
Deretan gaun berjejer ditunjukan, hingga membuat sulit untuk menentukan pilihan. Gaun dengan detail masing-masing, menyuguhkan keindahan tersendiri.
"Cobalah dulu." Suara Shea memecah keheningan Chika yang sedari tadi memandangi gaun indah yang ditujukan oleh pelayan toko.
Chika tersenyum. Meminta satu gaun pada pelayan toko untuk dicoba. Kemudian, menuju ke ruang ganti untuk mencoba gaun yang dibawanya.
Hari ini, Chika sengaja meminta izin untuk masuk setengah hari pada Regan untuk pergi mencari gaun pengantin. Bersama dengan Shea, Selly dan dua bayi kecil mereka, Chika mencari gaun pernikahannya.
Dengan banyaknya gaun yang ditunjukan membuat Chika bingung untuk memilih. Namun, bersyukur, dua ibu muda tadi membantunya. Hingga terpilih lima gaun yang akan dicoba.
Satu persatu gaun di coba oleh Chika. Mencari mana yang pas di tubuhnya dan pas di hatinya.
Setelah mencoba lima gaun akhirnya pilihannya jatuh pada satu gaun yang simple degan lengan panjang yang dihiasi manik-manik. Terlihat tidak berlebihan, tetapi tetap elegan.
"Gaun ini sangat cantik saat kamu memakainya." Selly tersenyum melihat Chika dari pantulan cermin.
Chika tersenyum. Dia juga menyukai gaun yang dikenakannya. Sangat pas saat di tubuhnya.
"Aku yakin, Felix akan terpesona." Shea ikut mendekat dan tersenyum menggoda temannya. Dia sedari tadi juga sangat antusias memilih gaun. Maklum, dia tidak pernah menyiapkan pernikahan seperti Chika jadi begitu mendapatkan kesempatan, dia memanfaatkannya.
Pipi Chika merona. Membayangkan reaksi Felix saat melihatnya. berharap calon suaminya itu akan senang.
Akhirnya Chika memesan gaun tersebut, sesuai dengan saran Shea dan Selly. Meminta desainer untuk mengubah sedikit sesuai dengan tubuhnya dan memintanya untuk mengirimnya dalam seminggu lagi.
Menyelesaikan transaksi pembelian gaun, Chika, Shea dan Selly melanjutkan mengisi perut mereka terlebih dahulu.
"Jadi kapan tanggal pastinya?" Shea yang makan menyelipkan obrolan.
__ADS_1
"Tadi Felix mengirim pesan, jika gedung ready dua minggu ini." Chika menjelaskan saat mengingat pesan yang dikirimkan oleh Felix. Calon suaminya itu memang menyiapkan semuanya sendiri. Selalu beralasan, tak mau Chika sampai kelelahan.
"Syukur kalau gedung bisa siap dengan cepat." Shea merasa lega.
"Semua berkat mama Kak Selly." Chika tersenyum menatap Selly yang sedang menyuapi Al dan El.
"Felix sudah seperti anak untuk mama. Jadi jangan sungkan." Felix yang tumbuh besar dengan Bryan, membuatnya tahu seperti apa pria itu. Bagi keluarganya, Felix lebih dari seorang asisten Bryan.
"Terima kasih, Kak." Chika tersenyum. Merasa bersyukur banyak orang yang begitu perhatian.
Mereka melanjutkan makan siang. Dihiasi dengan tawa Al dan El yang tampak riang. Sesekali Selly berbagi pengalaman menyiapkan pernikahannya dulu, dan membuat Shea dan Chika ikut senang mendengar seberapa semangatnya menyiapkan pesta pernikahan.
Usai makan siang, Selly mengantarkan Chika untuk kembali ke kantor. Pekerjaan yang memang tidak bisa ditinggalkan begitu saja, mengharuskannya untuk tetap masuk bekerja.
Apalagi sore ini, Regan ada pertemuan dengan Julian Company. Jadi Chika tidak mau sampai Regan kewalahan jika harus pergi sendiri.
Tepat jam tiga sore, papa Felix datang. Chika menyambut dan mengantarkan ke ruangan Regan. Mereka mulai membicarakan bisnis yang akhirnya mereka sepakati. Bryan yang sudah setuju memudahkan jalan mereka memulai proyek tersebut.
"Besok saya akan atur jadwal untuk kita bertemu dengan Bryan. Agar semua segera dikerjakan."
"Terima kasih, Re, sudah mau membantu."
"Jangan sungkan paman." Regan tersenyum. Namun, sejenak dia teringat dengan sekretarisnya yang berada di sebelahnya. "Apa Paman sudah tahu jika Felix akan menikah?"
"Dia akan menikah? Dengan siapa?"
"Ini calon istri Felix, Paman." Regan menunjuk Chika yang berada di sebelahnya.
__ADS_1
Chika terkejut melihat Regan tiba-tiba membahas pernikahannya.
"Jadi kamu calon istri Felix." Theo menatap Chika.
"Iya, Pak."
Theo menatap gadis manis yang ternyata akan menjadi menantunya itu. Walaupun Theo tidak dekat dengan Felix, tetapi dia memantau anaknya itu dari jauh. Dia sudah sangat tahu wanita seperti apa yang biasa bersama anaknya. Jadi saat melihat Chika ada perasaan senang, karena anaknya menetapkan hati pada wanita baik-baik.
"Aku seneng mendengarnya." Theo tersenyum.
"Apa Anda akan datang ke pernikahan kami?" Ragu-ragu Chika bertanya.
Theo tidak bisa berkata apa-apa mengingat jika Felix tidak suka dengannya. "Ada atau tidak kehadiranku, aku akan selalu mendoakan kalian."
Chika melihat guratan kesedihan di mata papa Felix, tetapi dia juga tidak bisa memaksakan pada Felix, mengingat ada luka yang mungin Chika tidak tahu seperti apa.
Aku akan mencoba membujuknya nanti.
Tak tega dengan keadaan yang Theo alami, Chika akan berusaha untuk membuat Felix menerima papanya datang ke acara pernikahan. Apalagi papanya harus datang untuk menjadi wali. Walaupun pria boleh saja menikah tanpa wali, apa salahnya jika menghadirkan orang tua jika memang mereka masih ada.
"Terima kasih doanya." Chika tersenyum.
.
.
.
__ADS_1