
Ting!.
Bunyi notifikasi pesan masuk jenny membuka pesan tersebut.
"WHAT". jenny terbelalak membaca pesan dari orang suruhannya, ternyata Syarif menikah dengan Khadijah Amelia, dia seorang mualaf dan mereka menikah 2 tahun yang lalu. akhir-akhir ini mereka sering ke rumah sakit menemui dokter obgyn.
Ting!.
__ADS_1
Bunyi notifikasi pesan masuk. dibukanya ternyata foto pernikahan Syarif dengan seorang wanita. jenny memerhatikan wanita tersebut dia merasa tidak asing dengan wanita di foto tersebut. "ini mirip dengan Emily, wanita yang akan di nikahi Gerry". guman jenny.
Ting!.
Bunyi notifikasi pesan masuk lagi, di bukanya pesan itu. 'aku tidak bisa membobol lebih dalam tentang Syarif karna di lindungi'. jenny menghela nafas kasar. 'ok, tapi aku ingin tahu lebih dalam lagi, bagaimanapun caranya!'. pesan jenny terkirim.
Di bandara internasional seorang pemuda tampan membuka kaca mata hitamnya dia turun dari jet pribadinya, dia di sambut oleh pengawal, pemuda itu berangsur menuju mobil seorang pengawal membukakan pintu mobil pemuda itu masuk dan bersandar di jok belakang merebahkan tubuh karna perjalanan panjang yang dia lewati. "jalan kan mobilnya menuju rumah, aku sangat lelah". titah pemudah itu, "baik tuan". perjalanan dari bandara sampai rumah tidak lama hanya 30 menit, sampai di mension sopir itu membawa masuk mobil ke depan rumah tersebut, para ART menyambut tuan mudahnya. sopir itu pun turun dan membukakan pintu mobil, pemuda itu keluar dari mobil. "Selamat malam tuan". sapa ketua ART. dia hanya membalas dengan anggukan dia bergegas masuk ke kamar.
__ADS_1
Jenny membanting pintu apartemen Gerry, Gerry di kamar mandi menggeleng mendengar panggilan jenny yang memanggilnya. "GERRY". berang jenny. Gerry keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk, jenny menatap sebal pada Gerry, Gerry hanya tersenyum manis, dia tahu pasti jenny sedang kesal. "JELASKAN PADAKU". tekan jenny memperlihatkan foto pernikahan Syarif dan Emily. Gerry tertegun bagaimana jenny tahu tentang semua ini. Gerry berjalan mengambil baju dia memakainya di depan jenny. mereka sudah terbiasa bertelanjang dada. bahkan milik Gerry pun biasanya di mainkan oleh jenny, meski begitu Gerry tidak pernah memasukkan pusakanya pada jenny. Gerry duduk di sofa, dia memperhatikan jenny yang begitu marah. "kenapa kau menyuruhku mendekatinya?". sarkas jenny. "kamu sudah tahu sebabnya". jelas Gerry. "Oh, jadi benar dia Emily, kau mau membalas dendam dengan mereka?". Gerry mengangguk. "bukannya kau sudah menghancurkan usaha milik ayah Emily, apa itu tidak cukup?". Gerry menatap jenny. jenny memalingkan wajah dia beranjak dari duduknya dan berdiri mengambil 1 botol wine di lemari es milik Gerry. "atau kau masih mencintai Emily". lanjut jenny menuangkan wine ke dalam gelas. Gerry tidak menjawab pertanyaan jenny. jenny duduk di samping Gerry. "kalau itu tujuanmu, aku akan membantumu". seringai licik keluar dari bibir jenny. Gerry menatap jenny tidak percaya ternyata jenny mau mendukung keputusannya. "Benarkah?". senyum simpul terukir di bibir Gerry. "tapi ada syaratnya". terang jenny. Gerry mengangguk. "Kamu jangan perna menemui ku, karna aku tidak mau jika Syarif menyadari jika kita bekerja sama, aku yang akan menemui mu jika aku membutuhkan mu, kamu mengerti?". Gerry mengangguk. "okey. jika aku mendapatkan Syarif, maka kamu juga akan mendapatkan Emily". terang jenny. Gerry hanya mengangguk. "itu kan yang sebenarnya kau mau". lanjut jenny. seperti biasa jenny menghabiskan wine tersebut kepalanya terasa nyeri, dia pun membuka baju miliknya karna merasa gerah dan hanya meninggalkan dalaman saja yang dia pakai, dia tertidur pulas di sofa. Gerry menatap jenny dengan miris. Gerry membopong jenny ke tempat tidur, dia meninggalkan jenny sendiri. "andai aku bisa menyukaimu mungkin aku tidak akan sejahat ini pada Emily". guman Gerry.
