
"Mas, kita mampir toko dulu ya, aku mau beli camilan untuk para pekerja di kebun mas". Syarif mengangguk dia menghentikan mobilnya di pasar terdekat. Syarif turun dari mobil di susul Emily. mereka memasuki area pasar Emily memilih beragam camilan mulai dari pisang goreng sampai cimol. selesai dari pasar mereka pun melanjutkan perjalanan ke perkebunan. Ketika di lampu merah Emily melihat anak-anak jalanan pada mengamen ada juga yang menjajakan koran dan minuman. Emily teringat dengan niatnya ingin membuat sanggar kerajinan, yang di peruntukkan bagi anak-anak jalanan yang ingin belajar kreasi seni. tapi niat itu terkendala karna kondisi Emily saat ini. Syarif memperhatikan Emily dengan diam. "Sayang, kenapa?". Emily yang merasa di panggil diapun menghadap ke Syarif. "Sayang, aku ingat saat bilang padamu tentang keinginan ku membuat sanggar untuk ayah". Syarif melihat lampu hijau sudah menyala dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. "kamu tenang saja, jika kamu sudah sembuh aku pasti tepati janjiku". Syarif memegang punggung tangan Emily. tidak begitu lama akhirnya mereka memasuki area perkebunan, meski pakai mobil jalannya agak lebih lama dari bersepeda. mobil Syarif terparkir di depan perkebunan, para pekerja menghampiri mereka, dan Emily pun membagikan beberapa jajanan yang dia beli untuk di makan nanti waktu istirahat. pak Yusuf membawa mereka menyusuri perkebunan, bermacam-macam bunga sudah di petik, dan di tata rapi, dan akan di kirim ke toko bunga langganan, juga pesanan untuk dekorasi pernikahan, sedangkan melon yang siap panen juga akan di kirim ke mall dan di eksport ke luar negri, sedangkan untuk stroberi mereka akan mengirim ke pelanggan di toko buah saja.
Syarif dan Emily beristirahat di gazebo, "Sayang, kamu istirahat di kamar dulu, nanti aku sama pak Yusuf akan mengecek kembali barang yang siap di kirim". terang Syarif. Emily mengangguk, "permisi bang!". ada seorang anak laki-laki membawa stroberi dan melon di nampan, "ada apa?". tanya Syarif. "ini bang buah untuk kakak, tadi aku petik ini khusus untuk kakak". Emily tersenyum senang, dan mengambil buah dari anak laki-laki itu, "terimah kasih". ucap Emily, anak laki-laki itu tersenyum tulus. "sama-sama kak, aku pamit dulu bang". anak itu hendak beranjak tapi Emily mencegahnya. "tungguh, siapa namamu?". tanya Emily lembut, anak itu menghampiri Emily dan memperkenalkan dirinya. "namaku Angga kak". Emily mengambil selembar uang seratus ribu dan memberikan pada Angga. "Angga, terima kasih banyak kamu membawakan buah untuk kakak, sabagai ini untuk kamu". Angga menolak, "tidak kak". Emily meraih tangan Angga dan meletakkan uang itu di telapak tangan Angga. "Angga, ini tips dari kakak, Angga wajib terima". Angga masih bersih kokoh, "bang Syarif sudah baik sekali dengan ibuku, berkat bang Syarif kami tidak lagi terlantar kak, Angga hanya ingin memberikan ini sebagai rasa terimah kasih angga pada kalian semua yang telah membantu kami". ungkap Angga. Syarif mendekati Angga, "terimalah Angga, jika kamu tidak menerima maka kakak Amel akan sedih, kamu mau kak Amel sedih". Angga menggeleng. "jadi terima ini untuk jajan kamu di sekolah". Syarif memberikan uang itu pada Angga. Angga pun menerima uang itu karna dia tidak mau membuat Emily sedih. "na, gitu dong, kakak kan jadi senang". ungkap Emily. "terimah kasih banyak kak".Angga pun berpamitan dia bergegas menemui ibunya. Emily menatap Angga nanar. pak Yusuf menghampiri Syarif. "Maaf tuan, apa tuan jadi ikut mengecek ke gudang?". Syarif mengangguk dia pun berpamitan pada Emily. "sayang, aku ke gudang dulu ya". Emily mengangguk, dia pun melangkah ke kamar untuk istirahat sejenak.
