Tuntun Aku Jadi Makmummu

Tuntun Aku Jadi Makmummu
Bab 30


__ADS_3

"Mas, apa ini bagus?", tanya Emily membawa kain batik Bali di tunjukan pada Syarif, "Bagus", Syarif kembali memilih kain bali, dia memilih satu set lalu menyuruh penjaga tokoh untuk membungkusnya, "gimana kamu pilih yang mana?", Syarif mendekati Emily, Emily memilih dan menyuruh penjaga tokoh membungkusnya, "Uda mas, sekarang kita kemana lagi?", tanya Emily membawa paper bag berisi kain batik, mereka keluar dari tokoh dan berjalan menuju galery lukisan, Syarif ingin membelikan lukisan pada ayah Emily, "mas yakin mau beli lukisan ini?" tanya Emily melihat harga lukisan itu sangatlah mahal baginya, Syarif mengangguk, "ayah kan suka sama seni, jadi kita beli lukisan ini untuk ayah", Emily Masi tidak menyangkah karna Syarif membeli lukisan itu untuk ayahnya, dia kira untuk di pajang di rumah, lukisan itu pun di bungkus rapi, seusai membayar Syarif mengajak Emily makan dan membeli jajanan khas Bali, seperti pie Bali, puas belanja mereka kembali ke hotel.

