
Emily memegang erat benda yang di berikan oleh ayahnya, di lihat benda itu adalah sebuah karya seni yang ayahnya buat untuk dirinya yaitu sebuah ukiran foto pernikahannya dengan Syarif, Emily meletakkan di kamar, nanti dia akan memperlihatkan pada Syarif dan memintanya di pajang di kamarnya. Emily duduk di sofa melihat jam di tangannya waktu beranjak sudah sore, tapi Syarif belum pulang juga, biasanya Syarif pulang jam 4, tapi ini sudah mau masuk magrib, Emily mendial no.syarif, tapi tidak kunjung di angkat. Emily sedikit khawatir karna tidak biasanya Syarif tidak mengangkat telfonnya.
__ADS_1
Siang tadi Syarif di temani Abi menemui kolega bisnis yang mau bekerja sama dengan bengkelnya, meeting pun selesai pukul 3 sore, Syarif mampir masjid sejenak untuk sholat ashar, rencananya selesai sholat dia akan langsung pulang dan mengantar Abi ke kos nya. Tapi di jalan dia melihat seorang wanita yang butuh pertolongan, Syarif pun menghentikan mobilnya, dan membuka kacanya seorang wanita mendekat, "Mas, bisa tolong bantu aku, beri aku tumpangan mobilku bannya kempes", Syarif membuka mobilnya dan keluar bersama Abi, di lihatnya mobil itu, mobil sport yang sangat mewah bahkan Abi terpengangah. melihat wanita itu pakaiannya juga sangat elegan, "apa ada ban serepnya?", tanya Syarif pada wanita itu, "ada tapi aku sudah menelfon montir langganan ku untuk kesini", Syarif bergegas masuk mobilnya, "Abi, ayo kita masuk", ajak Syarif, Abi antara percaya dan tidak masak mau meninggalkan wanita itu sendiri dan tidak mungkin juga Syarif menumpangi wanita itu. Abi hanya mengikut kata Syarif bergegas masuk mobil, dengan santainya wanita itu mengikuti Syarif dan masuk ke dalam mobil dan duduk di jok belakang. "Maaf nona, silahkan keluar dari mobil saya!", pinta Syarif tegas. Wanita itu tidak percaya masak Syarif tega meninggalkan dia di tempat sepi sendiri, "aku mohon mas, beri aku tumpangan, kamu kan lihat mobil aku bannya kempes", mohon perempuan itu, "kata anda sudah menyuruh montir kesini", jelas Syarif, "iya mas tapi apa mas tega ninggalin seorang wanita sendiri di tempat sepi seperti ini", elak wanita itu, "tidak baik seorang wanita bersama dengan lelaki yang buhkan mahram", tegas Syarif, Abi hanya menyimak perdebatan mereka, "Abi, bantu mengganti ban mobil nona ini, dan kau nona jika anda ingin segera pulang cepat beri tahu dimana letak ban serepmu!", wanita itu turun dari mobil dan memperlihatkan ban serep pada Abi, Abi dengan cekatan mengganti ban tersebut. Syarif membantu Abi, dilihatnya waktu sudah hampir magrib, dia lupa memberi tahu Emily pasti Emily khawatir, di rogonya saku celananya untuk mengambil ponsel, tapi dia lupa kalau ponselnya di taru di dasbor mobil, "****", umpat Syarif, "maaf bang, biar aku aja yang benerin, Abang di mobil aja", kata Abi mendengar umpatan Syarif, "ayo cepat selesaikan Abi, kita harus segera pulang, istriku pasti khawatir", jelas Syarif, Abi mengangguk, wanita itu menungguh Abi dan Syarif dengan bersandar di mobil milik Syarif. "Selesai bang", Abi pun bergegas memasukkan kembali ban yang kempes ke bagasi mobil, sedangkan Syarif buru-buru mengambil ponselnya di dalam mobil, di lihatnya beberapa panggilan dari Emily, "astagfirullah hal adhim", lirih Syarif menghubungi Emily, "Assalamualaikum sayang", terdengar jawaban dari sebrang, "waalaikum salam mas, mas kenapa belum pulang?", Syarif menghela nafas panjang, "maafkan mas sayang, ada kendala, dan tadi mas lupa ponselnya di mobil gak mas bawah", "tapi mas sekarang gak kenapa-napa kan?", terdengar kekhawatiran Emily, "mas tidak apa-apa sayang, ini mas sudah mau balik", terdengar suara adzan berkumandang, "mas sudah magrib", "iya sayang, untuk hari ini kamu sholat sama ibuk ya, mungkin mas sholat di jalan", "iya mas, hati-hati assalamualaikum", "waalaikum salam", Syarif menutup telfonnya. tanpa Syarif sadari wanita itu tersenyum simpul, "Abi ayo kita balik!", ajak Syarif, "oke bang", Abi mendekati wanita itu untuk berpamitan, "nona, mobilnya sudah bisa, sekarang kita pergi dulu", wanita itu menghampiri Syarif, "Mas, terimah kasih banyak namaku jenny", wanita itu mengulurkan tangannya, Syarif hanya menatap tangan wanita itu, "lebih baik anda segera pergi nona", kata Syarif melesat masuk ke dalam mobil, wanita itu tersenyum melihat uluran tangannya dan menjatuhkannya kembali, "baru kali ini ada lelaki yang menolakku", guman wanita itu tersenyum miris, "But, i like it, aku suka penolakan", kata wanita itu masuk ke mobil. wanita itu pun melajukan mobilnya, Syarif menghela nafas panjang, dan melajukan mobilnya, meski dia cuek pada wanita itu tapi nyatanya Syarif tetap mengikuti wanita itu sampai persimpangan jalan yang di rasa Syarif sudah ramai dia pun baru mengaras mobil milik wanita itu. Jenny melihat mobil Syarif melaju di depannya dia tersenyum, "CK!, aku tahu kamu itu orang yang peduli, lihat saja aku akan mendekati mu mas angkuh, hahaha...". jenny melajukan mobilnya melesat menelusuri jalan.
__ADS_1
"Najwa sayang, kamu harus mencicipi makanan buatan mama", seru mama Fatimah, mereka sekarang berkumpul untuk makan malam di rumah Arya, Fatimah mengambilkan makanan untuk Najwa, "terimah kasih Tante", Fatimah tersenyum miris mendengar Najwa masih memanggilnya Tante, "MAMA, kamu sekarang anak Mama jadi panggil MAMA", kata Fatimah mempertegas. Najwa menunduk, sambil mengangguk. Fatimah tersenyum puas, "okey, sekarang kita makan!", pinta Fatimah, ayah Arya hanya geleng-geleng dengan kelakuan istrinya. Arya memegang tangan Najwa, "tenang Honney, ayo di makan!", Najwa mengangguk. mereka makan dengan diam tanpa ada suara hanya dentingan sendok yang terdengar nyaring.
__ADS_1
***
__ADS_1
Hiruk pikuk suara nyanyian dan musik bergemah di dalam ruang tersebut, nampak seorang gadis yang menungguh seseorang, dan benar saja sebuah kecupan mendarat di puncak keningnya, "malam say", sapa Gerry duduk di sebelah Jenny, "malam,,,", balas jenny lembut, "gimana apa kau suka?", tanya Gerry to the poin, jenny mengangguk dan tersenyum senang, "i like it, sepertinya akan sangat menyenangkan jika aku mendapatkannya", ungkap jenny seraya meneguk satu gelas minuman yang di berikan oleh bar tander, Gerry tersenyum puas. "tersera kamu jika ingin main-main dengan dia", mereka pun berdua bersulang dengan riang.
__ADS_1