
"Mantan kekasihku yang keempat."
Mendengar urutan, rasanya Chika benar-benar kesal. Dia yang ada di jajaran nomor lima, seolah jauh sekali mengejar jadi nomer satu.
"Kenapa putus?" Chika tidak menatap Felix saat bertanya. Dia memilih terus berjalan di atas treadmill.
"Dia selingkuh."
"Apa?" Chika langsung menoleh menatap Felix. Dilihatnya tunangannya itu santai saja saat menjelaskan alasan putus. "Pria seperti apa yang mengalahkanmu?" tanyanya penasaran.
"Yang kaya, yang punya perusahaan." Felix menjelaskan dengan santai. Senyuman di wajahnya tergambar sempurna, seolah tak ada beban di hatinya.
Dahi Chika berkerut dalam. Dia bingung dengan ekspresi wajah Felix. "Berapa lama kamu berpacaran? Apa kamu tidak sedih dia selingkuh?" Dia ingin tahu bagaimana perasaan pria di sebelahnya itu.
"Untuk apa bersedih? Justru aku bersykur."
"Bersykur?" Chika mengulang ucapan Felix.
Felix mematikan alat treadmill yang dipakainya. Kemudian dia menatap Chika. "Jika seseorang memutuskan hubungan denganmu, jangan pernah bersedih, karena sebenarnya itu cara Tuhan menunjukan seberapa pantas dia untukmu."
Chika yang masih berjalan di atas treadmill terpaku mendengar ucapan Felix, hingga akhirnya membuatnya hampir terjatuh. Untung buru-buru Felix mematikan alat treadmill, kalau tidak dia akan jatuh.
"Dia meninggalkanmu karena kamu bukan CEO atau pemilik perusahaan, apa dia tidak tahu jika kamu anak dari Julian Company?" Chika yang baru mengetahui jika Felix anak seorang pengusaha terkenal merasa sangat heran, kenapa bisa pacarnya meninggalkannya? Padahal jelas Felix memiliki segalanya.
"Tidak ada mantan kekasihku yang tahu aku anak Julian dan aku tidak pernah memberitahu untuk mempertahankan seseorang."
"Tapi kamu memberitahuku?" Chika membelalakkan matanya saat bertanya pada Felix.
"Karena aku tahu. kamu tak butuh jabatan atau harta," ucap Felix tersenyum. Dia berlalu meninggalkan Chika, mengambil minuman di dalam tasnya.
Chika menatap Felix yang pergi meninggalkannya untuk minum. Berjalan menghampirinya, dia melakukan hal yang sama dengan Felix, mengambil minum di dalam tasnya dan meminumnya.
"Kata siapa aku tidak butuh jabatan dan harta?" tanya Chika sesaat setelah selesai minum.
"Aku tidak bisa memberikan jabatan tinggi, karena aku hanya seorang asisten CEO, tetapi jika harta, aku akan berusaha mendapatkannya untukmu, hingga tidak akan ada kata kurang yang akan terucap dari bibirmu." Felix menatap Chika lekat. Wajah Chika yang berkeringat membuat anak rambutnya menempel. Beberapa helai rambut menghalangi wajah cantiknya. Ingin rasanya dia menyingkirkannya, tetapi dia masih ingat akan janjinya.
__ADS_1
Oh Tuhan kenapa dia berbeda dengan apa yang aku bayangkan. Dalam bayanganku, dia pemain wanita yang bisa saja memainkan perasaan wanita, tetapi ternyata dialah yang dilukai. Lalu jika aku melukainya?
Pertanyaan itu menghinggapi hati Chika. Namun, entah kenapa egosnya masih mengatakan tidak bisa menerima Felix menjadi suaminya.
"Apa yang bisa membuatmu melepaskan aku?" Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Chika. Entah keberanian dari mana hingga membuatnya berani bertanya seperti itu.
"Aku akan melepasmu asal kamu bahagia," jawab Felix seraya membungkukkan sedikit tubuhnya untuk menjangkau wajah Chika yang lebih pendek lima belas centimeter darinya. Dia menatap penuh damba, pada wanita yang sekarang menjadi tunangannya itu.
Wajah Felix yang berada beberapa inci saja dari wajahnya, membuat pandangan mereka saling mengunci. Tatapan yang membuat jantung Chika yang kembali berdebar-debar.
