Tuntun Aku Jadi Makmummu

Tuntun Aku Jadi Makmummu
Bab 22


__ADS_3

"Bismillahirrahmaanirrahim". "Bismillahirrahmaanirrahim"


"Asyhadu, an llaailaaha illaallah". "Asyhadu an llaailaaha illaallah". "Wa Asyhadu anna muhammadan Rasulullah". "Wa Asyhadu anna muhammadan Rasulullah". "aku bersaksi, tiada tuhan selain Allah". "aku bersaksi tiada tuhan selain Allah". "dan aku bersaksi, bahwa nabi Muhammad adalah utusan Allah". "dan aku bersaksi nabi Muhammad adalah utusan Allah". "Alhamdulillah". rasa syukur bergemah di dalam masjid pondok yang menjadi saksi atas kuasa Tuhan yang telah menjadikan seorang non muslim kini telah mengucap syahadat dan sudah menjadi seorang mualaf. ustadz Jailani telah membimbing Emily mengucap kata syahadat dan di saksikan oleh anak-anak yatim disana, Aleando dan mairah mendampingi Emily, juga ibu dan Najwa juga di belakang Emily, Syarif bersyukur karna kini dia dan Emily sudah seiman, Ustadz Jailani melanjutkan dengan membaca doa.

__ADS_1


"Emily, sekarang namamu, Khadijah Amelia yaitu perempuan terpercaya dan cantik". ustadz Jailani memberi nama Islam pada Emily, Emily mengangguk, Syarif hendak mengatakan sesuatu pada ustadz dia menghampiri ustad jailani, dan berbisik pada ustadz, "maaf ustadz, apa boleh jika nama belakangnya di sematkan kata Hidayat?" ustadz Jailani tersenyum mengangguk, "itu lebih bagus, tapi jika nanti kalau kalian sudah sah menjadi suami istri itu lebih baik". Syarif mengangguk mengerti, terlihat ustadza Aini menghampiri Emily, "Nak, sekarang kamu sudah muslim, kamu bisa belajar mengaji disini juga, kamu dulu hanya mendengarkan tapi sekarang kamu bisa membaca mushaf Al Qur'an, belajarlah disini bersama kami, anak-anak pasti senang". Emily sangat bahagia, dia bersyukur karna keinginan dia menjadi seorang mualaf telah tercapai, semua ini karna kuasa Tuhan yang maha agung. "Tolong bimbingannya ustadzah, dan adek-adek, tolong bimbing kakak juga ya!". Emily menghampiri anak-anak panti dan mereka pun berhambur memeluk Emily. "jadi kita bisa belajar bersama sama dong kak, asikk". sorak Sorai anak-anak, Aleando dan mairah pun menghampiri Emily, "dek selamat ya, semoga Istiqomah". mairah memeluk Emily. "makasih mbak". Aleando membelai Emily, "Abang senang dek, kamu akhirnya menemukan jatih dirimu, tetaplah Istiqomah karna akan banyak sekali rintangan yang akan kamu lalui, tapi kamu harus tetap pada pendirianmu apapun yang terjadi". saran Aleando, "sekarang namamu Amel dek, nama yang bagus". Emily tersenyum, "doakan Amel bang". Aleando mengangguk dan tersenyum bersama. Emily melihat ibu dan Najwa ikut tersenyum, Emily menghampiri ibu dan Najwa, "kak, Alhamdulillah ya kak". syukur Najwa, Emily mengangguk, "Najwa tolong ajari kakak ya!". Najwa tersenyum, "pasti kak, nanti kalau kak Dayat sibuk, jangan sungkan pada Najwa kak Emil, eh kak Amel tanya aja pada ibu dan Najwa" kata Najwa tersenyum, Emily tersenyum bahagia. Syarif yang melihat semua itu bersyukur karna orang-orang yang di sayangi bahagia, dan kebahagiaan itu akan sempurna jika Emily sudah halal untuknya. Hari pernikahan pun sudah di tetapkan Minggu depan, Emily meminta agar di adakan acara pernikahan saja tanpa ada resepsi yang terlalu mewah. tapi Syarif dan ibu akan menggelar sukuran selesai acara ijab qobul, pernikahan akan di hadiri keluarga dan teman terdekat saja.


***

__ADS_1


Lalu lalang kendaraan memenuhi jalanan kota, kemacetan belum sebegitu padat karna Masi sore, Joy melajukan mobil sport nya menelusuri jalanan kota, enta apa yang ingin dia cari, di depan kampus Najwa Joy berhenti, Joy membuka ponsel dan menghubungi teman yang menjadi dosen sastra, "aku di depan kampus, apa kamu sudah tidak sibuk?". terdengar sautan di sebrang "ada yang bisa ku bantu?". Joy keluar mobil dia bersandar pada mobilnya,dan benar saja dia menjadi pusat perhatian cewek-cewek kampus, Joy memang tampan wajahnya juga ke bule-bulean, cewek manapun yang melihat dia pasti terpukau. "Carikan guru yang bisa mengajar prifat". ujar Joy penuh ketegasan. terdengar hembusan nafas dari sebrang, "guru untuk apa?". Joy mendengus, "untuk mengajar". "maksudnya mengajar apa?". terdengar suara dari sebrang tak kala lantang, "seperti Selin". Tut..Tut..Tut.. telephon di matikan. "sia-sia gue kesini". kesal Joy, ya Joy ke kampus karna mau bertemu dengan temannya seorang dosen dia ingin meminta bantuan pada temannya untuk mencarikan guru untuk anak-anak di markas. dia kembali masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya.


