
Felix menghampiri Chika di apartemen Chika. Mengajak tunangannya itu untuk bersiap pergi ke rumah Regan. Saat masuk ke dalam apartemen, Felix melihat satu koper milik Chika berada di sudut apartemennya.
"Kamu ke sini?" tanya Chika yang keluar dari kamar. Tadi setelah mengeluarkan koper, Chika mengambil tasnya yang masih di kamar.
"Iya, menghampirimu." Felix terpaku melihat Chika yang hari ini tampak cantik. Sebenarnya tampak biasa, tetapi pesonanya selalu saja bisa membuatnya tak berdaya.
"Ayo kalau begitu." Chika menarik kopernya dan keluar dari apartemennya. Bersama dengan felix mereka menuju ke tempat parkir mobil.
Sesuai dengan perintah Regan dan Bryan, Felix dan Chika menuju ke rumah mereka. Berangkat bersama-sama dengan keluarga Adion dan Maxton.
Sampai di rumah Regan semua orang sudah bersiap. Mereka semua berangkat bersama-sama menuju ke Bandara. Chika ikut di mobil Bryan dan Shea, sedangkan Felix di mobil Regan dan Selly. Dia mobil satu lagi ada orang tua Bryan dan Regan. Mereka semua diantar oleh supir pribadi masing-masing.
Sampai di Bandara, Felix dan Chika mengecek semuanya terlebih dahulu. Memastikan semua sudah siap. Setelah semua sudah siap, Felix dan Chika menghampiri keluarga Bryan dan Regan. Meminta mereka masuk ke kabin pesawat.
Di dalam pesawat pramugari membantu mereka dan melayani kebutuhan penumpang. Tepat jam tujuh malam pesawat lepas landas.
__ADS_1
Felix dan Chika lega karena pekerjaaan yang mereka kerjakan bisa berjalan dengan lancar. Tinggal melanjutkan pekerjaan nanti di sana.
Chika memilih duduk dengan Selly dan Shea. Mereka bercerita dengan mengecilkan suaranya karena dua bayi kecil sedang tidur, sedangkan Felix memilih duduk bersama dengan Bryan dan Regan. Ada juga Daniel dan Andrew yang juga ikut mengobrol dengan para anak muda.
Lana dan Melisa sendiri asik bercerita. Menceritakan apa yang akan mereka kerjakan nanti. Mengingat mereka juga memiliki rumah di sana dan akan membagi waktu untuk ke sana.
Setelah puas bercerita, mereka memilih untuk tidur mengingat perjalanan mereka memang malam hari dan cukup lama perjalanan.
Perjalanan di tempuh dalam waktu lima belas jam. Tepat jam tiga malam mereka sampai di Bandar Udara Heathrow. Jika di Inggris jam tiga malam, di Indonesia jam sepuluh pagi karena perbedaan waktu adalah tujuh jam.
Sesuai dengan rencana mereka akan menginap terlebih dahulu di hotel di daerah London untuk beristirahat mengingat waktu masih menunjukan jam tiga malam. Perubahan waktu dan suhu juga pasti membuat mereka harus beradaptasi. Rencananya baru besok pagi mereka akan menuju daerah Bradford untuk menghadiri acara peresmian apartemen.
Jadi malam ini mereka akan menginap di hotel terlebih dahulu. Mengingat jika mereka membawa Al dan El yang tidak boleh memaksakan kehendak.
Felix mengantarkan Chik setelah memastikan kamar untuk masing-masing anggota keluarga Adion dan Maxton aman.
__ADS_1
Dari semua orang yang memesan hotel, hanya Felix dan Chika yang mendapat kamar masing-masing. Maklum, hanya mereka yang tidak berpasangan resmi. Jadi tidak mungkin mereka berada di dalam kamar berdua.
"Selamat istirahat," ucap Felix.
"Terima kasih." Chika tersenyum dan masuk ke dalam kamar. Kamar ukuran cukup besar untuk Chika yang sendiri, tetapi dia tidak punya pilihan. Lagi pula tidak mungkin tidur dengan Felix.
Desain klasik khas eropa terlihat jelas di dalam kamar. Memuat Chika senang dengan suasana baru. Kota London dengan gemerlap lampu di malam hari juga terlihat dari jendela kamar hotel. Terlihat sangat indah.
Karena tubuhnya begitu lengket, Chika memilih untuk mandi. Kemudian beristirahat sebelum nanti di akan sarapan bersama dengan keluarga Adion dan Maxton.
***
Di kamar satu lagi Felix langsung merebahkan tubuhnya. Jet lag yang dirasakan membuatnya ingin tidur terlebih dahulu. Tadi di pesawat dia banyak mengobrol jadi memang tidak bisa tidur.
Memejamkan matanya, dia mengistirahatkan tubuhnya. Nanti dia harus bangun jam tujuh untuk sarapan bersama.
__ADS_1