Wedding Project

Wedding Project
Marah-marah


__ADS_3

"Kamu seperti orang mengidam saja," goda Shea.


"Aku memang sedang hamil. Jadi sangat ingin makan ini saat melihatnya tadi."


"Kamu hamil?" Shea terkejut tak percaya dengan cerita Lisa. 


"Iya."


Aku rasa cara makan oreonya sudah tidak 3 menit lagi. Mungkin cara makan oreonya lebih lama, seperti dibuat cake Oreo atau puding Oreo . Karena butuh proses panjang.


Shea menertawakan bayangannya dalam hatinya. Kemudian mereka mulai menikmati hidangan khusus yang disajikan untuk keluarga. Mereka mengobrol dan tertawa-tawa sampai


Lisa benar-benar lupa bahwa ada pria garang yang sedang kebingungan mencarinya.


Karena ruangan itu dibuat khusus dan tertutup, Farhan tidak dapat menemukan di mana keberadaan istrinya. Ia sampai panik dan melapor ke pengelola CCTV agar bisa menemukan Lisa.


Brakkk!


Pintu itu dibuka keras-keras hingga Shea dan Lisa terperanjat. Beberapa anggota keluarga yang melihat aksi Farhan tampak terkejut. Pria itu menatap nyalang Lisa sambil membawa nampan berisi semangkuk kambing guling.


"Aku capek dan malu mengantre kambing guling untukmu, sedangkan kau malah asik-asik mengobrol dan makan  di sini. Apa dia ingin kulempar ke Matahari, hah?"


Semua hadirin di sana semakin takut. Semuanya yakin bahwa perang dunia ke 3 akan segera hadir untuk mensponsori acara pernikahan ini. Sebelum Farhan mengamuk, Bryan datang menarik lengannya dari tempat mencolok itu.


"Tahan amarahmu, Han?" Bryan membawa pria itu menjauh dari jangkauan orang-orang. 


"Istriku sudah menghabiskan kesabaranku, bagaimana mungkin aku bisa sabar?" Dilemparnya nampan itu ke tempat sampai layaknya pemain basket profesional. Dada Farhan naik turun.


Bryan bergidik ngeri melihat Farhan yang emosi. "Wanita memang seperti itu. Kita harus punya kesabaran ekstra." Entah kata-katanya itu bisa menenangkan


Farhan yang kerasukan itu atau tidak, tetapi Bryan mencobanya.

__ADS_1


"Sebaiknya kita minum dulu. Agar meredakan emosimu." Bryan mengajak Farhan untuk meredakan emosinya. 


"Tidak, aku akan mengajaknya pulang saja. Lagi pula nanti dia kelelahan. Ibu hamil tak banyak boleh banyak kelelahan." 


Mata Bryan membulat mengetahui istri Farhan hamil. Tak menyangkan jika pertempuran tiga menit bisa menghasilkan anak. 


Sejak El lahir, aku berjam-jam membuat adik untuknya, tetapi tidak jadi. Kenapa dia tiga menit bisa jadi. 


Bryan memikirkan dalam hatinya bagaimana cara Farhan menghamili istrinya. Namun, sejenak dia tertawa, mengingat jika benar saja istrinya tidak hamil. Karena sebenarnya Shea memakai pencegah kehamilan. 


"Kenapa kamu tertawa?" Farhan menatap tajam. Tak suka Bryan yang menertawakannya. Seolah sedang menertawakannya yang menceritakan istrinya hamil.


"Tidak aku hanya terkejut dan menertawakan diriku yang belum punya anak lagi saja." Bryan mengelak agar tidak membuat Farhan naik darah lagi. 


Farhan diam saja masih menahan kesalnya.


"Jangan terlalu keras pada ibu hamil. Ibu hamil memang seperti itu tingkahnya, jadi jangan sampai emosimu membuat bayi dalam kandungan istrimu takut," ucap Bryan menasehati Farhan. 


"Bisa-bisa anaknya nanti tidak jadi keluar kalau lihat papanya emosian begitu," gumam Bryan.


"Apa kamu bilang?" 


"Tidak-tidak," elak Bryan takut. 


Farhan masuk kembali ke ruangan khusus keluarga itu. Shea yang tadi terkejut, membelai bahu Lisa untuk bersabar menanggapi amarah suaminya. Lisa yang melihat kedatangan Farhan sudah siap sedia menerima amukan suaminya itu lagi. 


"Ayo pulang. Tidak baik ibu hamil tidur terlalu malam." Suara Farhan lebih lembut dari sebelumnya. 


Lisa terperangah karena dia pikir suaminya akan marah, tetapi ternyata tidak. Tak mau membuat suaminya seperti binatang buas yang siap menerkam, Lisa mengangguk. 


"Se, aku pulang dulu." Lisa menautkan pipi pada Shea. 

__ADS_1


"Hati-hati ya, jaga kandunganmu." Shea tersenyum dan mendapatkan anggukan dari Lisa.


Shea menatap Lisa dan Farhan pergi. Merasa aneh karena Farhan begitu lembut secara tiba-tiba, padahal dia tadi sempat marah-marah.


"Kamu berikan obat apa dia tidak marah lagi?" tanya Shea polos pada suaminya. 


"Obat apa maksudmu?" Bryan bingung.


"Tadi Farhan keluar masih dengan emosi, sekarang dia masuk dengan tenang."


"Oh itu … tidak aku berikan apa-apa. Aku hanya memberitahu anaknya akan masuk kembali ke dalam kandungan lagi kalau dia sering-sering marah." 


Dahi Shea berkerut. Bingung mengartikan ucapan Bryan.


"Coba bayangkan, dia sedang menunggu istrinya melahirkan, lalu dia kesal dan marah karena anaknya tak kunjung keluar. Saat itu anaknya yang hendak keluar tiba-tiba masuk lagi malas melihat papanya suka marah-marah." Bryan tertawa terbahak membayangkan hal itu.


Shea menggeleng bingung. "Imajinasimu terlalu liar hingga membayangkan hal seperti itu." Dia melangkah menghampiri mertuanya yang sedari tadi membawa El. Mengabaikan suaminya.


"Memang apa yang liar. Bisa saja begitu bukan?" Bryan masih tertawa. Kemudian menyusul istrinya.


.


.


.


...Kita kedatangan tamu istimewa-Farhan dan Lisa dari Novel Hello My Boss!...


...Bab ini dibuat atas izin author Anarita ya...


...Salam dari Author kece Anarita buat kalian semua pembaca Wedding Project ...

__ADS_1


__ADS_2