Wedding Project

Wedding Project
Merindukan


__ADS_3

Satu pekerjaan menyiapkan pesta selesai. Perlahan namun past semua selesai satu persatu. Tinggal menunggu acara yang akan di adakan sebentar lagi.


Liana mengantarkan  Chika dan mamanya untuk pulang setelah urusan cicip mencicip selesai.


Chika senang sekali karena mertuanya begitu baik. Selama proses pemilihan, dia menyerahkan pada Chika. Mana saja makanan yang Chika suka. 


Tubuh yang begitu lelah ini segera diistirahatkan. Mengingat tadi dia sudah puas makan, kini dia tinggal mandi dan tidur. 


Baru saja selesai mandi, suara telepon terdengar.  Buru-buru Chika mengangkatnya. Sebenarnya dia sudah menebak jika itu pasti Felix, dan benar saja tebakannya. 


"Kenapa lama mengangkat telepon?" Felix sudah berkali-kali menghubungi, tetapi tidak cukup lama sampai akhirnya Chika mengangkat.


"Aku sedang mandi," jawab Chika seraya menggosok-gosok rambutnya yang basah.


"Kenapa tidak dibawa ke kamar mandi ponselnya, jadi saat aku telepon kamu bisa mengangkatnya." 


Dahi Chika berkerut dalam. Bingung dengan ucapan Felix yang aneh. "Iya, kalau kamu hanya telepon, jika kamu melakukan vidio call, apa aku akan mengangkatnya?" tanyanya menyindir. 


Dari sambungan telepon Felix tergelak. Menyadari ucapan konyolnya. "Ya berarti aku bisa lihat tubuhmu live." 


"Enak saja!" 


Felix masih tertawa. "Aku jadi lupa bukan, apa tujuanku menghubungimu," keluhnya. 

__ADS_1


"Tujuanmu selain rindu memang ada lagi?" Chika tersenyum menggoda Felix. 


"Jangan menggodaku. Aku akan membuat pesta pernikahan kita gagal dan berujung ke penghulu saja besok." Jika ditanya rindu, Felix memang begitu merindukan Chika.


Kini giliran Chika yang tergelak. "Jangan, aku mau  jadi ratu sehari." 


"Kamu akan jadi ratuku seumur hidupmu, kenapa harus takut kehilangan sehari." 


"Sudah-sudah, katakan ada apa kamu menghubungi aku?" Chika yang dari tadi bercanda mengakhiri.


"Aku merindukanmu." 


"Felix …." 


"Sayang, panggil sayang, jangan panggil nama."


"Maka biasakan."


"Iya, Sayang. Cepat katakan apa yang ingin kamu bicarakan." 


Felix tertawa kecil mendengar permintaanya terpenuhi. "Bagaimana tadi test food? Apa kamu sudah memilih makanan enak untuk pesta kita?"


"Aku sudah memilih makanan yang enak dan aku yakin tamu undangan kita tidak akan fokus pada kita karena mereka akan fokus berburu makanan enak di pesta." 

__ADS_1


"Lalu apa gunanya kita di pelaminan, jika mereka datang hanya untuk makan?" Sungguh Felix tertawa dengan obrolan malam ini. 


"Kita hanya pemanis." Chika menimpali tawa juga. 


"Maaf tadi aku tidak bisa ikut." Beberapa hari lalu dia sudah banyak izin pada Bryan, jadi hari ini dia tidak enak untuk izin lagi. 


"Tidak masalah. Yang penting semua sudah beres." Chika memahami pekerjaan Felix yang banyak. 


"Aku harap semua berjalan dengan lancar."


"Aku berharap begitu."


Mereka berdua saling bertukar suara lewat sambungan telepon. Saling berbagi cerita makanan apa saja yang akan disajikan besok. Sesekali Felix menyelipkan rasa rindunya pada wanita di sambungan telepon itu. Baru sehari tidak bertemu sudah membuatnya merindu.


Chika menanggapi dengan tawa rindu yang diungkapkan Felix. Sebenarnya bukan hanya Felix saja yang merindu, tetapi dia juga. Tinggal dekat dengan Felix membuatnya sudah tak bisa jauh dari pria itu. Hari-harinya diwarnai dengan keceriaan berdua. Namun, dia harus bersabar, karena sebentar lagi dia akan bertemu degan orang yang dicintainya di pelaminan. 


Malam semakin larut dan mereka berdua mengakhiri telepon. Mengistirahatkan tubuh yang lelah seharian bekerja. Berharap dua minggu akan cepat berlalu.


.


.


.

__ADS_1


Tanggal 1 Mei nanti akan ada novel baru. Jadi di sini ga usah di kasih hadiah ya, simpan aja buat nanti novel baru. Kasih like, komentar sama vote aja.


Sebulan ini aku akan selesaikan Wedding Project dan kasih Bonchap My Perfect Daddy. Jadi ditunggu ya🥰


__ADS_2