Wedding Project

Wedding Project
Mewakilkan


__ADS_3

Hari ini Felix pulang dengan keadaan lelah, tetapi tak dia tampilkan di depan istrinya. Dia tahu jika sampai terlihat lelah, istrinya akan sangat khawatir. 


"Kamu sudah pulang?" tanya Chika saat melihat suaminya masuk ke dalam kamar. 


"Iya." Felix mendaratkan kecupan di puncak rambut Chika dan  beralih pada perut Chika. "Halo anak Papa, apa kabar?" Satu kecupan dia berikan untuk anaknya yang entah dia perempuan atau laki-laki. 


"Aku baik-baik saja Papa, tetapi mau makan sushi." Chika menjawab mewakilkan jawaban anaknya. 


Felix menengadah melihat Chika. "Ibu hamil tidak boleh makan sushi."


"Bukan aku yang akan makan."


"Lalu?" Dahi Felix berkerut dalam mendengar jawaban Chika. 


"Kamu … kamu yang akan mewakilkan aku makan sushi, karena aku hanya ingin melihat tampilan salmon mentah dan melihat secara langsung orang makan." 


Felix menelan salivanya kasar. Semenjak di rumah, istrinya itu mengisi waktu dengan menonton televisi.  Dari acara televisi, istrinya itu terinspirasi untuk makan. 


Usia kandungan Chika yang sudah mencapai tujuh bulan memang tidak baik memakan makanan mentah, tetapi Felix tidak bisa menolak permintaan. 


"Baiklah, aku mandi dulu dan setelah itu kita ke restoran sushi." Felix menegakkan tubuhnya seraya melonggarkan dasinya. Kemudian membuka jas yang dipakainya. 


Mendapati jawaban suaminya, Chika merasa sangat senang. Walaupun tidak makan, tetapi dia ingin melihat tampilan sushi di depan matanya.


Setelah Felix selesai mandi dan bersiap, mereka pergi. Felix hanya tampil sederhana dengan kaos hitam dan celana pendek. Tak formal, mengingat mereka hanya ke restoran di mal.


Sampai di restoran, Chika memesan beberapa jenis sushi. Selain memesan sushi yang dengan salmon mentah, dia memesan beberapa jenis masakan yang diolah dan tidak mentah. 


Felix hanya pasrah saat melihat makanan di depan mejanya yang begitu banyak. Malam hari dia menghindari makan berat, sedangkan istrinya memberikan makanan yang begitu banyak. 

__ADS_1


"Ayo semangat habiskan." Chika tahu suaminya berat jika harus diminta makan malam berat, tetapi melakukannya demi dirinya. 


"Aku kuat." Felix mengangkat kedua tangannya yang menunjukan lengannya seolah dia adalah pria kuat yang siap memakan semua sushi. 


Dengan supit di tangannya, Felix memulai memakannya. Perlahan, makanan yang di depannya habis tak tersisa. Hal itu membuat Chika begitu senang. Serasa menonton secara langsung makan-makan yang tadi di lihatnya di televisi.


Chika yang melihat suaminya makan dengan lahap ikut makan dengan lahap juga.  Sejak beberapa hari memang nafsu makannya mulai turun, jadi mencari acara makan di televisi, menjadi solusi untuk membangkitkan selera makannya. 


"Apa kamu tadi siang makan?"


"Sedikit saja." 


Felix merasa heran semakin hari nafsu makan Chika justru turun.  Tak seperti dulu yang makan apa saja dan kapan saja. 


"Baiklah, sekarang habiskan." Dia tersenyum pada istrinya yang sedang semangat-semangatnya makan. 


Sampai di rumah, Chika langsung beristirahat. Menunggu Felix yang sedang membuatkan susu. Calon ayah itu memang sangat sigap mengurus istrinya. Kelak dia akan jauh lebih sigap saat mengurus anaknya. 


***


Karena Chika tidur sudah menjelang pagi, membuatnya terbangun saat matahari sudah mulai bersinar terang. Celah gorden yang terbuka membuat cahaya menembus kamar dan membuat Chika yang sedang berbalik merasakan silau sinar matahari. 


Tadi dia berbalik untuk memeluk suaminya, tetapi saat tangannya menggapai sisi ranjang, dia tidak menemukan suaminya. 


"Ke mana dia?" Chika membuka perlahan matanya dan mengedarkan pandanganya. Namun, sayangnya dia tidak menemukan Felix. 


Saat melihat sekitar kamar, mata Chika membulat sempurna saat mendapati waktu menunjukan jam delapan. Itu dia kesiangan menyiapkan suaminya yang berangkat kerja. 


Menyibak selimut, dia bangun dan berniat untuk mencari suaminya. Entah suaminya sudah berangkat atau belum Chika tidak tahu. 

__ADS_1


Suara pesan terdengar saat kepanikan terjadi. Chika menoleh pada ponselnya yang berada di atas nakas. Meraih ponselnya dia membuka pesan.


[Maaf aku berangkat tanpa membangunkan kamu, karena kamu tidur pulas sekali. Aku sudah buatkan susu, jadi minumlah. Jangan lupa sarapan dan minum vitaminmu. I love you.]


Chika merasa sangat bersalah tidak bisa menyiapkan keperluan Felix. Namun, suaminya itu tampak membiarkan saja. Padahal bisa saja membangunkan.


Bagaimana aku tak jatuh cinta padamu jika kamu begitu sempurna. 


Senyum tertarik di sudut bibir Chika. Membayangkan sifat asli suaminya. Jauh dari bayangannya dulu yang menganggap jika Felix hanya bisa bersenang-senang saja.


Namun, buktinya semua perkiraannya salah. Suaminya jauh lebih sempurna. Tampan, pintar, pekerja keras, pinta memasak dan penyayang. Paket komplit yang didapat Chika. 


Tangan Chika mulai membalas pesan yang dikirim Felix. [Iya, aku akan minum susu dan sarapan. Maaf tidak menyiapkan keperluanmu saat kamu berangkat. I love you too.]


Setelah mengirim pesan, Chika bangun dan mengerjakan apa yang diperintahkan Felix. Perutnya yang sudah semakin besar, semakin membuatnya kesulitan bergerak, tetapi tetap menyenangkan baginya. Aktifitas dilakukan Chika seperti biasa. Setelah sarapan dia menyempatkan diri untuk berolah raga. Memastikan kondisinya sehat menjelang melahirkan dua bulan lagi. 


.


.


.


.


...Hari ini Senin, jangan lupa vote ...


...Ini tampilan babang Felix yang dipaksa bumil makan sushi....


__ADS_1


__ADS_2