
Najwa dan ibu sedang memasak di rumah untuk makan malam nanti. Emily saat ini pergi ke rumah ayahnya, karna tadi ayahnya telfon bilang jika orang yang di kirim Aleando sudah sampai, Aleando mengirim arsitek untuk mendesain galeri milik ayah Emily menjadi sanggar. Emily sebenarnya tidak enak hati meninggalkan ibu, tapi ibu yang meyakinkan Emily agar menemui arsitek itu, kebetulan Najwa juga datang, jadi Emily pun pergi ke rumah ayahnya.
Sampai di rumah ayah, Emily bergegas masuk, disana sudah ada ayah dan pria yang seumuran dengan Emily duduk di ruang tamu.
"maaf, aku agak telat!". Ungkap Emily menghampiri ayah dan pria tersebut.
"tidak apa-apa nak, ini pak Dwi dia yang di kirim Ale, untuk mendesain sanggar kita". ungkap ayah pada Emily. Emily tersenyum dan menangkupkan tangannya di atas dada.
"Saya Amelia". Emily memperkenalkan diri, Dwi tersenyum manis dan membalas Emily.
"nama saya Dwi Saputra anda bisa panggil Dwi" "mari kita langsung ke lokasinya pak Dwi!". ajak Emily. mereka pun melangkah ke galeri yang ada di belakang rumah.
Di rumah sakit Joy dan dokter Williams duduk di ruang kerja Joy.
"Om, dengar dari Daddy mu kamu mau membantu biaya untuk pasien gagal ginjal". Joy mengangguk lalu, dia masih menatap dokumen yang di bawah.
"Om bersyukur karna kamu dan Daddy mu membantu Syarif, om juga bersyukur karna kamu juga sangat melindungi Najwa, kamu memang terbaik Joy". tutur Williams.
"Om, jangan berlebihan". elak Joy. dokter Williams berdiri dari duduknya dia menghampiri Joy.
"Najwa sangat beruntung, dia di kelilingi orang-orang yang sangat menyayanginya, Om harap walaupun kamu sudah bisa membuka hatimu tapi om harap kasih sayangmu pada Najwa tidak pupus". Joy menetap dokter Williams.
"Maksud om?". tanya Joy.
"Om tahu kamu mencintai Najwa, meski perasaanmu itu salah, tapi om harap jika kelak hatimu sudah terbuka untuk orang lain tetaplah sayang dan menjaga Najwa, walaupun itu kau anggap sebagai adik". Joy mengangguk.
'Bagaimana bisa aku membenci Najwa, sedangkan rasa cinta dan sayangku malah tambah besar untuknya'. guman Joy dalam hati.
__ADS_1
"Terima kasih Joy, om bersyukur mempunyai keponakan baik seperti dirimu". dokter Williams beranjak meninggalkan Joy yang masih terdiam, entah apa yang di pikirkan oleh Joy.
Arya bergegas untuk pulang, hari ini ayah dan mamahnya ada di luar kota, sedangkan Najwa berada di rumah Syarif.
"Abi, besok kamu urus bengkel ya, karna rencananya besok aku akan mengunjungi sorum, disana kurang tenaga kerja". papar Arya pada Abi.
"Okey, siap bos". kata Abi mengacungkan jempol.
"Besok anak yang akan magang akan kesini, nanti kamu hubungi mas Syarif biar mas Syarif yang membimbing mereka". lanjut Arya. Abi mengangguk, Abi dan temannya akan menutup bengkel karna sudah jam 5, mereka akan pulang. begitu pun selesai bicara pada Abi Arya bergegas masuk ke mobil untuk menjemput Najwa di rumah Syarif.
Sekarang Emily dan ayahnya berada di galeri, mereka akan menggunakan galeri itu sebagai sanggar.
"Baik mbak, nanti akan saya kirim gambar desain ke nomer anda". papar Dwi. Emily mengangguk.
"terima kasih banyak pak". ungkap Emily. Dwi tersenyum.
"Kalau bisa panggil Dwi saja, sepertinya kita seumuran". seru Dwi. Emily agak canggung. "Tapi_". Emily sebenarnya tidak enak hanya memanggil nama saja sepertinya kurang sopan.
