
Di ruang tamu apartemen Chika, dua pria tampan menunggu Felix. Mereka berdua ingin mendengar penjelasan atas apa yang terjadi pada wanita yang sedang istirahat di kamar itu.
Felix yang keluar dari kamar langsung menghampiri dua pria yang tengah menunggunya. Kemudian, dia duduk tepat di depan mereka, seolah dia sedang akan disidang oleh orang tuanya.
"Coba jelaskan dulu padaku bagaimana bisa Chika tinggal di sini?" Regan lebih dulu berbicara. Regan melipat tangannya di dada dan menatap Felix dengan tatapan tajam.
Setahunya Chika tinggal bersama kedua orang tuanya. Sebagai atasannya dia juga tidak mau terjadi apa-apa dengan sekretarisnya, mengingat sekretarisnya yang lama hamil di luar nikah.
"Dia yang meminta." Felix menjelaskan dengan tenang.
Dahi Regan berkerut dalam disertai matanya yang menyipit. Rasanya dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Tanya saja pada Bryan jika Kak Regan tidak percaya." Karena melihat Regan yang tidak percaya padanya, Felix mencoba mencari pembuktian.
Regan beralih pada Bryan yang duduk di sebelahnya. Dia menatap dengan tatapan yang seolah bertanya atas semua ucapan Felix.
"Iya, Chika sediri yang mengatakan ingin tinggal di apartemen untuk dekat dengan Felix, dan aku meminjamkan apartemen ini padanya."
Beruntunglah ada Bryan yang ikut menjelaskan pada Regan. Jadi Felix tidak sepenuhnya disalahkan
Regan menerima penjelasan Bryan, walaupun dia masih bertanya-tanya kenapa Chika mengambil langkah itu, mengingat terlalu berbahaya wanita tinggal dekat dengan seorang pria. Namun, dia tidak mau ikut campur dengan langkah yang diambil sekretarisnya itu.
"Lalu masalah ke klub? Penjelasan apa yang kamu ingin berikan?" Regan kembali bertanya pada Felix.
"Iya, aku juga penasaran, bagaimana bisa kamu membawanya ke klub?" Bryan tak kalah antusias ingin mendengar penjelasan Felix.
"Dia juga yang minta."
Bryan dan Regan saling menatap saat mendengar penjelasan Felix. Mereka berdua tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Felix. Mata mereka berdua beralih pada Felix menatap seolah tak percaya.
Rasanya Felix benar-benar kesal dengan dua pria di hadapannya yang menatap penuh curiga padanya. "Dia mengatakan ingin mengenal dunia kelamku agar ke depan tidak ada keraguan," jelas Felix.
Bryan dan Regan mengangguk. Walaupun tidak mendengar langsung dari Chika, tetapi mereka berusaha percaya.
"Semalam setelah dia bertanya tentang mantan kekasihku, dia seolah menunggu berharap mantan kekasihku datang dan tak mau pulang. Hingga akhirnya kami pulang sekitar jam tiga."
"Jadi dia pingsan karena kurang tidur?" tanya Regan memastikan dan mendapati anggukan kepala dari Felix.
"Shea juga pernah seperti itu, dia merasa pusing karena begadang menjaga El. Bedanya dia tidur setelah pagi aku menjaga El." Bryan menambahi apa yang diucapkan Felix.
__ADS_1
"Dokter juga mengatakan begitu. Kurang tidur mengakibatkan tekanan darah rendah dan membuat pusing." Felix menceritakan apa yang dikatakan dokter tadi saat pemerikasaan.
"Baguslah, aku pikir kamu berikan minuman padanya," ucap Regan dengan nada menyindir.
Felix mendengus kesal mendengar ucapan Regan. "Aku tidak sekejam itu." Matanya melirik tajam.
Melihat Felix yang kesal justru membuat Bryan tertawa. "Kamu tahu, Kak Regan hanya takut sekretarisnya hamil lagi."
Ucapan Bryan itu mampu membuat ekor mata Regan melirik tajam. Adik iparnya itu benar-benar tak takut menggodanya.
"Tenanglah Kak, aku tidak akan melakukannya, aku bukan Bryan," ucap Felix pada Regan. Matanya melirik pada Bryan yang jadi bahan sindirannya.
