Tuntun Aku Jadi Makmummu

Tuntun Aku Jadi Makmummu
Bab 77


__ADS_3

Tidak terasa 1 Minggu sudah berlalu. Jenny berusaha untuk menerima ketulusan Gerry, Gerry bertekad untuk menemui mama Jenny, dia akan melamar Jenny, Jenny sudah setuju dengan keputusan Gerry, rencananya mereka akan tinggal di Kanada untuk sementara waktu. Hari ini Jenny akan bertemu dengan Syarif dan Arya mereka akan membahas tentang kerja sama yang sudah terjalin. Rencananya jenny akan mempercayakan atau di pegang oleh asistennya, karna dia akan tinggal di Kanada.


"Kamu yakin dengan keputusan mu?". tanya Gerry pada jenny. mereka sekarang berada di apartemen Gerry. Sejak kejadian waktu itu Gerry menunda ke pergian ya ke Kanada. Gerry akan menyelesaikan urusannya beres dulu baru ke kembali ke Kanada.


"Iya, tapi aku tidak akan bilang kalau aku hamil, aku akan bilang mengurus bisnis di Kanada". terang jenny. Gerry melihat ke arah jenny yang sedang memakai lipstik.


"Tapi jika mama tidak menginjinkan kita menikah gimana?". takut, jenny mamanya menentangnya. Gerry mengulas senyumemeluk jenny dari belakang.


"Biarlah Tante gak setuju, aku akan tetap menjadi ayah yang baik untuk anak kita". kini pancaran ketulusan Gerry terlihat begitu tulus di mata jenny. Jenny menghela nafas, dan perlahan dia hembuskan.


Drttt... Drttt...


Bunyi ponsel jenny membuat Gerry melepas pelukannya pada jenny.


"Kamu angkat dulu, aku juga mau siap-siap!". Gerry pergi menjauh dari jenny, dia masuk ke kamar mandi. Jenny melihat nama kontak yang tertera di layar ponselnya, lalu menekan tombol warna hijau di aplikasi ponsel tersebut.


"Baik, aku akan kesana". Jenny mematikan panggilan yang terhubung dengan asistennya, Jenny beranjak dan mengambil tas di atas meja, bertepatan dengan Gerry yang keluar dari kamar mandi.


"Kamu mau berangkat?". tanya Gerry. jenny mengangguk.


"Gerry,,". lirih jenny sebelum berangkat. Gerry menatap jenny.


"kenapa?". Jenny berhambur memeluk Gerry.


"Tunggu aku,kita nanti pergi bersama ke mama" Gerry mengangguk. sebuah ciuman singkat mereka lakukan. Setelah melepas tautannya jenny bergegas pergi menemui Syarif dan Arya.


Di rumah sakit Joy nampak mengernyit mendengar penuturan dokter spesialis dalam.

__ADS_1


"Banyak anak-anak yang masih mudah terkena gagal ginjal tuan. Sekarang ada lebih dari 50 penderita kasus tersebut, diantaranya 90 persen masih anak-anak dan mereka banyak yang dari keluarga kurang mampu". tutur dokter tersebut.


"Kirim kan data mereka pada ku, nanti aku akan diskusikan sama mommy". papar Joy. dokter itu mengangguk.


"Nanti saya akan menyuruh asisten saya, saya permisi dulu tuan, dan terimah kasih banyak_". Joy mengangguk. dokter itu segera pergi dari ruang Joy. Joy melihat data-data pasien yang di tanggung Joy perawatannya. Sekarang dia harus menanggung lagi pengobatan pada anak penderita gagal ginjal tersebut. Sebenarnya mudah pagi Joy membiayai mereka, hanya saja Joy juga harus diskusi dulu sama keluarganya tak lain adalah mommynya, Joy tidak mau keluarga besarnya marah ketika mendapati kalau Joy menggeratiskan biaya pasien. selama Joy yang memegang rumah sakit ini banyak dokter dan perawat yang suka dengan kedermawanan Joy. dulu rumah sakit milik keluarga Joy ini hanya menerima pasien yang berkelas saja karna biaya yang sangat mahal di dukung dengan perlengkapan medis yang memadai dan dokter yang ahli di kirim langsung dari luar negri. Tapi semenjak kepemimpinan Joy dia mengadakan tiap 1 Minggu sekali periksa gratis untuk warga yang kurang mampu, dan membantu meringankan biaya bagi pasien yang kurang mampu.


