Wedding Project

Wedding Project
Akhir Kebahagiaan


__ADS_3

Sembilan bulan tak berasa lama saat dijalani dengan bahagia. Bagi Chika, hamil kedua kali ini  Chika tak banyak kendala. Muntah di trimester awal itu sudah biasa terjadi jadi tak jadi penghalang. 


Freya yang awalnya manja, sekarang begitu dewasa. Dia berusaha melakukan apa-apa sendiri. Bersama El, dia berusaha menjadi kakak yang baik. Kebetulan teman sekaligus tetangganya itu juga sedang hamil.


"Hari ini Shea operasi besok," ucap Chika saat mengobrol saat bersiap sarapan dengan suaminya.


"Iya, tadi Bryan juga bilang dia akan mulai cuti besok."


"Aku begitu berdebar. Membayangkan operasi perutku juga ikut mulas." 


Felix terkejut. "Apa sudah ada tanda-tanda?" Dia sedikit takut istrinya akan melahirkan. 


"Belum." 


Felix juga sebenarnya was-was. Usia kandungan Chika sudah mendekati lahiran, jadi bisa sewaktu-waktu melahirkan. 


"Ma, dede El atanya au lahir." 


"Iya, Sayang."


"Dede aku apan?"


"Di tunggu ya." Liana membelai rambut cucunya. Seperti biasa Liana menunggui anak dan cucunya saat kehamilan Chika sudah mencapai sembilan bulan. 


"Oke, Nek." 


Mereka berempat makan bersama. Di meja makan, suara Freya tak henti berceloteh. Bertanya ini dan itu. Selesai, sarapan Felix berpamitan untuk bekerja. 


Chika yang sudah mulai mengurangi kegiatannya, menunggui Freya bermain. 


"Mama, Aku au maen cama El," rengek Freya. 


"El, di rumah Kak Al. Jadi Freya main dengan Mama dulu ya."


"Mama ... cama El." 


Chika sedikit kewalahan saat anaknya minta bertemu dengan El. Akhirnya, dia mengantarkan Freya untuk ke rumah Selly. Karena rumah hanya berbeda beberapa blok saja, Chika dan Freya memilih berjalan kaki. 


"El ... " panggil Freya saat melihat El sedang bermain dengan Al. 


Al yang melihat Freya memutar bola matanya malas. Dia tak terlalu suka dengan Freya yang mengajak main masak-masak. Namun, kadang dia terpaksa mengingat El selalu membujuknya. 


"Maaf, Kak, Freya ingin bermain," ucap Chika pada Selly.


"Tidak masalah. Lagi pula agar semakin ramai." Selly tersenyum, kemudian mengajak Chika untuk duduk sambil melihat anak-anak bermain. 


"Apa sudah ada kabar dari Shea?" 


"Belum operasinya nanti jam sepuluh." 

__ADS_1


"Semoga semua lancar." 


"Iya, semoga," jawab Selly, "kamu kapan perkiraan melahirkan?" 


"Minggu-minggu ini juga, Kak." 


"Semoga persalinan kamu juga lancar nanti." 


Chika dan Selly saling bercerita. Saat baru datang ke rumah Selly sebenarnya Chika sudah mulai merasakan tidak enak pada perutnya. Chika yang sudah paham jika dia sudah mulai kontraksi, memilih menunggu sebentar karena biasanya jarak kontraksi pertama itu sangat jauh dari persalinan. 


Untungnya Freya mengajak pulang lebih awal. Freya yang bertengkar dengan Al, menjadi malas bermain. Al yang tak mau diajak main masak-masak membuat Freya tidak mau bermain. 


Di rumah Chika memilih duduk, merasakan perutnya yang semakin sakit. Namun, dia tak mau terlalu lama di Rumah sakit dan memilih menunggu di rumah. Jadi dia menunggu rasa sakitnya semakin intens. 


Menjelang sore, Chika merasakan kontraksinya semakin intens. "Ma, tolong minta Felix pulang."


"Kamu mau lahiran?" tanya Liana


"Belum, Ma, tapi sepertinya sebentar lagi."  


Liana tanpa banyak bertanya langsung menghubungi anaknya. Meminta anaknya itu pulang. 


Felix akhirnya meninggalkan kantor dan menuju rumah. Sampai di rumah, tanpa basa-basi lagi, dia membawa Chika ke Rumah sakit. 


"Ini sudah bukaan delapan." 


Felix terkejut, ternyata istrinya sudah pembukaan delapan. Dokter dan perawat mempersiapkan semuanya untuk persalinan sambil menunggu pembukaan sempurna. 


