
Mendaratkan bibirnya, dia kembali menyesap bibir manis yang sekarang begitu dia sukai. Perlahan tangannya menarik bathrope dan membukanya. Melepas tautan bibirnya, dia melihat tubuh yang terlihat penampakannya dari depan itu. Untuk pertama kali dia melihat tubuh Chika. Walaupun sudah beberapa kali melihat tubuh wanita, tetapi perasaanya kali ini berbeda.
Chika yang malu menutup matanya. Malu dan takut begitu dirasakan oleh Chika.
"Buka matamu!" perintah Felix. Tangan Felix menarik handuk yang dipakainya. Membukanya dan melepasnya.
Chika yang membuka mata melihat Felix dengan dada yang terbuka. Walaupun pernah melihat, tetapi kali ini situasinya berbeda.
Felix melepas bathrope yang melekat di tubuhnya. Bergantian melepas milik Chika. Bibirnya tak henti menjelajah menyusuri tempat yang dia temui.
Kecupan Felix membuat gelenyar aneh yang dirasakannya. Tubuhnya yang tegang pun perlahan melemas, seolah sudah siapa menerima kedatangan Felix.
Felix tersenyum melihat reaksi tubuh Chika. "Aku mencintaimu." Dia mendaratkan kecupan di dahi Chika. "Aku harap, kelak anak yang akan kamu lahirkan akan menjadi bukti cinta kita."
Chika mengangguk. Senyumnya merekah di wajahnya. Bahagia dicintai Felix sebesar itu.
Perlahan Felix mulai memasuki rongga kenikmatan yang sedari tadi dia nantikan. Mencari celah kenikmatan di dalamnya.
__ADS_1
Suara erangan kecil lolos dari mulut Chika, mengisi keheningan kamar. Sesekali kuku-kuku cantik Chika menancap di punggung Felix saat merasakan sakitnya.
Felix memberikan ruang untuk istrinya menyesuaikan irama yang dibuatnya. Tak mau menyakiti istrinya.
Saat tubuh sudah mulai rileks, Felix kembali membuat iramanya. Membuat suara Chika semakin terdengar kencang. Bersyukurlah hotel kedap suara, jadi suara indah itu hanya Felix saja yang mendengar.
Tubuh secara naluri bergerak mencari posisi pas. Felix yang sudah ahli, tahu bagaimana membuat irama tubuh, sedangkan Chika secara naluri mengikuti.
Suara erangan yang keluar dari Felix terdengar dan menandakan jika dia sudah mencapai pelepasannya. Cairan vanila masuk ke dalam rahim dan siap bertemu dengan sel telur, menciptakan anak yang kelak akan menjadi pengikat hubungan mereka.
Napas yang terengah, meraup udara sebanyak-banyaknya. Mengisi kekosongan paru-paru. Tubuh masih terlalu lelah untuk beranjak. Mereka masih setia dengan posisi Felix di atas.
Perasaan bahagia begitu melingkupinya. Perjuangannya atas cintanya kini berbuah manis. Mencintai memang harus berusaha, begitulah mungkin kalimat yang tepat untuk Felix.
Bagaimana dia berusaha membuat Chika mencintai, kini berbalas bahagia, dengan mendapatkan Chika seutuhnya.
Felix beranjak dari tubuh Chika. Menangkup tubuh istrinya, membawanya untuk membersihkan diri. Air panas yang sengaja disiapkannya tadi sebelum keluar dari kamar mandi, masih terasa hangat dan membuat tubuh terasa nyaman.
__ADS_1
Chika hanya pasrah saat tubuhnya dibawa ke kamar mandi. Kelelahan di pelaminan ditambah kelelahan di atas ranjang tak mampu membuatnya untuk protes.
Usai membersihkan tubuh keduanya, Felix merebahkan tubuh Chika dan mengeringkannya.
Berlalu, Felix memberikan obat pereda rasa sakit dan air putih. "Mungkin akan sedikit terasa sakit, jadi minumlah."
Chika mengangguk dan meminumnya. Kemudian menajamkan matanya. Tubuhnya memang sudah tak bisa diajak kompromi lagi.
Felix tersenyum dan menyusul Chika. Memberikan pelukan hangat untuk wanita yang begitu dicintainya itu. Chika seolah sudah sampai di alam mimpinya, hingga saat suaminya memeluknya, tak ada reaksi apa-apa.
"Selamat tidur Sayang, esok akan jadi kamu akan terbangun dan menyambut hari baru bersamaku." Mengeratkan pelukannya, Felix menyusul Chika. Sejujurnya dia pun juga lelah, tetapi untuk menunggu esok lagi, dia tak kuasa.
.
.
.
__ADS_1
.