Wedding Project

Wedding Project
Demi Sebuah Ciuman


__ADS_3

Chika dan Felix sudah berada di kamar mandi. Menggosok gigi mereka bersama-sama. Sedari tadi Felix mendengus kesal karena sudah sebanyak lima kali Chika memintanya menggosok gigi.


"Kalau kamu mau merasakan pedes sepertinya kamu makan sambal saja!" keluh Felix karena ini ke enam kalinya Chika memintanya gosok gigi. Dia tak menoleh. Hanya melihat dari pantulan cermin. 


"Sekali lagi saja. Tadi aku saja lima kali, jadi sebagai pria kamu harus lebih banyak dari aku."   


Sebenarnya Felix kesal,  tetapi demi sebuah ciuman dia rela menahan pedasnya pasta gigi yang sudah mulai terasa panas.


Bagaimana bisa di tadi menggodok gigi lima kali, tanpa kepedasan? Ach … mungkin pasta gigi yang dipakai pasta gigi anak-anak jadi tidak pedas. 


Pikiran Felix dihiasi dengan berbagai spekulasi tetang Chika yang tidak kepedasan. Agar cepat mendapatkan ciuman, Felix buru-buru menggosok giginya ke enam kalinya.


Jujur Felix tertawa dalam hatinya. Baru kali ini dia merasakan sesulit ini jika ingin berciuman, tidak terbayang jika nanti nafsunya muncul tiba-tiba, apakah tunangannya itu tetapi sesulit ini untuk langsung berciuman.


"Aku sudah selesai." Chika yang menggosok gigi di samping Felix tersenyum senang, bisa menyelesaikan kegiatannya. 


Dari pantulan cermin, Felix  melihat senyum Chika. Karena tak mau berlama-lama, dia buru-buru menyelesaikan kegiatan menggosok gigi yang aneh. 

__ADS_1


Dari pantulan cermin, Felix juga melihat deretan giginya yang mungkin sekarang sudah seputih susu itu. Tanpa Felix cek aromanya, sudah bisa dia rasakan jika pasti aroma mint mendominasi mulutnya. 


"Ayo!" ajak Felix dengan semangat. Tidak mau kehilangan momen berharga. 


Felix dan Chika keluar dari kamar mandi yang berada di kamar Felix. Mereka saling bergandengan tangan keluar. 


"Kita akan lakukan di mana?" 


Pertanyaan Chika menghentikan langkah Felix. Dia menatap ranjang kosong di kamarnya. "Di ruang tamu saja." Felix menarik tangan Chika. Tadinya, dia berpikir untuk melakukannya di kamar, tetapi dia takut justru bukan hanya ciuman yang akan terjadi jika dilakukan di kamar. Akhirnya, dia memilih ruang tamu untuk melakukan ciuman yang mungkin akan jadi kenangan untuk Felix karena ternyata protokolnya terlalu banyak. 


Di ruang tamu, mereka berdua duduk di sofa. Saling berhadapan dan bersiap memulai adegan ciuman. Mata mereka saling beradu, mengunci pandangan. Deru napas mint yang diharapkan Chika juga sudah tercium, membuat Chika senang karena sudah sesuai keinginannya. 


"Ada apa?" tanya Felix frustrasi. 


"Dengar, jangan menggigitku, jangan pula kasar, jangan lama-lama juga karena pasti aku akan sulit bernapas!" Chika tidak mau sakit di bibirnya saat adegan ciuman yang pertamanya. Salah … sudah ketiga kalinya dengan Felix setelah yang pertama kecupan dan kedua tadi ciuman rasa sup angkak.


Felix menahan kesalnya. Tidak menyangka jika tunangannya itu hanya ingin mengatakan hal itu saja. Tanpa Chika meminta, dia akan melakukan hal itu, mengingat ini pengalaman pertama Chika. . "Iya-iya." Menurut adalah pilihan baik. 

__ADS_1


Mereka berdua kembali mendekatkan diri, bersiap menikmati ciuman yang akan menjadi kenangan untuk mereka. 


"Tunggu!" Chika kembali menghentikan bibir yang tinggal satu centimeter itu menempel. 


"Apa lagi?" tanya Felix sudah frustrasi. 


"Taruh tanganmu di belakang!"


Dahi Felix berkerut dalam mendengar permintaan Chika. "Kenapa?"


"Aku suka lihat adegan di film, tangan para pria bergerilya, jadi aku tidak mau tanganmu juga bergerilya."


Felix ingin sekali menjambak rambutnya, karena Chika benar-benar menguji kesabarannya. "Apa kamu perlu tali juga untuk mengikat tanganku?" tanyanya menyindir. 


"Apa menurutmu itu lebih bagus?" Mata Chika berbinar saat menanyakan akan hal itu. 


Tubuh Felix lemas, mendengar pertanyaan konyol Chika. Padahal, tadi niatnya hanya menyindir Chika, tetapi tunangannya itu tampaknya tidak mengerti. "Sepertinya tidak perlu. Aku tidak akan melakukannya. 

__ADS_1


Chika menerawang dalam bola mata Felix. Mencari kebenaran dari ucapannya. Satu anggukan menjadi jawaban dan mereka melanjutkan lagi adegan yang tertunda. 


Tubuh mereka semakin dekat kembali. Tangan Felix sengaja diletakkan di belakang, sesuai dengan keinginan Chika. Kali ini Felix sudah bisa merasakan bibirnya menempel. Dia hanya berharap tidak akan ada pemberhentian sepihak lagi. Namun, ternyata dia salah berpikir seperti itu. 


__ADS_2