Tuntun Aku Jadi Makmummu

Tuntun Aku Jadi Makmummu
Bab 55


__ADS_3

Dokter Williams duduk termenung di taman belakang rumah sakit. Dia menungguh seseorang yang sangat berarti baginya. Dia sadar umurnya sudah tidak mudah lagi, meski ingin sekali dia meminang seseorang yang sangat di cintai nya, tapi begitu banyak rintangan dan kendala yang menghalangi.


"Assalamualaikum..", salam seorang wanita paruh baya, tapi kecantikannya masih tetap sempurna meskipun tanpa polesan dia tetap cantik dengan busananya.


"waalaikum salam". jawab dokter Williams. mereka agak canggung. tapi dokter Williams segera menyuruh wanita itu duduk. "silakan duduk!". wanita itu mengangguk dan duduk di sebelahnya. "terimah kasih, Maaf mas telah menganggu waktumu". lirih wanita itu, dokter Williams tersenyum kecut. "apa yang bisa ku bantu?". wanita itu menghela nafas, "Mas, tolong bujuklah dokter Caro agar bisa segera datang ke sini!". titah wanita itu, Williams menghela nafas berat. "Caro,dia disana sangat sibuk, meskipun dia bisa memeriksa Amel tapi dia tidak akan bisa tinggal disini terlalu lama. karna dia sudah ada kontrak. mungkin dia kesini hanya berlibur". terang Williams. "aku punya teman dokter obgyn mungkin dia bisa membantu, dia tidak kala hebat dengan Caro, akan ku usahakan dia bisa datang kesini dan mengobati Amel sampai sembu". lanjut Williams. "Alhamdulillah, terimah kasih banyak mas". ucap wanita itu tersenyum senang. "okey. jangan pernah sungkan jika kamu butuh sesuatu Aisyah, karna aku sudah berjanji pada alm. suamimu akan menjagamu dan anak-anakmu". ungkap dokter Williams. Aisyah menunduk, "aku tahu Aisyah kamu sedih dengan keadaan menantumu sekarang.tapi dia wanita kuat, dia pasti bisa melalui masa-masa sulit seperti ini". Aisyah mengangguk membenarkan. "terimah kasih banyak mas". Williams mengangguk.


***

__ADS_1


Arya bersiap untuk pergi bertemu dengan Devan, mereka berencana akan pergi ke luar kota untuk bekerja sama dengan sorum sepeda milik teman Devan, mungkin dengan kerjasama ini keadaan bengkelnya akan kembali stabil.


"Arya, gimana keadaan bengkel?". tanya ayahnya saat sarapan bersama. Arya menghela nafas berat. "Arya akan usahakan memulikan keadaannya". ayah mengangguk mengerti, "jadi kamu jadi menerima tawaran Devan tentang sorum motor milik temannya?". Arya mengangguk. "tapi itu di luar kota lho Ar?". lanjut mamanya, Najwa hanya diam mendengarkan percakapan tersebut, meski dia juga agak tidak rela. "Cuma ini ma, siapa tahu dengan bekerja sama dengan sorum tersebut bisa memulihkan keadaan". ayah dan mama Arya saling menatap. bukannya ayah Arya tidak bisa membantu tapi bengkel itu adalah salah satu usaha yang dirintis oleh dia dan alm. bapak Najwa. ayah Arya ingin mengajarkan pada Arya arti tanggung jawab yang di percayakan padanya. "terus kapan kamu akan menemui orang itu?". tanya ayah, "Devan bilang nanti". Najwa menatap sendu Arya, "Dik, nanti kamu pulang ke rumah ibuk dulu, kalau aku pulang nanti aku jumput di rumah ibuk". Najwa mengangguk. "Sayang, maafin mama ya, karna tidak bisa temanin kamu di rumah". lirih mama. Najwa tersenyum pada mama, "ma, pekerjaan mama sangatlah penting, Najwa mengerti kok, lagian aku juga kangen sama ibuk dan mbak Amel". ayah hanya menatap nanar mantunya, dia juga sadar tidak pernah berada di rumah karna sibuk dengan pekerjaannya. "salam untuk ibuk ya nak!, kalau mama ada waktu mama akan main ke rumah". ucap mama. Najwa mengangguk.


