Wedding Project

Wedding Project
Tidurlah di Kamarku


__ADS_3

Aroma masakan yang menggelitik indera penciuman membuat Chika mengerjap. Dia merasakan lebih dalam aroma apa yang diciumnya dan memastikan jika yang dihirupnya adalah aroma masakan.


"Selimut?" gumam Chika yang mendapati selimut tipis di tubuhnya. Seingatnya tadi tidur saat memutuskan untuk tidur di sofa, dia tidak memakai selimut.


Aroma masakan yang terus masuk ke dalam indera penciumannya, mengalihkan pertanyaan siapa yang memberikannya selimut. Menyibak selimut dan menurunkan kakinya, dia beranjak dari tidurnya.


"Aduh," keluhnya saat mendapati tubuhnya pegal karena tidur di sofa. Rasa penasarannya membuatnya tetap melangkah ke pusat aroma itu berasal.


Langkah Chika terhenti saat melihat seorang pria sibuk di depan kompor. Dengan kemeja putih yang digulung sampai di siku, dia terlihat sangat keren.


Seperti di film-film


Secara tidak langsung Chika mengangumi ketampanan Felix saat memasak. Debaran di hatinya pun begitu terasa kencang. Hingga tanpa sadar tangannya memegangi dadanya.


"Kamu sudah bangun?" Felix yang berbalik untuk meletakan makanan di piring saji, melihat Chika berada di depan meja makan. Melangkah ke meja makan dan meletakan makanan di atas meja. "Ayo makan." Dia menarik kursi dan duduk.


Chika masih mengatur degub jantungnya. Hingga akhirnya sesaat kemudian dia duduk. "Apa kamu yang memasak semua ini?" tanya Chika memandangi makanan di hadapannya.


"Iya. Memang kamu pikir siapa lagi." Felix mengambilkan nasi sup di atas piring saja dan memberikan pada Chika.


"Terima kasih," ucapnya. Namun, matanya menatap ke arah makanan di hadapannya.


"Apa kamu takut aku mencampuri obat tidur?" goda Felix melihat Chika yang memandangi makannya.


Chika beralih menatap Felix. Sebenarnya dia hanya heran saja kenapa bisa Felix memasak. Untuk ukuran laki-laki, memasak adalah hal yang jarang dikuasai.


"Tenanglah, tanpa aku beri obat tidur, kamu sudah sangat pulas saat tidur." Felix kembali bersuara dan menyelipkan tawa di wajahnya.


Ingatan Chika kembali pada selimut yang dipakainya. Dia membenarkan jika tidurnya benar-benar pulas hingga membuatnya tidak sadar saat mungkin Felix menyelimutinya. "Kamu yang memberikan aku selimut?" tanyanya memastikan.


"Di apartemen ini hanya ada aku." Felix menyuap makanan dan memasukan ke dalam mulut.


"Iya juga, memang siapa lagi jika bukan dia," gumam Chika. Tangannya menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Namun, seketika matanya membulat. "Ini kamu yang masak?" Dia beralih menatap Felix memastikan.


"Iya. Apa kamu tidak melihat aku tadi memasak."


Chika mengerjap-ngerjapkan matanya. Memastikan jika dia tidak salah mendengar.


"Memang kenapa?" Felix mengedikkan dagunya saat bertanya pada Chika.


Menelan makanan yang ada di mulutnya, Chika memastikan kalimat yang pas untuk memuji masakan Felix. "Ya … aku tidak percaya saja jika kamu yang memasak."

__ADS_1


Senyum tipis tertarik di sudut bibir Felix. "Enak?" tanyanya dengan melebarkan senyum di wajahnya.


Chika melihat ke arah makanan untuk menghindari kontak mata dengan Felix. "Biasa saja."


"Biasa?" Felix memiringkan kepalanya untuk melihat sorot mata yang ditujukan Chika.


Mendapati tatapan intimidasi dari Felix, Chika semakin salah tingkah. Akhirnya dia memilih untuk mengalihkan pembicaraan. "Tadi Shea dan Kak Selly kemari." Dia menegakkan kepalanya dan memberanikan menatap Felix.


"Bryan sudah cerita," jawab Felix seraya memasukan makanan ke mulutnya.


Chika mengangguk. Sesuai dugaannya Felix sudah tahu. Lagi pula pembicaraannya hanya sekadar untuk mengalihkan. Kemudian dia melanjutkan makannya.


Saat makan Felix mengingat sesuatu. "Kenapa kamu tidur di sofa?" Saat sampai di apartemen, dia mendapati Chika yang meringkuk di sofa.


"Tadi sewaktu El akan diganti popok, dia pipis lagi, jadi tempat tidurku basah."