Bryan mengumpat saat Felix menjadikannya acuan. Umpatan Bryan sontak membuat Regan tertawa dan menular pada Felix. Bryan yang berniat menjadikan Felix bahan tertawaan justru dirinya sendiri yang terkena.
"Baiklah kalau begitu. Aku percaya padamu, " ucap Regan sesaat setelah mengakhiri tawanya. "Jadilah laki-laki baik yang bisa menjaga harga diri wanita." Dengan tatapan teduh, Regan menasihati Felix. Dia tidak mau kejadian Bryan dan Shea terulang kembali.
"Aku akan menjaganya dan tidak melakukan hal buruk pada Chika," jelas Felix.
Bryan dan Regan melihat kesungguhan dari Felix dan mereka yakin tidak akan terjadi hal buruk pada Chika saat bersama dengan Felix.
"Baiklah kalau begitu, sepertinya kita tidak bisa melanjutkan lagi pembicaraan bisnis dalam situasi seperti ini, jadi kita tunda saja." Regan yang melihat Felix akan sibuk menjaga Chika, memilih untuk menjadwalkan ulang pertemuan mereka.
"Maaf sudah merusak rencana pembahasan bisnis," ucap Felix dengan penuh permohonan.
"Santai saja." Regan berdiri dan menepuk bahu Felix. "Aku harus kembali ke kantor, jadi jagalah Chika agar dia tidak berlama-lama libur." Regan menyelipkan senyum saat berbicara pada Felix.
"Aku akan menjaganya, Kak." Janji seorang pria sejati yang terucap dari Felix.
"Ayo, Bry, kita kembali ke kantor," ajak Regan pada Felix.
"Aku mau pulang saja," ucap Bryan seraya berdiri.
Regan menatap penuh heran. "Kenapa?" tanyanya ingin tahu.
"Shea baru saja mengirim pesan jika El dijemput mama." Bryan tersenyum penuh arti.
Mendengar ucapan Bryan, Regan langsung merogoh kantung celananya untuk mengambil ponselnya. Mengecek apakah Selly mengirimi pesan padanya. "Ayo, kita pulang," ucap Regan tersenyum setelah mendapati pesan Selly yang mengatakan jika anaknya pergi dan akan menginap di rumah mertuanya.
Melihat dua pria beristri di hadapannya, Felix begitu kesal. Mereka berdua seolah sedang meledeknya.
__ADS_1
"Cepatlah menikah." Bryan kembali membuat panas Felix. Dia tahu jika temannya sudah lama sekali tidak menyentuh wanita. Lebih tepatnya sejak putus dari pacarnya.
"Enyahlah kalian!" jawab Felix kesal.
"Ayo, Kak kita pulang, kita cari kenikmatan di rumah." Bryan merangkul Regan dan mengajaknya keluar dari apartemen Chika atau lebih tepatnya apartemen miliknya yang ditempati Chika.
"Pergi-pergi sana!" Felix mendorong tubuh Regan dan Bryan. Apa yang dilakukan Felix justru membuat Regan dan Bryan tertawa.
"Selamat menahan godaan," ucap Bryan terakhir kali sebelum benar-benar meninggalkan apartemen.
Felix hanya bisa mendengus kesal. Dia menutup pintu dan menuju ke kamar Chika. Sebenarnya Felix benar-benar diuji saat Chika dekat, tetapi dia akan membuktikan jika cintanya bukan hanya sekadar nafsu belaka.
Masuk ke dalam kamar, Felix menghampiri tempat tidur Chika. Dia melihat Chika yang tampak tertidur pulas. Saat Chika tidur, dia begitu tampak tenang.
Aku tahu kamu semalam ingin mengujiku. Namun, sepertinya kamu salah jika aku akan tergoda.
Senyum Felix tertarik di sudut bibirnya. Sejauh apa Chika berusaha membuatnya kalah, dia akan semakin kuat berusaha.
Felix merapatkan selimut menutupi seluruh tubuh Chika dan keluar dari kamar. Dia akan menunggu Chika di ruang tamu.
Mendengar pintu tertutup, Chika membuka matanya. "Menjagaku?" Dia mengulang kembali ucapan Felix yang dia ucapkan pada Regan dan Bryan.
.
.
Bersambung ....
Jadwal up jam 12 WIB
...----------------...
...Jangan lupa vote ya ini hari Senin...
...Kasih hadiah, komentar dan like untuk ...
...Wedding Project ...
...biar aku tambah ssmangat...
__ADS_1