"Ya mil, kalian kan seumuran jadi mungkin nak Dwi lebih nyaman dari pada di panggil pak, kesannya kayak bapak-bapak aja". celetuk ayah terkekeh.
"Nah, itu dia paman aja ngerti". kata Dwi terkekeh. mereka tersenyum bersama, melihat Emily tersenyum ada rasa berbeda di dalam hati Dwi.
"Baiklah kalau gitu". Emily melihat ada notifikasi dari Syarif jika dia sudah di tungguh di rumah.
"ayah, sudah sore aku pulang dulu ya". pamit Emily ayah mengangguk. Emily memeluk ayahnya, sedangkan Dwi akan menginap di rumah ayah untuk proyek beberapa hari.
"Dwi, aku balik dulu, mudah-mudahan kamu betah di sini". papar Emily pada Dwi, Dwi mengangguk seraya tersenyum. Emily melangkah ke dapur untuk pamit pada ibunya.
__ADS_1
"Ayah aku pamit dulu sama ibu". ayah mengangguk.
"Hati-hati nak!". saran ayah, Emily mengangguk dan tersenyum.
Di dapur ibu sedang memasak untuk makan malam. Emily menghampiri ibu yang lagi berkutat dengan peralatan memasaknya.
"Ibu, aku pulang dulu ya, sudah sore". pamit Emily pada ibu. ibu menghentikan aktifitasnya dan memeluk Emily.
"Hati-hati ya nak, kapan kamu nginep?".
"Insya Allah buk, kalau aku dan mas Syarif gak sibuk". kata Emily lembut. ibu hanya mengangguk.
"Ya sudah, hati-hati salam buat ibuk dan Syarif ya!". Emily mengangguk. Emily beranjak dari dapur dia melangkah keluar dan masuk ke dalam mobil dan melenggang dari rumah ayahnya dan menuju rumah yang kini dia tempati dengan Syarif.
Di meja makan sudah tertata masakan ala ibu dan Najwa, sedikit-sedikit Najwa mulai bisa memasak, meski tak sehebat ibuk, tapi masakan Najwa juga tidak kala enak. Semua sudah pada berkumpul keluarga lengkap versi Najwa, dia pun terkekeh sendiri. Syarif yang memperhatikan Najwa senyum-senyum sendiri merasa aneh saja.
"Kamu kenapa Najwa, kok dari tadi senyum-senyum sendiri?". cedak Syarif. semua yang ada di sana sontak mengarahkan pandangan mereka pada Najwa. Yang di pandang malah melebarkan senyumnya.
"Ya, senang aja, semua berkumpul". papar Najwa.
"Oh, kirain bawaan orang ngidam terus senyum-senyum sendiri". celetuk Syarif. Emily hanya terdiam melirik suaminya yang lagi menggoda adiknya.
"Ya sudah kita mulai saja makannya!". seru ibu. Najwa mengambil nasi untuk Arya, begitu juga Emily mengambilkan nasi untuk Syarif. sedangkan dokter Williams juga dilayani oleh ibu. mereka makan dengan khidmat. Dokter Williams sangat bersyukur karna tuhan telah menyatukan dia dengan Aisyah dan anak-anaknya.
'Terima kasih banyak, kau telah memberiku kesempatan untuk menjadi bagian dari mereka, aku berjanji akan selalu menjaga dan menyayangi mereka ashar'. batin dokter Williams.
***
__ADS_1
Gerry dan jenny bersiap untuk berangkat ke Kanada, mereka akan menikah disana, bagaimanapun Gerry akan berusaha untuk mencintai jenny, di bandara internasional mereka berdua menaiki jet pribadi yang disewa oleh Gerry, karna perjalanan mereka sangat jauh Gerry memilih menyewa jet pribadi karna khawatir jenny yang sedang hamil, Gerry juga membawa perawat pribadi untuk jenny karna Gerry tidak mau terjadi sesuatu pada jenny dan kandungannya.
'Tuhan, aku tahu mungkin aku tak pantas untuk meminta pada mu, Tapi jika aku boleh meminta, aku mohon bimbinglah aku untuk menjadi seorang suami yang baik dan beriman'. doa tulus Gerry.