
Syarif bersiap untuk ke bengkel bersama Arya, karna Arya dan Najwa menginap di rumah ibu, sebenarnya berat Syarif meninggalkan Emily untuk menemui dokter Sofia hanya berdua dengan Najwa, tapi Emily terus membujuk Syarif agar dia pergi bersama arya untuk meeting. Emily meyakinkan Syarif kalau dia nanti akan pergi bersama Najwa, kebetulan hari ini Najwa libur jadi bisa menemani Emily bertemu dengan dokter Sofia di rumah sakit. "Sayang, maafkan aku". lirih Syarif pada Emily. Emily mengangguk. "mas kenapa harus minta maaf?". tanya Emily lembut, dia membenarkan dasi Syarif yang belum rapi. "karna aku tidak perna menemanimu saat kontrol". lirih Syarif sedih. "nih, sudah rapi". Emily tersenyum lalu mengambilkan tas kerja milik Syarif. "Mas, mas tidak salah, aku ngerti kok, lagian kan aku gak sendiri ada Najwa yang akan menemaniku". ungkap Emily memberikan tas kerja yang dia ambil kepada Syarif. "nanti kalau aku sudah selesai meeting aku akan menemui mu". ungkap Syarif. Emily mengangguk, "Mas, gak usah khawatir". mereka menuju ke meja makan karna sudah di tungguh untuk sarapan. selesai sarapan Arya dan Syarif berangkat ke kantor milik jenny.
Jenny bersandar di kursi kebesarannya, jenny memang cantik, dia selalu merawat tubuh dan wajahnya, walaupun dia suka minuman keras, tapi dia juga selalu berolah raga. Jenny menatap file yang akan dia bahas dengan Syarif, bagaimanapun soal bisnis dia juga tidak mau bisnisnya rugi, apalagi soal kerja sama dia harus teliti dengan orang yang benar-benar mempunyai tanggung jawab.
Tok.. Tok.. Tok..
__ADS_1
"Masuk!". titah jenny. terlihat asistennya masuk bersama dengan Syarif dan Arya. jenny melihat Arya dan Syarif tersenyum. "selamat pagi nona". sapa sang asisten. jenny mengangguk. dia beranjak menuju sofa, "mari silakan duduk!". mereka bertiga pun duduk. Arya duduk di depan jenny di samping Arya ada syarif. asisten jenny menjelaskan tentang investasi yang akan mereka berikan, "tapi dalam satu bulan kita akan cek bagaimana kerja kalian". tegas asisten. "Baiklah jika itu yang kalian mau". Arya menimpali. "jika dalam satu bulan omset kalian bagus, kami akan memberikan modal untuk memperbesar bengkel kalian/membuat cabang baru". lanjut jenny, Syarif hanya mendengarkan tanpa menimpali. jujur saja Syarif merasa risih melihat jenny yang terus menatapnya. Arya menatap syarif sejenak Syarif mengangguk, dia ingin segera pulang dan menemui Emily. "Baiklah, kami mengerti, aku harap kalian akan puas melihat hasil kerja kami". jenny mengangguk, "kami pamit dulu, permisi". Syarif bangun dari duduknya dia memberi hormat pada jenny dan asistennya. Arya mengikuti Syarif. mereka cepat-cepat pergi meninggalkan gedung tersebut.