"Arya, Najwa mama berangkat dulu ya". pamit ayah dan mama, mereka keluar bersama, Najwa dan Arya sama-sama mencium punggung tangan mereka bergantian. "hati-hati ma". lirih Arya, "iya sayang, kamu juga hati-hati, assalamualaikum". salam mama dan ayah bersamaan. Arya dan Najwa mengangguk, "waalaikum salam". mereka berdua masuk ke mobil Arya bergegas melajukan mobil.


"sayang, kamu kenapa?". tanya Syarif. Emily tersenyum. "gak apa-apa kok mas". Syarif memincingkan mata, "beneran gak ada apa-apa?". tekan Syarif. Emily bersandar di lengan Syarif. "beneran mas, aku bersyukur memiliki suami seperti mas". lirih Emily. Syarif membelai kepala Emily. "Mas juga bersyukur memiliki istri cantik sepertimu". tidak terasa mata Emily mengembun. 'Maaf kan aku mas, tidak bisa sesempurna wanita lain'. guman Emily dalam hati. Emily buru-buru menyeka air matanya sebelum Syarif melihatnya. "sayang, apa kamu sudah minum obat?". tanya Syarif mengingatkan. "iya mas, sebentar aku ambil obatku dulu di kamar". Emily bergegas mengambil obat di kamar. Syarif menungguh, ponsel Syarif berdering ada panggilan masuk, di lihatnya ponsel itu ternyata panggilan dari dokter Williams. dia pun mengangkatnya.

__ADS_1


"Assalamualaikum". salam Syarif. "waalaikum salam, Syarif bisa kita bertemu". terdengar suara dari sebrang. "kapan?". "nanti siang jika kamu tidak sibuk, ada hal penting mengenai istrimu". Syarif merenung, "baiklah". panggilan di matikan Syarif. Emily menghampiri Syarif dia hendak bertanya tapi dia ragu. "sayang kamu sudah kembali". Emily hanya mengangguk dia pun mengambil air dan meminum obat. Syarif memperhatikan Emily dengan intens. "ada apa ma". tanya Emily yang merasa canggung di perhatikan oleh Syarif. "cuma ingin menikmati wajah istriku yang cantik". celetuk Syarif. emily tersipu malu. "mas ini, mulai deh, gombalnya". wajah Emily seperti kepiting rebus, Syarif suka melihat jika istrinya lagi tersipu. "beneran kok sayang, lagian menikmati wajah istri itu kan pahala, ya mas lihatin aja wajah cantikmu, biar pahalanya bertambah". lagi-lagi Syarif menggoda Emily. "jangan berlebihan lihatnya, karna hal yang berlebihan itu tidak baik mas!". lirih Emily. "aku tahu sayang, tapi rasa cintaku padamu tidak akan pernah Lingsir". Syarif mendekap Emily.


Cup!'


Sebuah kecupan mendarat di bibir ranum Emily. Emily terbelalak kaget dengan aksi Syarif. tak butuh waktu lama Syarif mencium kembali bibir tersebut dengan lembut, Emily terbuai dia pun membalas ciuman yang Syarif berikan, dua insan memaduh kasih decapan demi decapan terdengar dari mulut mereka. bahkan Syarif ingin menuntut lebih. "Mas, kalau ibuk datang gimana?". Emily menghentikan tangan Syarif yang bergerilya kemanana-mana.


"AAWW..". pekik Emily. tanpa pikir panjang Syarif membopong Emily menuju kamar. "Sayang, hari ini kita bersenang-senang, ini hukuman karna kamu telah membuat pusaka mas bangun". suara serak Syarif terdengar begitu lirih. Emily hanya meringis. "Tapi ini masih pagi sayang". syarif tak menghiraukan elakan Emily dia membuka pintu kamar dan membaringkan Emily di ranjang, dia pun bergegas mengunci pintu kamar. Emily melihat suaminya pun meringis, Syarif mendekatinya. "puaskan aku sayang!!".

__ADS_1


__ADS_2