joy menimpali dengan senyuman. "akupun bersyukur ternyata impian mommymu bisa tercapai". lanjut ibu, Joy nampak sedih mengingat jika dia kehilangan kontak dengan mommynya selama beberapa tahun. "saat itu aku juga bersyukur karna Syarif selalu ada untuk ku Bu, disaat aku sendiri dia selalu menjadi kakak yang peduli sekali padaku". ucap Joy mengingat kebersamaannya dengan Syarif. ibu tersenyum, "seharusnya kamu dulu gak perlu takut pada ibu, ibu dan mau kesini sama Dayat". "Joy takut jika ibu tahu kalau Syarif berteman denganku ibu akan melarangnya". aku Joy. ibu tersenyum pada Joy, "ibu tidak perna melarang anak-anak ibu berteman dengan siapapun nak, ibu yakin anak ibu bisa menjaga diri, dan ibu selalu mengajarkan mereka untuk saling mengerti, memahami dan saling toleransi pada siapapun". jelas ibu. Joy mengangguk. "harusnya Joy dulu tak perlu takut, maka ibu pasti akan menyayangi Joy seperti anak ibu, dan lebih mengenal Najwa_". Joy menjeda kalimatnya, ibu melirik Joy menyelidik. "Em.. maksud Joy lebih mengenal Najwa dan ibu". ucap Joy gelagapan. ibu tersenyum. "ya sudah, kamu minum kopinya, ibu ganti baju dulu, keburu siang. kamu juga mau kerja kan". Joy mengangguk, ibu beranjak ke kamar untuk ganti baju. Joy mulai meminum kopi buatan ibu.
__ADS_1
Sedangkan di rumah sakit Syarif menyuapi Emily bubur, "Sayang, kamu makan dulu ya, biar cepat sembuh". Emily mengangguk, Syarif dengan telaten menyuapi Emily. "mas, sudah". pinta Emily, dilihat Syarif buburnya Masih separuh. Syarif meletakkan bubur tersebut di meja sebelah brangkar. Syarif mengambilkan air minum untuk Emily, Emily meminum air tersebut. "sayang, apa masih sakit?". tanya Syarif lembut. Emily menggeleng, "ya sudah sebaiknya kamu istirahat saja ya". Syarif membenarkan selimut di badan Emily. Emily mengangguk. "Mas, lebih baik mas makan dulu". seru Emily. Syarif menggeleng. "mas belum lapar". jawab syarif lembut. "mas, kan belum makan dari tadi", sela Emily lagi. "nanti kalau mas lapar mas pasti makan sayang, lagian mas juga gak mau sakit, kalau mas sakit siapa yang jaga kamu". tutur Syarif. Emily terasa pilu hatinya. "maafin aku mas". lirih Emily sendu, Syarif menggenggam tangan Emily lalu menciumnya. "jangan pernah meminta maaf sayang, kamu gak salah". ucap Syarif lembut. "kamu jangan sedih lagi ya!". Emily mengangguk. "makasih banyak mas". Syarif mengangguk, "kamu mau membuat mas tidak sedih?". tanya Syarif lembut. Emily mengangguk. "kalau gitu kamu harus janji harus sembuh". Emily menatap Syarif lalu mengangguk, "makasih banyak sayang, aku sangat mencintaimu". Syarif memeluk Emily.
Ceklek...
__ADS_1
Joy beranjak ke ruang kerjanya, dia melihat beberapa laporan di rumah sakitnya, beberapa saat kemudian ada seseorang yang menghubunginya. "ada apa?". tanya Joy pada orang di sebrang. "APA?". ungkap Joy pada orang tersebut. "sekarang dia berada di mana?". tanya Joy beranjak dari ruang kerjanya, "baiklah, kamu awasi saja, aku akan segera kesana". titah Joy pada orang tersebut, dia langsung pergi menuju parkiran lalu memasuki mobilnya dan melajukan mobil tersebut melenggang pergi dari rumah sakitnya menuju suatu tempat.
Di pondok Najwa pamit pada ustadzah Aini, dia beranjak keluar dari area pondok, dia menungguh di sebelah jalan, Najwa duduk di kursi dia sedang menghubungi ojek online. "permisi". sapa seorang pemuda berdiri sampingnya. Najwa yang fokus pada ponselnya mendongak ke arah seseorang yang memanggilnya. tatapan mereka bertemu sejenak. Najwa memalingkan wajahnya setelah tahu siapa yang menyapanya. "ada apa?". tanya Najwa pada orang tersebut. "Emm.. kamu mau kemana?". tanya pemuda itu ragu. "Aku mau ke rumah sakit". jawab acuh Najwa. "Oh, apa kamu mau bareng sama aku, kebetulan searah". tanya pemuda itu masih ragu. "makasih, tapi tidak baik jika wanita yang sudah mempunyai suami bersama pria lain, apalagi jika hanya berdua". ungkap Najwa. pemuda itu tersenyum pada ku. "aku bersama mama". Najwa mellihat ke samping ada seorang ibu-ibu berjalan menghampirinya dan pemuda itu. "Devan, mama mencarimu kemana-mana". kesal mama Devan pada Devan. Najwa hanya menatap mama dan Devan berdua.
__ADS_1