
Setelah makan siang Chika dan Felix pulang. Mereka juga ingin menyiapkan semuanya. Karena mereka juga belum selesai menyiapkan keperluan mereka.
"Ternyata benar Shea yang membelikan coat kemarin." Suara Chika terdengar saat dalam perjalanan ke apartemen.
Felix yang sedang sibuk menatap jalanan menoleh sebentar pada Chika. Senyumnya tertarik di sudut bibirnya. Dia mengingat kemarin sewaktu menghubungi Shea.
"Se, aku ingin membeli coat untuk Chika, tetapi pasti dia menolak jika aku yang membeli. Bisakah kamu yang membelikan dan atas namamu barang itu diberikan."
"Apa tidak apa-apa jika atas namaku? Apa tidak sebaiknya dari kamu saja? Itu akan membuat kesenangan tersendiri untukmu." Shea yang diseberang sana menjelaskan pada Felix.
"Tidak perlu dari aku. Melihat dia tersenyum memakai coat itu sudah cukup untukku."
"Wah ... romantis sekali kamu." Shea tertawa menggoda Felix. "Dapat apa aku membantumu?" Masih dengan nada menggoda Chika bertanya.
"Apa yang kamu mau?"
"Mau coat juga." Suara Selly terdengar.
Felix menghela napasnya. Kakak Regan itu adalah biang rusuh. Dalam situasi membantu masih mengambil kesempatan. "Apa seorang istri CEO kekurangan uang meminta asistennya untuk membeli coat," ucap Felix dengan nada menyindir.
Suara tawa Selly terdengar dari seberang sana. "Hai, Tuan asisten, sepetinya kamu harus belajar banyak dariku dalam hal tipu menipu. Jadi belikan saja aku dan Shea coat dan akan aku atur semua."
Felix mendengus kesal. Namun, memang dia akui jika kakak Bryan itu ahlinya, karena dia sudah mengenal Selly cukup lama. "Iya-iya. Aku akan kirimkan uangnya. Akan kirim ke rekening Shea."
"Kamu akan dapat hasilnya."
Felix tersenyum mengingat hasil yang dikatakan oleh Selly. Terbukti Chika percaya. "Memangnya kamu kira siapa yang membeli jika bukan Shea?" goda Felix menggoda.
__ADS_1
"Bukan siapa-siapa," elak Chika. Pipinya merona malu. Sebenarnya memang dia menduga jika Felix yang membelikannya.
"Kamu tahu Shea dan Kak Selly juga membeli jadi nanti kami akan memakai coat yang sama." Chika menjelaskan dengan sangat senang.
Felix akhirnya mengerti kenapa kakak Bryan itu sengaja membeli tiga barang yang sama, ternyata agar Chika tidak curiga dan benar saja tunangannya itu tidak curiga sama sekali.
Namun, dibalik itu dirinya hampir saja merelakan uang. Untung Bryan menggantinya.
Tadi di ruang keluarga saat menunggu para wanita mengganti baju anak-anak, Bryan, Regan dan Felix mengobrol.
"Apa Shea dan Kak Selly memintamu untuk membeli coat?" tanya Bryan. Bryan baru tahu tadi pagi saat Felix menghubungi untuk mengatakan jika pasti nanti Chika akan bertanya pada Shea. Jadi temannya itu meminta istrinya bersiap jika Chika bertanya.
"Iya, istri-istri CEO benar-benar licik," jawab Felix tersenyum. Kalimatnya sebenarnya tidak sungguh-sungguh karena diiringi dengan senyuman.
"Pasti ide Selly," timpal Regan.
"Istriku itu juga kakakmu dan darahnya sama denganmu, artinya kamu juga sama dengannya." Telak Regan menjawab ucapan Bryan dan membuat Felix tergelak.
Bryan mendengus kesal mendengar ucapan Regan, tetapi sesat kemudian dia tertawa. Jika dia menjelekan kakaknya berarti sama juga menjelekan dirinya sendiri.
"Biar nanti aku ganti uang coat Shea," ucap Bryan.
"Punya Selly juga akan aku ganti," timpal Regan.
"Ya Tuhan, ternyata kalian masih lebih baik dari pad istri kalian. Semoga amal ibadah kalian diterima di sisi Tuhan."
"Kamu pikir kami sudah meninggal," ucap Bryan seraya melempar bantal sofa pada Felix.
__ADS_1
Felix mengelak bantal yang dilempar Bryan. Tawanya terdengar sangat puas menggoda atasannya itu.
"Apa kamu tahu aku senang sekali nanti bisa memakai coat kembar dengan Shea dan Kak Selly." Suara Chika seketika menyadarkan Felix yang sedang mengingat bagaimana akhirnya uangnya kembali.
"Kalian memakai coat kembar sudah seperti study tour dengan seragam," ledek Felix.
"Apa kamu bilang?" Chika menatap tajam pada Felix.
"Kalian memakai baju kembar itu agar lebih mudah dicari juga nanti jika kalian hilang." Felix tertawa menggoda Chika.
"Kamu." Chika melipat tangannya di dada dan memayunkan bibirnya
"Iya, maaf-maaf," ucap Felix tersenyum. "Jangan marah, aku hanya bercanda." Felix mencoba membujuk Chika.
Sebenarnya Chika tidak benar-benar marah, tetapi entah kenapa dia ingin saja merajuk pada Felix.
"Coba tersenyum," goda Felix dan benar saja bisa Chika langsung tersenyum tipis. Dia merasa sangat senang dirayu oleh Felix saat kesal.
.
.
.
...Jangan lupa baca My Perfect Daddy. ...
...Aku juga up di sana....
__ADS_1
...Ayo kasih like komentar hadiah dan vote ...