
Setelah perjalanan tiga jam akhirnya Chika dan Felix sampai di rumah orang tua Regan. Saat sampai di rumah orang tua Regan, Chika terperangah melihat rumah yang cukup besar. Desain klasik mendominasi, membuat rumah terlihat dengan gaya Eropa.
Mereka mengobrol sejenak di ruang keluarga. Bercerita tentang rumah yang sudah lama tak dihuni itu. Hanya asisten rumah tangga yang tinggal di sana.
Puas bercerita, Chika dan Felix masuk ke dalam kamar masing-masing. Chika yang merasa tubuhnya lengket karena perjalanan, segera menyegarkan tubuhnya.
Tepat saat Chika menyelesaikan mandinya, suara ponsel berdering. Chika meraih ponsel yang tadi diletakkannya di atas nakas. Dahinya berkerut saat melihat nomor siapa yang menghubunginya.
"Ada apa kamu menghubungi? Kenapa tidak menemui langsung?" Chika yang merasa heran saat Felix yang menghubungi langsung bertanya tanpa basa basi.
"Aku mau mengajakmu keluar untuk makan malam."
"Oh … kemana?"
"Ikut saja, nanti kamu akan tahu."
Chika mendengus kesal saat Felix tidak mau memberitahunya. " Ya sudah, aku akan bersiap."
Chika mematikan sambungan telepon dan bersiap untuk makan malam dengan Felix. Setelah mereka berpamitan dengan Regan dan Selly, mereka pergi ke sebuah restoran.
"Kenapa Kak Selly dan Kak Regan tidak pergi seperti kita?" tanya Chika. Tadi dia melihat mereka tampak biasa saja seolah tidak tertarik untuk pergi.
__ADS_1
"Mereka sudah puas di London, jadi wajar mereka tidak tertarik." Felix tahu jika Regan pernah menyusul Selly ke London. Jadi bisa dipastikan mereka sudah sangat puas menikmati London.
Chika mengangguk. Dia kembali melihat jalanan yang dilalui. Gemerlapnya kota dengan lampu-lampu yang terang begitu tampak ini.
Mereka sampai di sebuah restoran rooftop yang terletak di gedung tinggi. Saat melihat tampilan restoran Chika terpesona dengan bentuknya yang seperti cube atau lebih mirip rumah igloo-suku es kim.
"Ayo," ajak Felix. Saat melangkah dia melihat Bryan dan Shea dari kejauhan.
Sudah aku tebak pasti dia akan memilih ke sini juga.
Tak mau Bryan melihatnya, Felix memilih tempat yang sedikit jauh dari Bryan dan Shea. Tidak mau terganggu dengan sepasang suami istri itu.
Chika dibuat kagum dengan pemandangan yang dilihatnya. Pemandangan dari meja restoran begitu indah. Sungai Thames dan tower Bridge terlihat dari sana.
Felix tersenyum melihat wajah Chika yang begitu senang. Sambil melihat Chika, dia memesan beberapa menu spesial dari restoran.
"Kamu tahu, aku benar-benar senang bisa ke London," ucap Chika, "terima kasih sudah mengajakku."
"Aku jauh lebih senang karena bisa pergi bersamamu." Tangan Felix meraih tangan Chika. "Terima kasih sudah memberiku kesempatan," ucapnya menatap Chika. Meraih tangan tunangannya itu, dia mendaratkan kecupan di sana.
Kali ini tidak ada perlawanan dari Chika. Dia tampak biasa saja saat Felix mencium tangannya. Yang ada di dalam hatinya justru penyesalan. Penyesalan karena belum sepenuhnya membalas cinta Felix.
__ADS_1
"Maafkan aku." Satu kalimat dari Chika yang keluar. Felix merasa heran kenapa Chika meminta maaf.
"Aku belum bisa mencintaimu seperti dirimu mencintaiku." Chika menundukkan kepalanya merasa malu.
Tangan Felix meraih dagu Chika. Menetap lekat wanita yang sekarang menjadi tunangannya. "Aku akan menunggu, sampai kamu benar-benar mencintaiku," ucapnya tersenyum.
Chika mengangguk. Sedikit mulai sedikit dia merasa nyaman dengan Felix. Kebaikan Felix selama ini membuatnya benar-benar luluh. Niatnya untuk mengakhiri rencana pernikahan perlahan pudar. Satu hal yang ingin Chika lakukan adalah merasakan lebih dalam perasaanya. Agar kata cinta mampu keluar dari mulutnya.
Mereka berdua menikmati malam yang indah. Di bawah langit malam yang bertabur bintang. Tangan mereka saling bertautan, menggenggam erat. Chika mulai belajar membuka hatinya dan membiarkan Felix masuk dan mengisi hatinya.
Jika aku tak membiarkan dia masuk, bagaimana aku akan tahu, aku mencintainya atau tidak.
.
.
.
.
...Hari ini hari Senin, jangan lupa berikan ...
__ADS_1
...vote dan hadiah ...