Chika yang merasakan sakit menjadi kesal. Bisa-bisanya suaminya menanyakan hal konyol. Namun, Felix justru tersenyum. Dia memang hanya ingin memastikan jika cengkraman istrinya tidak akan meninggalkan luka seperti saat melahirkan Freya. 


Akhirnya setelah menunggu, proses melahirkan tiba. Dibantu dokter dan perawat Chika melakukan semua prosesnya. 


Lagi-lagi, Felix jadi korban cakaran Chika. Rasa sakit seolah disalurkan Chika pada Felix hingga membuat Felix bisa merasakan sesakit apa istrinya. 


Karena Chika sudah pernah menjalani persalinan pertama, yang kedua ini jauh lebih mudah dan cepat. 


Suara tangis bayi kembali menghiasi ruang persalinan. Perasaan lega melingkupi hati Chika dan Felix. 


Kembali mereka mendapatkan anak perempuan. Tak masalah untuk mereka perempuan atau laki-laki. Yang terpenting anak mereka sehat.


Keluarga yang datang menyambut anak Chika. Wajah bayi kecil itu tak kalah cantik dengan sang kakak-Freya. Membuat semua orang begitu gemas. 


***


Pagi ini bayi kecil itu sudah dipindahkan ke ruangan sang ibu. Karena semakin mudah sang ibu untuk menyusui. 


"Siapa namanya?" tanya Liana pada sang anak. Dia memang baru datang pagi ini karena kemarin dia tidak ikut ke Rumah sakit karena menunggu cucunya. Saat Ella bergantian menjaga cucunya di rumah, dia baru bisa melihat cucunya ke Rumah sakit. 


"Felicia Amaya." 

__ADS_1


"Cia ... " panggil Liana. Begitu gemas melihat wajah cantik dan putih dari cucunya. Mirip sekali dengan kulit Chika. 


Bryan yang mengetahui jika Chika melahirkan semalam, baru bisa menjenguk karena semalam dia masih menunggui istrinya. 


"Tak menyangka anak kita bisa lahir di hari yang sama," ucap Bryan. 


"Iya." Felix tersenyum. "Tak menyangka juga sekarang kita punya dua anak." 


"Tuhan begitu baik memberikan kita kesempatan." Bryan yang terlampau bahagia tak bisa mengungkapkan selain bersyukur.


Felix tersenyum. Mengingat seberapa buruknya mereka dulu. Kini mereka masih diberikan kesempatan emas.


*** 


Setelah tiga hari di rumah sakit akhirnya Chika dibawa pulang. Freya begitu senang melihat adiknya. Dia tak henti-hentinya memandangi sang adik. 


Melihat pemandangan indah itu Chika dan Felix merasa senang. Kini kebahagiaannya sudah lengkap. 


"Mau coba satu lagi, siapa tahu dapat laki-laki?"


Chika melotot. Baru saja dia melahirkan, suaminya sudah membahas anak. "Tidak, dua saja cukup." 


Felix tersenyum dan mendaratkan kecupan. "I Love you. Terima kasih sudah memberikan aku anak-anak yang begitu luar biasa." 


"I love you too. Terima kasih juga sudah mejadi suami yang hebat." 


Mereka kemudian menyusul anak mereka di tempat tidur. Bergantian mereka mendaratkan kecupan di pipi Freya dan Cia. Dua anak yang akan menjadi pusat kebahagiaan mereka. 


Pernikahan yang dulu ingin digagalkan Chika, kini justru mengantarkannya mendapat dua malaikat kecil. Mengantarkannya juga mendapatkan pria baik seperti Felix yang awalnya hanya dilihatnya sebelah mata. 


Mungkin begitulah hidup. Jangan melihat orang dari masa lalunya saja. Karena terkadang masa lalu bisa mengubah seseorang. Seperti Felix yang berubah jauh lebih baik saat masa lalunya yang buruk. 


TAMAT


.


.


.


Terima kasih sudah menemani perjalanan Felix dan Chika. Mungkin masih banyak kesalahan dalam penulisan atau alur yang berantakan. Semoga ke depan bisa diperbaiki lagi. Cerita yang niatnya hanya aku buat 70 bab, justru bertambah jadi 100 bab.


Memang tidak banyak konflik di kisah ini. Hanya berpusat pada Chika yang mau menggagalkan pernikahan dan berujung cinta. Jadi jangan minta konflik berat 🤣


Kalau mungkin ada yang belum dibahas, nanti next aku perbaiki lagi ya😁


Jangan lupa mampir Ke My Perfect Daddy ya, bonchap sudah up


Ketemu di karya selanjutnya. Di tanggal 26 April akan rilis ya. Senin besok bisa langsung di Vote. Hadiah bisa dikasih di tanggal 1 Mei saja.

__ADS_1



__ADS_2