Drrtt.. drrtt... ponsel Joy bergetar, dilihat di layar di kira temannya tadi yang menelpon tapi Moommy nya lah yang menghubunginya. "Ya mom, Jo akan kesana". panggilan terputus. di sisi jalan terlihat seorang gadis yang sedang berjalan sendiri, kadang gadis itu berhenti sejenak karena mungkin capek karna kondisi kakinya, dan melanjutkan jalan lagi, gadis itu berhenti dan duduk di bangku, menungguh sebuah angkot. Joy berhenti di depan gadis tersebut, Joy turun menghampiri gadis itu, "Najwa kamu mau kemana?", ya, gadis itu adalah Najwa. "mas Joy, Najwa nunggu angkot" jawab Najwa menunduk, "ayo ikut aku".pinta joy dia membuka pintu mobil depan, Najwa menurut dan beranjak dari duduknya "Najwa duduk di belakang saja mas" tolak Najwa. "aku bukan sopirmu". tegas Joy. Najwa pun menurut dia masuk mobil dan duduk di depan. Joy menutup pintu dan berali ke pintu samping dan masuk ke dalam mobil, melihat Najwa yang belum memakai sabuk pengaman Joy memasangkan sabuk pengaman pada Najwa tatapan mata mereka bertemu Joy mengalikan pandangannya dan dia mulai melajukan mobilnya. ya semua cewek-cewek di kampus memerhatikan mereka, Najwa nampak sungkan. "dimana Arya?". kata Joy membuka pertanyaan, Najwa Masi terdiam, "aku akan menghubunginya". joy mengambil ponsel di saku, Najwa yang melihat Joy akan menghubungi Arya dia pun angkat bicara, "kak Arya sibuk, dia mengurus bengkel mas karna kak Dayat kan mau menikah". lirih Najwa, Joy melihat Najwa tangannya gemetar, mungkin dia takut Joy akan memarahi Arya. Joy pun meletakkan kembali ponselnya di dasbor, "bukannya karyawannya banyak". Joy kesal dengan Arya karna dia lebih mementingkan pekerjaannya dari pada Najwa. Najwa hanya diam dia takut jika Joy sudah kesal, Najwa menenangkan hati dan pikirannya dengan berdzikir tangannya gemetar, Joy yang menyadari itu, dia pun mengalihkan pembicaraannya, "apa kamu sibuk?". lirih Joy. Najwa menggeleng, "aku ada perlu sebentar, kamu tungguh disini". Joy menghentikan mobilnya di depan restoran. Joy pun turun menuju restoran, 15 menit Joy keluar dari restoran membawa paper bag berisi makanan. Joy membuka jok mobil belakang dan menaruh paper bag tersebut lalu dia masuk ke dalam mobil, terlihat Najwa yang sedang tertidur, Joy tidak membangunkan Najwa, dia memutar kunci mobil dan melajukannya. Mobil berhenti di depan markas, Najwa terbangun dia menelisik sekitar bingung dengan keberadaannya. "Aku turun dulu, anak-anak itu belum pada makan". Joy akan membuka mobil, "Mas apa boleh aku ikut keluar". tanya Najwa. Joy mengangguk. Najwa pun turun bersama Joy, terlihat anak-anak yang senang dengan kehadiran Joy yang membawa makanan, Andre menyambut Joy dan Najwa, "kak Najwa". sapa Andre, "Andre jadi kamu tinggal disini?". Andre mengangguk, Najwa menelisik ke seluruh ruangan yang nampak seperti bascame, "bagi ini pada anak-anak, kamu dan teman-temanmu juga". Joy memberikan paper bag pada Andre. "baik bang". Najwa Masi melihat-lihat sekitar dia kagum pada anak-anak yang bisa merakit sepeda, "markas ini dulunya milik uncle Jacob, aku dan Syarif menggunakan tempat ini sebagai markas untuk anak-anak jalanan". terang Joy pada Najwa, Andre menghampiri Joy dan Najwa, "maaf bang, apa Abang sudah menemukan guru untuk mengajar mereka?". tanya Andre, " belum". jawab Joy beralih mendekati anak-anak yang makan. "kak Najwa duduk dulu, aku akan ambil minum". Andre hendak pergi ke dapur, tapi di halang Najwa,"Andre tungguh" Andre pun berhenti, "ada apa kak". "kamu tadi bilang mencari guru untuk mereka?" tanya Najwa menengok anak-anak yang pada makan, "ya kak, guru untuk mengajari anak-anak membaca dan menulis, karna kak Selin pergi keluar negri" ungkap Andre, "apa aku boleh, aku mengajari mereka". tanya Najwa, Andre tersenyum senang, "beneran kak Najwa mau mengajari mereka?". Najwa mengangguk, "syukurlah, aku akan bilang pada zAbang Joy". Andre berjalan menghampiri Joy dan bilang pada Joy jika Najwa mau mengajari anak-anak. Joy melihat Najwa yang tersenyum. dia menghampiri Najwa, "terimakasih". Najwa tidak menyangka orang yang angkuh bisa bilang terimakasih, Najwa tersenyum mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2