Najwa bersama ibu ke pondok, mereka membagikan makanan untuk anak-anak, dan meminta doa biar Emily di berikan kesembuhan. ustadz Jailani pun memimpin doa, mereka membacakan surat Al Fatihah untuk kesembuhan penyakit Emily. selesai membagikan makanan Najwa dan ibu sowan ke dhalem(rumah). ustadz Jailani.
__ADS_1
"terimah kasih ustadzah atas ketulusan doanya". titah ibu, "ini merupakan kewajiban seorang muslim mendoakan saudara yang sakit buk Aisyah". jawab ustadzah Aini. "kami juga sangat berterimah kasih banyak, karna kalian tidak henti-hentinya membantu di pondok ini". ustadz Jailani menimpali, "semoga Allah memberikan jalan terbaik untuk nak Amel", "aminn". ibu dan Najwa berpamitan pulang. "ustadzah kami pamit dulu, assalamualaikum". "waalaikum salam". ustadz Jailani dan ustadzah mengantar sampai depan pondok.
Di sebuah hotel berbintang lima Gerry dan jenny duduk di restoran. "jadi mereka menggagalkan kerja sama dengan mu?". tanya jenny enteng. Gerry hanya mengangguk. "So, kamu mau ke Kanada?". Gerry mendongak menatap jenny. "i don't know". jenny mengangguk, "apa papa tidak bisa bantu kamu?". Gerry menghela nafas, "Victor perusahaan yang besar, apa papamu mau berurusan dengan perusahaan tersebut?". jenny mengangguk, dia pun mengerti papa nya memilih jalan aman untuk perusahaannya, dia tidak ingin mengganggu atau di ganggu oleh perusahaan lain yang sekiranya akan menimbulkan dampak negatif untuk perusahaannya. "satu-satunya cara adalah meminta bantuan Tante Ragiel mungkin dia bisa bantu". ucap jenny, dia pun pergi meninggalkan Gerry.
***
__ADS_1
Ceklek...
Di lihatnya Emily sedang tertidur, Syarif menghampiri dan menciumnya lembut, Emily terbangun, "Mas". "maaf bangunin kamu!". lirih Syarif. "Mas sudah lama?". tanya Emily bangun dari tidurnya. "Barusan, mas mau sholat dulu". "Astagfirullah mas, jam berapa ini?, aku juga belum sholat". "kalau gitu kita sholat jama'ah". Emily mengangguk dia segera mengambil wudhu bersama Syarif dan melaksanakan sholat berjamaah di kamar.
"Assalamualaikum warahmatullah". Syarif mengahiri sholatnya dengan salam. begitu pun dengan Emily. Emily mencium punggung tangan Syarif dengan takzim. Seusai sholat mereka bergegas keluar mereka menghampiri para pekerja di kebun. Emily sangat gembira, dia bisa bercanda gurau dengan para pekerja mereka tidak sungkan. Syarif bersyukur setidaknya dia bisa melihat senyum Emily lagi, waktu tak terasa sudah beranjak sore Syarif mengajak Emily untuk pulang. Emily pun pamit pada para pekerja.
__ADS_1
"kak, sering-sering kesini ya!". Angga menghampiri Emily. Emily mengangguk. "insya Allah, jika ada waktu kakak akan ikut mas Syarif kesini". Angga tersenyum senang. "ANGGA". suara bariton mengagetkan Emily dan Angga mereka menoleh ke sumber suara. ada seorang laki-laki paru baya menghampiri. "Angga, kenapa kamu tidak sopan dengan nyonya besar?". sarkas laki-laki itu. Angga menunduk terdiam. "maaf kan Angga nyonya sudah tidak sopan pada anda!!". laki-laki itu menunduk untuk meminta maaf. "tidak apa-apa pak". jawab Emily tersenyum. "Angga anak yang baik kok, bapak jangan marahi dia". laki-laki itu masih terdiam dengan penuturan Emily. Syarif yang sedari tadi melihat dia pun angkat bicara. "pak justru aku ingin berterima kasih pada Angga karna dia telah mengembalikan senyum istriku". laki-laki itu sungkan pada Syarif yang merupakan bosnya, dia merasa bersyukur bos mereka orang-orang yang sangat baik. "Tuan, kami lah yang harus berterima kasih pada anda, karna anda sekarang kita punya rumah juga kehidupan yang layak, kami tidak tahu harus membalas kebaikan anda tuan". Syarif tersenyum. "pak kita melakukan semua itu dengan ikhlas, bapak tak perlu sungkan pada kami". laki-laki itu mengangguk, Syarif pun mengajak emily untuk pulang.