Drttt...Drttt...


Bunyi notifikasi ponsel Joy. Joy melihat notifikasi tersebut pesan dari mommynya.


'Jo, mami di rumah ibuk sekarang, nanti kamu jumput ok'. Joy tersenyum membaca pesan mommynya.


'siap mom'. balasnya.


Tok.. Tok.. Tok..


"Masuk!!". Pinta Joy. nampak pintu di buka ada perawat yang membawa berkas yang tadi Joy minta.


Di rumah Emily dan Najwa sedang mendekor rumah ibu mereka. Rencananya besok ibu dan dokter Williams akan melaksanakan pernikahan di rumah ini, meski dokter Williams mengajak ibu tinggal di apartemen sementara, dokter Williams rencananya akan membeli rumah di dekat area rumah sakit tempat dia bekerja, sebenarnya Syarif menyuruh mereka tinggal di rumah ini saja. Tapi dokter Williams merasa tidak enak pada Syarif dan Emily. Dokter Williams tiap hari akan mengantar ibu ke rumah, tapi jika malam mereka pulang ke apartemen.


"Mbak, kenapa ibuk gak disini aja sih habis nikah". tanya Najwa pada emily. Emily menggeleng.


"Mas Syarif juga sudah bilang begitu, tapi dokter bilang mereka akan tinggal di apartemen". papar Emily. Najwa mengangguk, dia kembali menata bunga di vas.


"Kalian itu gimana sih, gak peka banget". Timpal umi Mariya terkekeh yang mendengarkan pembicaraan mereka berdua. Najwa dan Emily sontak menatap pada umi Mariya yang terkekeh. Diam sejenak. lalu mereka tertawa bersama.


"Ya juga sih, kan mereka mau malam pertama". timpal Najwa terkekeh.

__ADS_1


"Ya, untung-untung jika kalian punya adik". Mereka tertawa bersama membayangkan Najwa momong anak dan adiknya bersamaan membuat Najwa tersenyum geli. Ibu yang ada di dapur mendengar tawa mereka ibu pun penasaran lalu mendekati mereka.


"Kalian kenapa kok pada tertawa?". tanya ibu.


"Gak apa-apa kok Ais, kita tadi membahas hal yang sangat seru dan lucu". jelas umi Mariya pada ibu.


"Oh, begitu ya". tanya ibu masih menerka penjelasan umi Mariya.


"Kamu sudah selesai masak?". tanya umi Mariya mengalihkan.


"Belum". jawab singkat ibu.


"Kalau gitu aku bantu ya?". ajak umi Mariya. Umi mengajak ibu masuk ke dapur seraya mengedipkan mata pada Emily dan Najwa.


"Selamat siang pak Syarif dan pak Arya". Sapa asisten jenny pada Syarif dan Arya ketika mereka sampai di kantor jenny. asisten itu mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Syarif dan Arya menerima uluran tangan asisten itu bergantian.


"Silakan duduk!". pinta asisten jenny pada Syarif dan Arya. mereka pun duduk bersama di ruang meeting.


"Sebentar lagi nyonya datang, dia dalam perjalanan. kita tungguh sejenak". ucap asisten tersebut.


"Anda mau minum apa?". tanya asisten itu pada Syarif dan Arya.


"Kopi". jawab Arya. asisten itu berganti melihat ke arah Syarif hendak bertanya.


"Kalau anda tuan Syarif mau minum apa?".


"Air putih saja". jawab Syarif datar. asisten itu mengangguk dia memanggil OB untuk membawakan minuman yang di pesan.

__ADS_1


Ceklek..


Pintu terbuka menampakkan seorang wanita yang anggun masuk ke ruang tersebut.


__ADS_2