Tuntun Aku Jadi Makmummu

Tuntun Aku Jadi Makmummu
Bab 74


__ADS_3

Gerry berjalan di lorong rumah sakit, dia mencari kamar VIP yang terletak di lantai 2. terlihat seorang laki-laki dan duduk di kursi tungguh dia nampak fokus pada ponselnya. Gerry berhenti di depan ruang VIP tersebut.


"dimana jenny?". kata Gerry datar. lelaki itu melihat ke arah Gerry dia beranjak dari duduknya.


"Oh, jadi kamu, dokter sedang memeriksanya, saya kira saya harus pergi". sarkas Syarif melangkah pergi. saat itu pula bertepatan dokter keluar ruangan.


"Anda keluarga pasien?". tanya dokter pada Gerry. Gerry mengangguk.


"selamat ya, anda akan menjadi ayah, karna mbak jenny positif hamil". tutur dokter pada Gerry, Syarif yang sempat mendengar ungkapan dokter menghentikan langkahnya. dia berbalik arah dan menatap Gerry, terukir senyuman kecut di bibir Syarif. Syarif kembali melangkah keluar dari rumah sakit tersebut.


Gerry nampak kaget dengan penjelasan dokter. "anda boleh masuk, tuan". saran dokter. Gerry mengangguk dan dia masuk menemui jenny di dalam.


Di dalam kamar VIP tersebut seorang wanita menatap geram pada seorang lelaki yang menghampirinya. lelaki itu berdiri di sebelah brangkar tempat wanita itu berbaring. hening sejenak tidak ada percakapan antara mereka berdua. hingga terdengar bunyi pintu di buka oleh perawat untuk mengantarkan makanan untuk pasien tersebut.


"Permisi tuan, waktunya minum obat, tapi sebelum minum obat anda harus makan terlebih dahulu nona". ujar perawat sambil menaruh nampan di atas meja. wanita itu hanya diam.


"Baik suster, biar nanti saya yang membujuknya, terima kasih". ucap Gerry pada perawat. perawat itu pamit.


"aku akan bertanggung jawab". Gerry mendekati jenny.


"Bukan tanggung jawab saja yang aku butuhkan". tukas jenny. memalingkan mukanya. "lalu apa yang kau mau?". jenny hanya diam. Gerry mencoba lagi untuk bertanya dengan halus pada jenny.


"katakan jika aku mampu_".


"Apa kau pikir hanya dengan tanggung jawab semua akan selesai?". berang jenny.


"kita akan menikah, aku akan bilang pada mama dan Papamu".


Jenny mendengus, yang di inginkan jenny adalah cinta yang tulus, percuma jika hanya dengan pernikahan tanpa ada rasa cinta di dalamnya pasti akan terasa hampa. jujur saja jenny memang memendam rasanya pada Gerry dari mereka sekolah. tapi Gerry menganggapnya hanya sebagai teman.

__ADS_1


"Tolonglah Jen, jangan begini, kasihan bayi yang ada di perutmu dia tidak bersalah, aku akan menyayangi kalian". mohon Gerry.


"percuma ger, walaupun kau mau menikahi aku, tapi kau tidak perna mencintai aku, kamu pikir aku ini apa?". mata jenny mulai berkaca-kaca. "Yang ku inginkan adalah cinta dan kasih sayang, bukan hanya pernikahan saja_hiks". Gerry memeluk jenny untuk menenangkannya. "aku akan berusaha mencintaimu Jen demi anak kita, tolong mengertilah". kata Gerry lembut. "aku tidak mau seperti mama dan Daddy menikah bukan di landasi oleh cinta ujung-ujungnya mereka bercerai". lirih jenny. Gerry menutup mata. sebisa mungkin dia akan mencoba untuk mencintai jenny. jenny luruh dalam pelukan Gerry.


Di rumah Emily sudah menungguh kedatangan Syarif, tadi Syarif bilang ada meeting mendadak, jadi dia pulang telat, dan Syarif bilang ada kendala saat meeting mungkin dia pulangnya agak malam. Emily melirik jam sudah menunjukan pukul 8 malam, tapi Syarif belum juga datang. Emily memutuskan masuk ke kamar dia akan melaksanakan sholat Isyak, saat ingin melangkah terdengar bunyi mobil berhenti milik Syarif, Emily menghentikan langkahnya dan berbalik ingin membukakan pintu dan menyebut Syarif.