Emily dan Najwa menatap gedung rumah sakit milik keluarga Joy. Rumah sakit ini memang sangat besar, dan terkenal sangat mahal karna rumah sakit ini hampir semua dokternya berasal dari luar negri, ada beberapa dokter dalam negri yang bekerja itupun dokter pilihan yang sudah Ahli. kebanyakan orang yang di rawat di rumah sakit ini orang luar dan orang yang berkelas, semenjak kepemimpinan beralih Joy yang memegang, masyarakat sekitar juga banyak yang periksa dan di rawat di rumah sakit ini. rumah sakit milik keluarga Joy ini tidak menerima BBJS. tapi Joy punya cara sendiri untuk meringankan biaya jika ada seseorang yang di lihatnya kurang mampu. Joy juga mensubsidi bagi ibu-ibu hamil jika kurang mampu untuk setiap bulan agar kontrol rutin setiap bulannya. "ayo mbak kita masuk". emily mengangguk, "dokter Zahrah juga sudah menunggu kita". Tadi dokter Zahrah menghubungi Emily dia bilang jika dia akan mengantar Emily menemui dokter Sofia, dokter Zahrah bilang dokter Sofia dia adalah mentor nya. Emily dan Najwa langsung menuju ruang dokter Zahrah kebetulan hari ini pasiennya tidak terlalu banyak.
Tok.. Tok.. Tok..
__ADS_1
"permisi dok". asisten dokter Zahrah masuk dan memberi tahu jika dokter Sofia sudah datang. "dokter Sofia sudah datang, sekarang dia sedang menungguh nyonya Amelia di ruangannya". terang perawat yang merupakan asisten dari dokter Zahrah. "baiklah kalau begitu kita segera menemuinya". dokter Zahrah mengajak Emily ke ruangan dokter Sofia. "mari nyonya Amel kita ke ruang dokter Sofia". Emily dan Najwa mengikuti dokter Zahra menuju ruang dokter Sofia.
"Jadi kamu sudah pulang?". tanya syarif pada orang yang sedang menelfon ya. "baiklah terimah kasih banyak". Syarif mematikan panggilannya. "Joy sudah kembali?". tanya Arya pada Syarif, Syarif mengangguk. "syukurlah, dengan begitu kamu bisa fokus pada kesembuhan istrimu". tutur Arya, Syarif merebahkan tubuhnya pada sandaran jok mobil. "kita langsung ke rumah sakit saja!". pinta Syarif, Arya mengangguk, dia melajukan mobilnya menuju rumah sakit milik Joy. dalam perjalanan mereka tidak banyak bicara, kendaraan pun tidak terlalu macet, jadi tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di rumah sakit milik keluarga Joy. Arya memarkirkan mobilnya. mereka turun berdua. Syarif menghubungi dokter Zahrah karna Emily tidak menjawab pesan dan telfonnya. dia bertanya pada dokter Zahrah keberadaan Emily saat ini, dan dokter Zahrah bilang kalau Emily sedang di periksa oleh dokter Sofia. "Kamu ke lantai dua kami sekarang berada di ruang obgyn untuk cek lebih lanjut keadaan istrimu". Syarif langsung menuju lantai 2 bersama arya. mereka menelusuri lorong rumah sakit tersebut sampai di ruang obgyn Syarif melihat Najwa dan dokter Zahrah sedang duduk menungguh Emily yang sedang di periksa oleh dokter Sofia, awalnya Najwa ingin masuk menemani Emily tapi Emily tidak mau, dia bilang dia baik-baik saja. "Najwa dimana mbak mu?". tanya Syarif gelisah, "lagi di periksa di dalam kak, tadi Najwa ingin ikut masuk, tapi mbak Amel mencega Najwa jadi Najwa dan dokter Zahrah menungguh di sini". jelas Najwa. dokter Zahrah membenarkan. "sebaiknya kita tungguh disini saja dulu". titah dokter Zahrah. Syarif pun duduk bersama menungguh Emily selesai di priksa oleh dokter Sofia. sedangkan Arya menghampiri Najwa dia duduk di samping Najwa.
Sedangkan di dalam Emily sedang berbaring di brangkar dokter Sofia di bantu perawat sedang memeriksa Emily. dokter Sofia melakukan MRI dan CT scan untuk melihat benjolan di rahim Emily. ternyata benjolan itu bertambah besar dari hasil USG yang di lakukan dokter Zahrah beberapa Minggu lalu, dokter Zahrah sudah memberikan obat penggempur tapi tidak berhasil, dokter Sofia menghela nafas dalam karna jalan satu-satunya melakukan operasi.
__ADS_1