
Emily menata makanan di meja makan, di lihatnya jam menunjukkan pukul 7 malam, tapi Syarif belum juga datang, "nak, apa Dayat belum pulang?", tanya ibu meletakkan kue ke meja makan, "belum buk", jawab Emily, terdengar mobil berhenti di depan rumah, "buk, mungkin itu mas Syarif, aku lihat ke depan dulu ya buk", ibu mengangguk. Emily bergegas ke depan. "Assalamualaikum", Syarif membuka pintu rumah, Emily pun sampai di belakang pintu hendak membuka tapi Syarif yang lebih dulu membukanya, "waalaikum salam mas", Emily mencium punggung tangan Syarif dengan takzim, Syarif mengusap lembut kepala Emily yang tidak memakai hijab, jika di rumah Emily jarang memakai hijab, "Sayang, kamu nungguin mas ya?", Emily mengangguk. Syarif pun memeluk Emily, "maafin mas ya!", Emily tersenyum seraya mengangguk, "mas pasti lapar, Ayo kita makan malam dulu mas, ibuk juga sudah menungguh!", ajak Emily, Syarif mengangguk dan berjalan menuju ruang tengah untuk makan malam bersama.
selesai makan malam Syarif bergegas mandi, Emily menyiapkan pakaian ganti untuk Syarif dan meletakkan di tempat tidur, sementara dia hendak mengambil kado dari ayahnya untuk di perlihatkan kepada Syarif.
Ceklek...
__ADS_1
Syarif keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk, Emily menatap Syarif masih terpanah dengan suaminya meski sudah 2 tahun menikah tapi bagi Emily Syarif adalah lelaki sempurna yang tuhan kirimkan untuk dia,memang Syarif tidak terlalu putih, tapi kharismanya begitu mempesona, kadang Emily takut ada wanita yang mendekati suaminya, ya benar, memang Emily cemburu jika suaminya dekat dengan para wanita. dari situlah Syarif juga mengerti dia tidak pernah mendekati wanita walaupun itu tentang pekerjaan, dan jika ada klien atau rekan kerja wanita Syarif lebih menghindar Karna Syarif tidak mau Emily sedih, apalagi Syarif tahu jika Emily terkadang sedih karna mereka belum juga di beri keturunan. Berbagai usaha dia lakukan agar Emily cepat hamil, tapi semua di kembalikan pada tuhan, jikalau memang dia sudah tua baru punya anak dia pun akan sabar menungguh seperti nabi Zakariya yang di berikan keturunan saat dia sudah menginjak usia lanjut, dan kalaupun dia tidak di berikan keturunan dia pun ikhlas. "kenapa sayang?", Syarif mendekati Emily yang masih menatapnya, "gak apa-apa mas", Emily tersenyum, Syarif melihat Emily di tangannya membawa benda, "apa itu sayang?", Emily memberikan benda itu pada Syarif, "ini hadia dari ayah mas", di lihatnya benda itu, Syarif takjub, melihat ukiran foto pernikahannya dengan Emily, "Masya Allah ini ayah yang buat?", Emily mengangguk, "indah sekali", Emily mengambil barang itu dari Syarif, "mas pakai baju dulu gi, baru setelah itu kita pajang di dinding", Syarif pun berangsur mengambil baju di tempat tidur lalu memakainya, dia pun segera memajang ukiran foto pernikahannya di dinding kamarnya. Emily tersenyum melihat ukiran tersebut, "Mas, aku ingin mendirikan sanggar untuk ayah", lirih Emily pada Syarif, Syarif menatap Emily, "aku ingin ayah mengajari anak-anak membuat kerajinan dari kayu", lanjut Emily, "itu ide bagus sayang, tapi apa kamu sudah bilang pada ayah?", Emily menggeleng, "jika mas setuju dengan rencanaku baru aku akan bilang pada ayah, mungkin ayah akan senang", Syarif mengangguk, "kamu bilang dulu sama ayah dan bang Ale, kalau mereka setuju akan ku persiapkan semua". Emily tersenyum dia bersyukur karna suaminya sangat peduli dengan keluarganya dan mau mendukung apapun keinginan Emily tentu jika berupa kebaikan.
