Tuntun Aku Jadi Makmummu

Tuntun Aku Jadi Makmummu
Bab 19


__ADS_3

"Ais, Alhamdulillah akhirnya kita berjumpa lagi". Kata dokter Wiliams duduk di restoran bersama ibu, Tadi seusai sholat ibu bertemu dengan dokter wiliams di plataran masjid, kebetulan ibu mau ke restoran depan rumah sakit guna membeli makan siang untuk Najwa, tapi dokter wiliams mengajak ibu untuk ikut makan, awalnya ibu menolak, tapi dokter wiliams menyuruh ibu untuk sekedar duduk sambil menunggu pesanan makanan selesai di bungkus. ibu hanya menunduk, "saat lulus kuliah, aku bertekad melamarmu,tapi aku ke panti dan panti sudah di tutup, aku bersama Mariya terus mencari keberadaan mu, sampai Mariya di jodohkan dan menikah tapi aku terus mencari tahu keberadaan mu, ketika aku sudah tau kamu di pondok, aku hendak melamarmu pada pak kiyai tapi aku terlambat, kamu sudah menikah dengan suamimu, aku tahu kamu di jodohkan. harapanku pupus, 5 tahun aku disini,aku memutuskan kembali ke Amerika tapi, suamimu menemui aku, dia bilang kalau kamu tidak mencintainya dia bilang ragamu dapat dia miliki tapi cintamu bukan untuknya. sontak aku tidak percaya, aku di lamar seseorang tapi setiap sholat istikhara yang ku lihat cuma dirimu Ais, aku bimbang kenapa kamu yang aku lihat dalam mimpi, sedangkan kamu sudah punya suami yang menyayangimu, aku tidak mau merusak kebahagiaan kalian, aku dengar kamu sudah punya anak, berarti kamu sudah mencintai suamimu, aku memutuskan untuk tetap disini tapi aku sudah ikhlas, di saat aku ingin kembali ke Amerika suamimu menemui aku lagi, dia bilang dia tidak bisa menjaga kamu dan anak-anak dia menitipkan kamu padaku, aku menolak karna aku sadar aku tidak mau merusak hubungan kalian. 5 bulan setelah itu aku memutuskan ke Amerika dan tinggal disana karna aku yakin kamu sudah bahagia, disaat ada orang melamarku lagi-lagi aku gagal nikah karna setiap istikharahku selalu kamu yang ku lihat Ais, aku tak tau apa rencana Tuhan dan terakhir aku dengar suamimu kecelakaan, aku pulang pergi antara Indonesia dan Amerika aku terus mengawasimu tanpa kamu tahu, karna pesan suamimu padaku, aku tidak berani menampakan diriku, disaat aku tau Syarif sudah bisa menjagamu, aku memutuskan tinggal di Amerika 5 tahun lalu. tapi aku masi setia menunggumu Ais". lirih Wiliams. ibu sadar diri dia memang mencintai Wiliams tapi rasa bersalahnya pada suami dan kesabaran yang begitu besar hingga dia luluh pada suaminya dan sadar akan kewajibannya sebagai seorang istri,meski cintanya untuk Wiliams Masi tersimpan.


"tapi kita bukan anak mudah lagi mas, kita sudah berumur". lirih ibu, dokter Wiliams tersenyum kering, "cinta itu tidak pandang tua atau mudah, karna cinta itu rasa di dalam sini". dokter wiliams meletakan tangan di atas dada. pesanan ibu sudah selesai di bungkus pelayan restoran memberikan pesanan itu pada ibu, "makasih mbak, berapa?" kata ibu mengambil paper bag, "sudah di bayar mbak". kata pelayan tersebut, ya Aisyah memang Masi terlihat lebih mudah dari usianya, "terimalah Ais, itu rizkimu", bukannya ingin menolak tapi ibu tidak enak hati pada dokter Wiliams, "terimah kasih mas". ibu beranjak dari restoran, dokter Wiliams menatapnya dengan nanar, "aku akan melamarmu pada anak-anakmu Ais".