Ceklek...


"Assalamualaikum mas". sambut Emily mencium punggung tangan Syarif dan membawa tas kerja Syarif.


"waalaikum salam sayang, maaf ya, sudah bikin kamu menungguh lama!". jawab Syarif,


"Gak apa-apa kok mas". mereka berjalan masuk beriringan.


"Kamu sudah makan?". tanya Syarif. Emily menggeleng. "belum mas, kami menungguh mas pulang". terang Emily. Syarif menghela nafas berat.


"kalau begitu mas mandi dulu, kamu siapin makan malam, selesai mandi kita makan, kasihan kalian sudah menungguhku". Emily mengangguk. Syarif melangkah menuju kamar sedangkan Emily akan menyiapkan makan malam.


Tok.. Tok..Tok..


Ceklek...


"ibuk, ayo makan malam, mas Syarif sudah datang buk". ibu mengangguk dan berjalan bersama Emily menuju ruang makan. sampai ruang makan ternyata Syarif sudah duduk menungguh mereka berdua.


"Mas sudah dari tadi?". tanya Emily, mengambilkan piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk lalu di berikan pada Syarif.


"Gak, barusan kok sayang". jawab Syarif. Emily pun mengambilkan ibu nasi dan lauk.


"terimah kasih nak". ujar ibu, emilypun mengambil makanan dan mulai duduk untuk menyantap makanannya.

__ADS_1


"Najwa, kamu makan sayur yang banyak ya sayang". seru mama Arya mengambilkan lauk pauk untuk Najwa.


"terimah kasih ma". Najwa mulai memakan makanan yang di berikan oleh mertuanya. Arya dan ayahnya melihat dengan senyum bahagia, akhirnya cucu yang selalu di nantikan selama ini akan hadir dalam dunia ini.


"Ayah, ayo ya di makan, mama mau manjain Najwa dulu". cebik Fatimah pada suaminya. ayah Arya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya.


"iya ma, ayah tau". kata ayah mulai menyantap makanannya.


"kak Arya, maaf ya, biar Najwa yang mengambilkan nasi untuk kakak". Arya menggeleng, dia lalu mengambil nasi dan ikan sendiri.


"gak usah Honney, kakak bisa ambil sendiri kok". Najwa merasa tidak enak hati.


"jangan sedih gitu dong sayang, Arya sudah terbiasa dari kecil mandiri, lagian kamu itu harus banyak istirahat, hamil kembar itu lelahnya juga dobel sayang". saran mama Arya pada Najwa. Najwa mengangguk mengerti. "Arya, sebaiknya kamu juga harus kurangi kesibukanmu, jagalah istrimu biar anak buahmu yang hendel pekerjaan di bengkel". saran ayah menambahi.


"Iya ya, Arya akan usahakan".


"baguslah,". mereka melanjutkan makan malam dengan khidmat.


Sementara di mension Mariya. dokter Williams menjelaskan pada Mariya jika dia besok akan bicara pada Syarif, apakah Syarif menginjinkan dia menikahi ibunya atau tidak.


"Om, jika Syarif tidak merestui kalian bagaimana?". tanya Joy penasaran, apakah langkah yang akan di ambil dokter Williams selanjutnya.


"Om, akan menungguh sampai dia merestui kami?". jawab dokter Williams seakan menerawang jauh. Mariya hanya melihat 2 orang beda generasi yang mencintai wanita yang begitu tulus.


"Jo pikir om akan kembali ke Amerika". dokter Williams tersenyum kecut.


"Om sudah pernah melakukan itu, tapi percuma, rasa cinta ini masih tetap sama, tidak hilang tapi tambah dalam". Joy berpikir apakah nasibnya kelak sama seperti dokter Williams.


"Asal kamu tahu Jo, om Will dulu itu banyak yang suka, bahkan sudah mau nikah tapi gagal terus, ya, itulah mungkin namanya bukan jodoh". jelas Mariya.

__ADS_1


"Jadi om juga mencoba untuk membuka hati pada seseorang?". tanya Joy, Williams mengangguk. "Tapi sia-sia".


__ADS_2