"Assalamualaikum..". salam Arya masuk ke dalam rumah ibu. "waalaikum salam kak". Najwa mencium punggung tangan Arya. "ayo kak masuk dulu, ada ibuk di dalam". ajak Najwa. Arya mengangguk, dia berjalan masuk bersama Najwa. "buk, ini kak Arya sudah datang". ungkap Najwa pada ibu, ibu melihat ke arah Arya dia tersenyum tulus, "gimana kabarmu nak?". tanya ibu ketika Arya menyalaminya. "Alhamdulillah buk, ibuk sendiri Pripun?". tanya Arya balik pada ibu. "Alhamdulillah baik nak, dan gimana ayah dan mamamu apa mereka sehat?". Arya mengangguk, "mereka sehat buk". ibu merasa bersyukur karna keadaan adik angkat juga besannya baik-baik saja, "oh, iya buk. tadi mama kirim salam buat ibuk, katanya kalau gak sibuk mereka akan main kesini". ibu membalas salam tersebut. "waalaikum salam". Arya beserta Najwa duduk, "dimana kak syarif". tanya Arya pada Najwa. "ada di kamar, ada apa kak?". tanya Najwa. "aku mau bicara penting". Najwa beranjak untuk memanggilkan Syarif, "tungguh sebentar, aku panggilkan dulu kak". Arya mengangguk, dia bersandar di sofa, ibu datang membawakan minuman untuk Arya. "minum dulu nak". ibu memberikan minuman pada Arya, dia menerima minuman tersebut dan meminumnya. "makasih buk". ibu duduk di sofa samping, "ibuk lihat sepertinya kamu sangat lelah nak". ujar ibu pada Arya, Arya hanya tersenyum getir, dari dulu ibu selalu lebih memahami Arya di banding mamanya sendiri, "ibuk tahu keadaan bengkel sedang tidak baik, tapi kamu juga harus memerhatikan kondisimu nak". lanjut ibu, Arya tidak dapat membalas kata ibu, bagaimanapun yang di katakan ibu benar dia harus memerhatikan kondisinya. "semua ini ujian nak, kamu jangan terlalu berlebih karna Allah menguji hambanya tidak akan melampaui batas". ungkap ibu dengan telaten. Arya mengangguk. "doakan agar semua kembali seperti sedia kala buk, aku rindu keluarga kita bahagia seperti dulu". lirih Arya. "ibuk selalu berdoa yang terbaik untuk kalian semua anak-anak ibuk, semoga Allah memberi kemudahan di setiap masalah kita". doa ibu tulus. "amin..".
Tok.. Tok.. Tok..
Syarif membuka pintu kamarnya, ada Najwa di depan pintu. "ada apa Najwa?". tanya Syarif. "kak Dayat maaf aku ganggu, kak Dayat gak sibuk kan?". tanya Najwa menelisik ke dalam. "emangnya kenapa?". tanya Syarif memincingkan mata. "kak Arya mau bicara penting dengan kak Dayat". ungkap Najwa, Syarif mengangguk, "okey.nanti aku akan menemui Arya". Najwa kembali menemui Arya di ruang tengah bersama ibu.
__ADS_1
Syarif menutup kembali pintu kamar, Emily keluar dari kamar mandi dia selesai mengambil air wudhu untuk sholat berjamaah. "siapa mas tadi yang mengetuk pintu?". tanya Emily. "Najwa, dia bilang Arya mau bicara". Emily mengangguk. "kita sholat dulu selesai sholat aku akan menemui Arya". titah Syarif. emliy memakai mukenah mereka melaksanakan sholat jama'ah berdua.
"Assalamualaikum warahmatullah". Syarif mengakhiri sholat dengan salam, mereka berdzikir sejenak dan berdoa. "ya Allah berikanlah rahmatmu pada kami, sabarkanlah diri ini menghadapi cobaan yang kau beri, tunjukkanlah jalan yang benar jika kami ke jalan yang salah, engkau maha membolak balikkan sesuatu ya Allah berikan kesembuhan sakit yang di derita istri hambamu ini, hamba tau begitu banyak dosa yang hambamu ini perbuat, ampunilah segala dosa hambamu ini, rabbanaa atinaa fiddunyaa Hasanah wafil akhirati Hasanah waqinaa adzaa bannar. amin". Syarif mengusap kedua tangannya di wajah. "amin". tanpa terasa air mata Emily membasahi wajahnya, dia buru-buru mengusapnya sebelum Syarif melihat, Syarif membalikkan badan dia menatap Emily. dia tahu Emily selesai menangis. perih, itulah yang di rasakan Syarif. Emily mencium punggung tangan Syarif. Syarif mencium kening Emily dengan dalam dan menyematkan doa untuk Emily.