__ADS_1


***


Hari berganti hari, tidak terasa Syarif sudah sembuh dan dia sudah berada di rumah dokter sudah menginjinkan Syarif pulang tadi pagi, dan sekarang adalah hari penentuan sidang Jacob. Syarif duduk di kursi taman depan rumah melihat 2 kupu-kupu terbang yang saling mengasih, dia teringat akan kata-kata Najwa. "Haruskah aku perjuangkan Emily". lirihnya dalam samar. "apakah aku mampu, menuntun Emily sedangkan dosaku padamu sangat besar tuhan". lanjut Syarif, dia tidak sadar jika ibu ada di belakangnya memperhatikan, ibu menghampiri Syarif, "Nak, kamu kenapa?". tanya ibu halus, Syarif memerhatikan ibu yang duduk di sebelahnya. "Gak apa-apa buk". ibu tersenyum menatap Syarif, "Batin ibuk itu Kuwat nak, kamu memikirkan nak Emily kan?". "Apa Dayat pantas untuk Emily". lirih Syarif. "nak, jika dia jodohmu gak ada kata gak pantas". kata ibu membelai pundak Syarif. "Nak,Jika kamu mencintainya tuntun dia menjadi makmummu". Syarif terdiam, sangat sulit baginya apa dia bisa menuntun Emily sedangkan dia saja dosanya sangat besar, dan lalai akan perintah Allah. "apa bisa buk, apa bisa Dayat menuntun Emily sedangkan Dayat saja dosanya sangat besar buk, akankah Allah mengampuni Dayat buk". kata Syarif tercekat. "Allah memiliki sifat Al ghofur maha pengampun nak, jika kamu kembali ke jalan Allah dan mau bertaubat". kata ibu dengan telaten. "apa dayat pantas bersujud dengan semua kesalahan dayat buk". ibu terus membelai kepala Syarif, "Pantas nak, jika kamu mau bertaubat, sholatlah karna sholat akan membuat hati kita tenang dan mintalah ampunan atas dosa-dosa yang telah kamu lakukan". pinta ibu.

__ADS_1


Di Bandung Emily membantu mairah memberi sedekah pada orang-orang yang kurang mampu dan anak yatim. Keluarga mairah memang selalu memberikan sedekah pada orang-orang yang kurang mampu di desanya setiap akhir pekan mereka mengumpulkan sebagian harta mereka untuk sedekah, Al hasil harta yang mereka berikan tidak habis tapi makin bertambah. "jika kita ikhlas berbagi maka Allah akan memberikan kita pahala yang lebih banyak". ungkapan mairah. emily tersenyum dia teringat pada Najwa dan anak-anak di pondok. "Alhamdulillah, sudah selesai". syukur mairah memberikan bingkisan terakhir pada anak yatim. "kamu kenapa dek, kok ngelamun?". mairah mendekati Emily, "Gak apa-apa kok mbak, Emily ingat pada anak-anak di pondok". ungkap Emily tersenyum. mairah mengernyit bingung, "pondok apa?". Emily tersenyum melihat ekpresi mairah, "pondok anak-anak yatim mbak". "oh..". mereka berjalan masuk ke rumah bersama, "bang Ale gak pulang mbak?". tanya Emily, mairah yang sudah biasa di tinggal pergi Ale jika ada pekerjaan di luar kota dia tinggal di rumah sendiri, karna mairah sejak menika dengan Ale dia memutuskan untuk membeli rumah dan tinggal berdua sama Ale, bukannya dia tidak suka tinggal bareng umi dan Ayahnya dia ingin mandiri karna dia lebih mengerti perasaan aleando kala itu menjadi mualaf tidak lah mudah apalagi lingkungan rumah umi berada di pondok. "Abangmu itu paling kalau pulang 2 Minggu sekali bahkan kadang 1 bulan sekali". tutur mairah, "apa mbak gak kesepian tinggal sendirian di rumah segedeh ini". Emily menelisik rumah kakaknya yang begitu besar layaknya mension. "ya gak juga sih dek, kadang mbak kan juga banyak pekerjaan, mengajar lewat online dan di sekolahan". Emily bercedak, "kalian kerja terus lalu kapan Emily punya keponakan, kasian ibu dan ayah mau gendong cucu". celoteh Emily. mairah terkekeh, "Mungkin kita perlu bulan madu lagi kali untuk buat dedek". angan mairah, Emily tersenyum. "mbak, rumah segedeh ini mbak gak capek bersih-bersinya? kenapa gak cari ART?". tanya Emily mengalihkan pembicaraan. "Gak dek, aku gak suka bermanja-manja dengan tugas yang masih bisa ku lakukan sendiri, abangmu maksa cari ART tapi mbak yang gak mau". Humairah memang tergolong dari keluarga kaya, kakeknya adalah seorang kiyai dia di besarkan di lingkungan pondok tapi dia tidak pernah bermanja, dia cukup mandiri, bahkan rumah yang ditempati adalah hasil kerja kerasnya sendiri, dia memilih menikah dengan aleando yang seorang laki-laki biasa dan seorang mualaf. "mbak kok bisa suka sama bang Ale?, mbak kan dari keluarga terpandang, sedangkan Abang hanya lelaki biasa jauh dari ekspetasi mbak". pertanyaan Emily membuat mairah mengenang masa lalunya, "semua yang terjadi di dunia ini adalah kuasa Tuhan dek". jawab mairah tersenyum. Emily juga ikut tersenyum.


Drett.. Dret..

__ADS_1


"Assalamualaikum ak". telepon dari Aleando, "waalaikum salam," jawab Aleando, "ada apa aak kok nelfon?". tanya mairah merasa aneh, "katakan pada Emily besok di suru ayah pulang, ada hal penting". kata Aleando. "ada apa ak?". tanya mairah lagi, "nanti aku jelaskan lagi, sekarang suru Emily bersiap-siap". tegas Aleando. Emily mengernyit sepertinya ada yang tidak beres. "dek, kamu di suru bersiap-siap untuk pulang". lirih mairah,


__ADS_2