"Namun, jika aku masih bisa berusaha membuatmu bahagia, aku mohon jangan pergi. Hingga sampai saat aku pada titik terakhir perjuanganku. Di saat itu aku akan melepasmu jika kamu masih merasa tidak bahagia denganku."
Tubuh Chika benar-benar lemas. Pria seperti apa yang ada di hadapanku itu, hingga bisa membuatku bungkam. Dulu aku berpikir Felix hanya seorang playboy dan penikmat wanita, tetapi dia berbeda.
Chika mulai bimbang melihat Felix. Namun, buru-buru dia menyadarkan dirinya, jika bisa saja itu hanya rayuan yang biasa Felix lakukan. Dia tidak mau terperangkap oleh pesona yang Felix buat.
"Bisakah kita pulang." Kalimat itu yang justru keluar dari mulut Chika untuk menghindari pembicaraan dengan Felix yang sudah mulai serius.
Felix tersenyum dan mengangguk. Mereka berdua kembali ke apartemen tanpa ada pembicaraan lagi. Hingga akhirnya sampai di depan unit apartemen, Felix membuka suara.
"Baiklah, aku akan mandi dan kita pergi."
Mereka berdua masuk ke dalam unit apartemen mereka masing-masing. Chika masuk ke dalam kamarnya. Saat masuk dia memperhatikan jika sprei tempat tidurnya sudah berganti.
"Tadi saat aku ganti baju akan olahraga tidak memperhatikan." Chika mendekat dan mengendus tempat tidurnya. Sudah tidak ada bau ompol milik El, sekarang baunya sangat wangi.
Chika sudah menebak jika Felix yang melakukan itu semua. Kenyamanan yang Felix berikan benar-benar membuat Chika geleng-geleng.
Kenapa kamu sebaik itu?
Tak mau berlama-lama dengan pikirannya, Chika buru-buru bersiap untuk pergi bersama Felix ke restoran yogurt.
***
Tiba di salah satu mal mereka menuju salah satu gerai yogurt. Memesan dua porsi yogurt dengan topping buah-buahan. Chika dan Felix menikmati makan malam mereka dengan tidak merasa bersalah karena baru saja olah raga.
__ADS_1
"Lebih baik, besok kita buat sendiri saja, ini terlalu mahal." Suara Chika dia sedikit kecilkan agar tidak didengar oleh pramusaji restoran.
Felix hanya tersenyum melihat aksi hemat Chika. Kini dia yakin jika pilihannya tidak salah. "Baiklah, besok sepulang kerja kita cari bahannya."
Dengan semangat Chika melanjutkan makannya. Tidak mau menyianyiakan makanan yang berada di hadapannya.
"Tadi mau menceritakan pacarmu nomer empat, sekarang ceritakan pacarmu yang lain." Chika memulai pembicaraan yang sempat berhenti tadi.
"Kamu penasaran sekali," ucap Felix tertawa sambil memasukan yogurt ke dalam mulutnya.
"Em … aku hanya …."
"Aku tidak butuh alasanmu, tetapi aku akan ceritakan. Namun, bukan sekarang. Aku mau menikmati waktu denganmu."
Chika menghembuskan napas kasar. Dia tidak bisa memaksakan kehendaknya. Melanjutkan makannya, dia menikmati setiap rasa asam, manis dan segar dari yogurt rasa peach yang dia pilih.
"Katakan apa kamu berdebar-debar karena aku tadi pagi?"
Chika yang sedang makan menghentikan dan mengigit sendoknya. Kenapa dia bertanya seperti itu? Chika merasa bingung jika diingatkan.
"Apa artinya kamu sudah ada perasaan padaku?" Senyum Felix tertarik di sudut bibirnya.
"Jangan terlalu percaya diri, aku tidak berdebar karena kamu. Sebenarnya tadi Pak Regan hanya salah paham." Chika berusaha keras untuk mengelak.
"Oh …." Felix menjawab dengan senyuman di wajahnya. Sekalipun Chika mengelak, dia sudah tahu jawabannya. Dia memilih untuk memberikan ruang pada Chika mendalami perasaannya. Lagi pula masih ada lima bulan dua minggu.
"Cepat habiskan, aku tidak mau kamu kurang tidur dan pingsan lagi," ucap Felix memerintah seperti memerintahkan anak kecil.
Chika hanya mendengus kesal, tetapi menuruti perintah Felix begitu saja.
.
.
.
__ADS_1
...Like koment, vote dan berikan hadiah ...