__ADS_1


Najwa berjalan menuju pondok, kebetulan hari ini dia mengajar mengaji di pondok, "kak najwa", sapa salah satu santri pondok, Najwa tersenyum pada santri tersebut, "kamu dari mana?", tanya Najwa pada santri itu, santri itu bilang dia di suru ustdzah Aini memanggil ustadz Jailani di dhalem (rumah) karna ada tamu yang ingin bertemu, "Lho biasanya kalau ada tamu kan di ajak ke dhalem?", tanya najwa yang penasaran kenapa tamu itu tidak mau ke dhalem dan ingin bertemu di musholah saja, "Katanya tamu itu mau lihat anak-anak mengaji kak", jelas santri itu, Najwa dan santri itu berjalan menuju musholah, di musholah para santri sudah berkumpul dan membaca doa, "Rabbis rahli Shodrii, wayas sirli Amrii wahlul uqdatammil listaanii yafqahuu qaulii", dan di teruskan membaca surat Al fatihah, Najwa dan santri tadi duduk di belakang santri lainnya, seusai doa para santri berkumpul di guru masing-masing. ustadzah Aini sepertinya Masi menjamu tamunya, ustadz Jailani menemui tamu itu dan mereka berbincang-bincang cukup lama, Najwa sedang mengajar anak-anak menghafal surat Al bayyinah para santri itu pun satu persatu maju melantunkan ayat tersebut, semua santri sudah hafal surat Al bayyinah, di lanjutkan membaca surat Al Kahfi, seusai membaca surat Al Kahfi para santri berdoa, "Allahummar hamni bil Qur'an, waj'al hulii imaamaw wanuuraw wahudaw wa rahma, allahumma dzakirni min Huma nastiituu wa alimni min humaa jahiltu, waj'alnii tilaa watahuu aana alaihi wa adra fannahar, waj'al hulii hujjataw ya rabbal a'lamin, ya Allah sayangi kami dengan Al Qur'an, jadikanlah Qur'an iman dan cahaya petunjuk dan rahmat, ya Allah tegurlah kami bila melalaikannya dan ajarkan mukjizat Al Qur'an yang menjadi sumber Rizki sepanjang malam dan sepanjang siang hari, jadikan Al Qur'an pedoman ya Tuhan kami". para santri menutup Al Qur'an masing-masing dan bergantian menyalami guru yang mengajar. seusai mengajar Najwa hendak berpamitan pada ustadzah Aini, tapi sepertinya ustadzah Aini Masi ada tamu, Najwa mengurungkan niatnya, dia berpesan pada santri pengurus pondok dia akan pamit pulang dulu, karna ada mata kulia sore. Najwa melihat jam di pergelangan tangannya dia buru-buru ke kampus, dia menungguh ojek di depan pondok. "Nak Najwa", sapa seseorang dari belakang Najwa pun berbalik ke belakang karna ada yang memanggilnya, "Assalamualaikum nyonya", sapa Najwa, "waalaikum salam, Najwa kamu mau pulang?", tanya wanita paru baya itu dan di sampingnya seorang laki-laki, "gak, aku hendak ke kampus", Najwa melihat jam di tangannya, dia resa karna belum juga ada ojek yang lewat, dia hendak memesan grab tapi wanita tersebut memberi tumpangan, "Najwa gimana kalau bareng kita aja, kebetulan searah kan kampus sama rumah ku", Najwa berpikir sejenak dia hendak mengambil ponsel di tas, Najwa hendak menolak tawaran tersebut, tapi ustadzah Aini datang membawa paper bag dan menyuruh Najwa untuk bareng sama wanita paru baya itu, "Najwa, untung kamu Masi disini", ustadzah Aini setengah berlari, "ada apa ustadzah?, maaf Najwa tidak sempat pamit karna tadi ustadzah ada tamu", lirih Najwa, "Ini, kamu pake saat mengajar ya besok", ustadzah Aini memberikan paper bag pada Najwa, Najwa pun menerimanya, "terima kasih ustadzah" , ustadza Aini tersenyum, "kamu bareng Bu Erina aja, nungguh ojek pasti lama", saran ustadzah Aini, perkataan ustadzah Aini ada benarnya Najwa pun mau bareng Bu Erina dan Devan, Najwa pamit pada ustadzah Aini dia mencium tangan ustadza dan ikut masuk ke mobil bersama Bu Erina, Najwa duduk di jok belakang bersama Bu Erina, sedangkan Devan yang mengemudi, Devan melajukan mobilnya dengan sedang, tidak lama kemudian sudah sampai di depan kampus Najwa, Devan menepikan mobilnya, Najwa pamit pada Bu Erina seraya mencium tangan Bu Erina, "terimah kasih, atas tumpangannya, Assalamualaikum", Bu Erina tersenyum ikhlas, dan mengangguk, "sama-sama, hati-hati nak", Najwa beranjak turun, karna buru-buru, sampai paper bagnya lupa tidak di bawah. Bu Erina dan Devan memperhatikan Najwa masuk ke kampus, "dia anak yang sholihah, kamu harus sabar untuk mendapatkannya", ungkap Bu Erina pada Devan, Devan suka pada Najwa sejak mereka pertama bertemu ketika kecelakaan, tapi Najwa seakan menghindarinya, papa dan mamanya Devan tahu kalau Devan punya rasa pada Najwa, mereka sebisa mungkin membantu Devan, tapi Najwa seakan menjauh enta dia tidak suka pada Devan atau punya alasan lain. Bu Erina baru menyadari jika paper bag Najwa tertinggal, "Dev, ini barang Najwa ketinggalan", Devan menengok ke belakang, "barang apa ma?", Bu Erina memberikan paper bag itu pada Devan supaya mengantarkan barang itu pada Najwa, "kamu susul Najwa, dan kasihkan ini, besok kan mau di pakai buat mengajar", Devan berpikir sejenak, dia sungkan pada Najwa, "kenapa masih diam, cepetan di antar", Devan pun ahirnya turun meskipun pikirannya antara takut, deg-deg an dan senang. terukir senyum di bibir Bu Erina, Devan menelusuri koridor kampus, mencari keberadaan Najwa, dan sepertinya Najwa sudah masuk ke kelas, "dimana kelas Najwa," lirih Devan, ada salah satu mahasiswa yang lewat di depannya Devan bertanya pada mahasiswa tersebut, "Permisi mas, apa mas kenal dengan Najwa?", mahasiswa itu berpikir sejenak, "Najwa zhafirah ya mas?", Devan mengannguk, "ya, itu kelasnya, sepertinya sudah ada dosen yang mengajar mas", kata mahasiswa tersebut, "Oh, makasih mas,", mahasiswa itu masuk ke ruang kelas di sebelah kelas Najwa. Devan memilih balik ke mobil menungguh Najwa di mobil. "Lho kok di bawah balik paper bag nya?", tanya Bu Erina ketika Devan membawa kembali paper bag milik Najwa, "Najwa sudah masuk kelas ma, ada dosenya lagi ngajar, mending kita tungguh sampai Najwa pulang aja", Bu Erina mengangguk.

__ADS_1


Ponsel Devan berbunyi ada telephon dari kantor, dia di suru ke kantor karna ada berkas penting yang harus segera di tanda tangani Devan. "okey aku akan kesana", Devan menutup panggilan tersebut, "Ma, aku antar mama pulang dulu, ada berkas yang harus aku tanda tangani", Bu Erina hendak bertanya tapi Devan menyeka, "nanti pulang dari kantor aku akan mengantar barang ini ke rumah Najwa", terukir senyum di bibir Bu Erina. "jangan lupa Dev, besok ini kan harus di pakai Najwa mengajar", Bu Erina mengingatkan. Devan mengangguk dan melajukan mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2