
Setelah mengucapkan selamat pada Felix, Bryan dan Shea turun dari pelaminan. Melanjutkan menikmati acara.
Namun, dari kejauhan mereka melihat Farhan dan Lisa yang datang. Tamu istimewa Felix itu tak disangka akhirnya datang juga. "Han," panggil Bryan dan menghentikan langkah Farhan yang hendak memberikan ucapan pada Felix.
"Hai, Bry." Farhan mengulurkan tangan pada Bryan.
Bryan menerima uluran tangan Farhan. "Kamu baru datang?"
"Iya, kami baru datang." Tadi Farhan ingin datang dan mengikuti prosesi pernikahan dari awal, tetapi istrinya begitu lama berdandan. Semenjak istrinya hamil, Farhan menurut dan menunggu ibu hamil yang sedang hamil dua bulan itu.
"Lisa." Shea menautkan pipinya pada Lisa.
"Di mana El?" tanya Lisa yang melihat Shea dan Bryan sendiri.
"Mereka bersama dengan neneknya," jelas Shea.
"Baiklah. Kami memberikan ucapan selamat dulu." Farhan yang berniat memberikan ucapan selamat, melanjutkan niatnya.
Bryan mengangguk dan membiarkan temannya itu menemui Felix.
Farhan dan Lisa menemui Felix dan Chika. Mengantri dengan para tamu undangan yang ingin memberikan selamat.
"Selamat untukmu Felix." Farhan mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Felix menerima uluran tangan Farhan. "Akhirnya kalian datang juga, aku pikir kalian tidak datang."
"Mana mungkin kami tidak datang." Farhan menjawab datar, yang baginya itu adalah ekspresi terbaiknya saat ditunjukkan kepada calon pengantin.
Felix menjawab ketus. "Bisa saja kau tidak datang, dulu saja kami tidak diundang du acara resepsi pernikahanmu."
Felix mengingatkan jika Farhan lupa. karena ia akan terus mengingat momen di mana Farhan menikah tapi tidak menghadirkan sahabat seperjuangannya.
"Ah, itu adalah resepsi kejutan yang disiapkan oleh sekretarisku Rico. Dia sangat membenci pertemanan kita. Mana mungkin orang seperti dia mau mengundangmu." Begitu jahatnya Farhan bertutur kata. Tidak pakai perasaan apalagi hati nurani.
Perkataan Farhan benar-benar tanpa disaring sama sekali. Namun, dia tak bisa menyalahkan mengingat dia dulu yang menjadi biang keladi mabuknya Bryan dan Farhan. "Ya sudahlah, yang terpenting berikan saja doa untukku agar kami segera memiliki anak."
"Aku doakan kamu segera memiliki anak seperti kami."
"Iya hamil, memangnya kenapa?" Pria itu mengernyit heran saat melihat ekspresi Felix yang tampak terkejut sekaligus menghina.
Kira-kira butuh waktu berapa lama Farhan melakukannya untuk bisa jadi anak, ya?
"Mas, ayo cepat. Para tamu undangan yang lain mengantre." Suara Lisa menghentikan perdebatan dua sahabat itu. Sedari tadi setelah mengucapkan selamat pada Chika, Lisa menunggu suaminya berbincang dengan Lisa.
"Iya," jawab Farhan, kemudian dia beralih pada Felix. "Sekali lagi selamat."
Felix mengangguk, tetapi masih dengan sejuta pikiran yang menggerayangi otak negatifnya tentang durasi membuat anak singkat yang Farhan terapkan.
__ADS_1
Aku tidak boleh kalah. Nanti aku akan berusaha untuk segera memiliki anak.
Farhan dan Lisa sudah turun dari pelaminan dan melanjutkan menikmati pesta. Namun, Felix masih kehilangan konsentrasinya. Pria itu senyum-senyum tidak jelas, membuat Chika yang ada di sampingnya sampai keheranan. "Apa yang kamu lakukan." Chika menyikut lengan Felix, tapi pria itu mendadak mati rasa. Merasa kesal, akhirnya Chika mencubit pinggang Felix sampai ia memekik kesakitan.
"Awww. Ada apa?" Felix menoleh dengan muka bodoh.
"Itu!" Mata Chika tertuju pada tamu yang sedari tadi menunggu Felix menjabat tangannya.
"Ah, maaf … maaf." Pria itu tersenyum kikuk sambil menggaruk kepala bagian belakangnya yang tak gatal.
Beberapa makanan yang terjadi, menggoda ibu hamil untuk mencicip makanan yang disediakan.
"Mas, aku mau itu." Lisa menunjuk stand kambing guling. Terlihat begitu banyak orang yang mengantri untuk makanan itu. Sungguh Farhan malas sekali jika harus mengantri. Namun, mau sampai ibu hamil mengamuk karena keinginannya menikmati makanan itu.
Dengan langkah gontai, Farhan menuju ke stand kambing guling dan mengantri.
Lisa menunggu Farhan sambil memperhatikan suaminya itu yang sibuk mengantri.
"Lisa," panggil Shea yang melihat istri teman suaminya itu sendiri. "Kamu sedang apa?"
" Menunggu kambing guling," jawabnya tanpa menambahkan jika suaminya yang mengambil.
"Oh, ayo ikut aku jika kamu ingin itu. Kita makan yang khusus disiapkan untuk keluarga." Shea menarik tangan Lisa menuju ke tempat khusus keluarga.
__ADS_1
Bersama Shea, Lisa makan dan mengobrol. Menceritakan makanan yang sedang dimakannya.