Felix mengedikkan bahunya. Membayangkan bau ompol dari anak Bryan. "Tidurlah di kamarku," ucapnya.


"Uhuk … uhuk." Chika tersedak mendengar ucapan Felix. Buru-buru tangannya meraih minum dan meminumnya. "Jangan macam-macam kamu!" Dia melayangkan tatapan tajam pada Felix. Tubuhnya gemetar membayangkan jika dia harus tidur dengan tunangannya itu.


"Kamu pikir aku mau apa?" Felix menyelipkan senyuman di wajahnya. Tebakannya adalah Chika sedang berpikir macam-macam tentangnya.


"Apa yang dilakukan pria dan wanita dalam satu kamar?" Chika menjawab gugup ucapan Felix.


Chika menelan salivanya. Pertanyaan Felix membuatnya bergidik ngeri. Dia bukan Wanita polos yang tak pernah melihat film dengan adegan di kamar. Namun, membayangkan terjadi padanya dia tidak sanggup.


"Aku tidak bilang aku akan di kamar 'kan?" Felix menegakkan tubuhnya.


Dahi Chika berkerut dalam, tidak mengerti apa yang ditanyakan Felix. "Bukannya tadi kamu bilang tidur di kamar?"


"Iya, kamu, bukan aku."


Wajah Chika merona malu. Pikirannya sudah melayang jauh, tapi ternyata dia salah. "Aku sendiri?" tanyanya ragu-ragu.


"Memang kamu mau denganku?" Felix mendekatkan tubuhnya kembali.


Walaupun mereka terhalang oleh meja makan dan pasti Felix tidak akan bisa mendekat padanya, tetap saja Chika memundurkan tubuhnya.


Felix langsung tergelak. "Hanya kamu, tenang saja."


"Lalu kamu?"

__ADS_1


"Aku akan tidur di sofa."


Merasa tidak enak, Chika menolak. "Aku saja yang tidur di sofa."


"Apa kamu mau pingsan besok saat bekerja karena tidak nyaman tidur?" Felix mengedikkan dagunya dengan disertai alis yang terangkat.


Mengingat bagaimana tubuhnya pegal karena tidur di sofa, Chika berpikir apa yang dikatakan Felix benar. Lagi pula dia sudah izin hari ini, dan tidak mungkin sampai harus izin besok pagi karena pegal.


"Baiklah." Akhirnya Chika menyetujui dan membuat Felix tersenyum tipis.


***


Chika masuk ke dalam kamar Felix ragu-ragu. Namun, dia tidak ada pilihan mengingat besok dia harus bekerja.


Masuk ke dalam kamar, Chika menghirup aroma parfum yang sering dipakai oleh Felix. Aroma maskulin yang begitu menyengat, seolah menempel di kamar milik Felix.


"Aku akan tidur di luar," ucap Felix mengambil bantal dan melewati Chika. "Jangan lupa kunci pintunya, aku sering berjalan saat tidur," imbuhnya sambil tersenyum menyeringai. Kemudian dia keluar dari kamarnya.


Mata Chika membulat, karena terkejut, tetapi buru-buru dia menyadarkan dirinya saat Felix sudah tidak di kamar. Dengan cepat dia melangkah menuju ke pintu dan menguncinya, tidak mau sampai Felix mendatanginya dan melakukan hal buruk padanya.


"Bukannya kemarin aku yang menggodanya? Sekarang giliran dia yang menggodaku, aku sudah kalang kabut." Chika merutuki saat mengingat bagaimana ulahnya kemarin.


Matanya yang sudah mulai berat, ingin segera dia pejamkan. Melangkah menuju ke tempat tidur, Chika merebahkan tubuhnya. Menarik selimut dan menutupi tubuhnya.


"Apa dia menyemprotkan parfum di seluruh sisi," gerutu Chika menghirup aroma bantal yang tercium aroma parfum Felix.


Mengabaikan aroma yang masuk ke indera penciumannya, dia memejamkan matanya. Menikmati tempat tidur nyaman milik Felix.


Felix yang di luar menyusun bantalnya di sofa. Dia pasrah merelakan tempat tidurnya untuk tunangannya. "Andai dia mau tidur denganku, aku tidak perlu susah-susah tidur di sini." Merebahkan tubuhnya, Felix mencari posisi nyaman. Kemudian memejamkan matanya menuju ke alam mimpi dengan membayangkan tidur bersama Chika.


.


.


.


.


...Maaf ya kemarin kurang sehat jadi ga up...


...Jangan lupa berikan...

__ADS_1


...Like, Komentar, Vote dan Hadiah....


__ADS_2