***
Di hotel Gerry mengantar jenny yang mabuk berat, di papanya menuju ranjang dan di sandarkan tubuh jenny ke ranjang tersebut, wanita itu sudah kebanyakan minum sampai-sampai tidak sadarkan diri, Gerry menatap inten tubuh jenny, tapi tidak sedikitpun dia tergoda meski mereka sering tidur seranjang tapi Gerry tidak pernah menyentuh tubuh jenny. Gerry pun beranjak ke kamar mandi untuk berendam, menghilangkan bauh alkohol di tubuhnya dan menghilangkan pening di kepalanya. ketika berendam Gerry teringat dengan Emily, jujur dia masih punya perasaan untuk Emily, dia awalnya ingin merelakan Emily, tapi perasaannya pada Emily tidak bisa di hapus meski sudah dia coba beberapa kali dekat dengan wanita tapi tetap saja tidak bisa melupakan Emily, berbegai cara dia lakukan bahkan menghancurkan bisnis ayah Emily supaya Emily dapat dia miliki, tapi kenyataannya usahanya sia-sia, dan sekarang dia ingin menghancurkan hubungan Syarif dengan Emily lewat jenny sahabatnya. "jika aku tidak bisa memilikimu maka aku tidak akan membiarkan kamu bahagia dengan pilihanmu", guman Gerry. "Emily meski sekarang kau berhijrah tapi kenapa aku masih ingin memilikimu". sesak terasa di dada Gerry jika dia mengingat cintanya untuk Emily. Dia merebahkan tubuhnya dan tanpa terasa dia pun terlelap.
__ADS_1
***
Suara hentakan dan deru nafas menggema di kamar Arya, sudah beberapa kali dia melakukan pelepasan bersama Najwa, sampai-sampai tenaga mereka berdua habis, Arya berhambur kepelukan Najwa, untung saja kamar Arya kedap suara, "Kak, aku ngantuk", lirih Najwa, Arya terkekeh mendengar penuturan Najwa, dia pun mencium kening Najwa dan tidur di samping istrinya.
Arya terbangun ketika mendengar bunyi talkim, dia pun mendaratkan ciuman di kening Najwa dan beranjak membersikan diri untuk sholat di masjid. 15 menit arya telah selesai dengan ritualnya dia menatap Najwa Masih terlelap, mungkin karna kecapek an akibat ulanya tadi malam, dia pun menghampiri istrinya dan duduk di samping Najwa,di tatapnya wajah Najwa yang begitu teduh, walaupun tanpa make up Najwa tetap cantik, di belainya rambut yang menutupi matanya dengan lembut, karna sentuhan Arya mata Najwa terbangun, "kak Arya" lirihnya, menyadari Arya yang sudah siap ke masjid Najwa pun bergegas bangun dari tidurnya. "Astagfirullah hal adhim kak, sudah jam berapa ini?", Najwa bangun hendak ke kamar mandi tapi seketika dia lupa jika dia tidak memakai sehelai pakaian pun. Najwa kembali duduk kembali ke tempat tidur karna malu di lihat Arya dia buru-buru menutup tubuhnya dengan selimut. Arya terkekeh melihat tingkah Najwa. "Katanya mau mandi?", godah Arya, pipih Najwa bersemu merah menahan malu, terdengar suara adzan subuh berkumandang. "kak Arya cepetan ke masjid tu sudah adzan", elak Najwa. "iya Honney, kamu mandi jangan lupa dandan yang cantik, karna membahagiakan suami itu termasuk ibadah", Arya beranjak pergi meninggalkan Najwa hendak ke masjid.
__ADS_1