
Pagi ini Chika bangun lebih awal karena tiba-tiba dia mimpi aneh. Mimpi Felix yang tiba-tiba pergi darinya dan entah kenapa dia menangis.
"Astaga mungkin aku terlalu meresapi adegan di mimpiku," gumamnya seraya menyesap teh hangat yang dibuatnya. Tadi setelah bangun, dia milih untuk ke apartemen Felix. Membuat teh hangat untuk melegakan perasaannya.
"Kenapa juga aku harus bermimpi seperti itu?" Rasanya perasaannya tidak menentu. Dari awal dia yang berniat meninggalkan Felix, tetapi saat ditinggalkan di dalam mimpi saja dia menangis.
"Tidak-tidak. Aku tidak selemah itu!" Menggelengkan kepalanya menolak pikiran itu.
"Siapa yang lemah?" Suara Felix terdengar dan membuat Chika terkejut. Tangan Chik yang sedang memegang cangkir yang berisi teh panas tumpah, karena gerakan tubuhnya yang terkejut.
"Auch … " teriak Chika saat tangannya terkena air panas.
Felix dengan cekatan menghampiri Chika, menarik tangan tunangannya itu dan mengeceknya. "Kenapa kamu tidak bisa hati-hati?" tanyanya kesal. Dia kemudian berdiri untuk mengambil obat luka bakar.
Ya Tuhan, kenapa dia seperti itu? tanya Chika dalam hatinya. Melihat wajah panik Felix membuatnya benar-benar tak berdaya.
Felix kembali duduk. Tangannya menarik tangan Chika lembut dan mengoleskan obat. Dengan lembut dia memberikan salep, berharap lukanya cepat sembuh. Meniup tangan yang olesi salep, dia membuat salep cepat kering dan meresap.
Sedari tadi mata Chika tak berhenti memperhatikan apa yang dilakukan Felix. Pria di hadapannya itu dengan telaten mengobatinya.
Apa ini yang dimaksud papa dan Shea jika dia pria baik?
"Jangan menatapku seperti itu, kamu akan terpesona jika menatapku," goda Felix. Dia masih terus meniup tangan Chika.
Chika yang sedang dalam pikirannya, tersadar saat mendengar suara Felix. "Siapa yang memandangi kamu? Aku hanya melihat tanganku yang merah," elaknya.
"Jika kamu memandangi aku juga tidak apa-apa. Aku tidak keberatan," ucap Felix dengan senyuman di wajahnya.
"Yang ada aku akan bosan melihat wajahmu nanti setiap hari." Chika mendengus kesal seraya menarik tangannya.
"Kenapa bisa bosan?"
__ADS_1
"Bagaimana aku tidak akan bosan? Bangun tidur aku akan melihatmu, sebelum berangkat bekerja aku melihatmu, belum lagi kadang Pak Regan bertemu dengan Bryan dan membuatku bertemu denganmu. Di rumah aku akan bertemu denganmu, dan terakhir saat aku tidur aku akan melihatmu lagi." Chika menjelaskan semua yang akan terjadi padanya.
"Wah … sepertinya kamu sudah membayangkan aku akan ada di dalam hidupmu." Dengan wajah bodohnya, Felix memuji Chika. Sebenarnya tadi pertanyannya hanya memancing Chika.
Chika menelan salivanya saat menyadari jika ternyata dia baru saja mengatakan hal yang salah. Apa yang dikatakannya menjelaskan jika itu terjadi setelah pernikahan dan secara tidak langsung dia menerima pernikahan itu.
"A-aku … " ucapnya terbata. Dia bingung harus mengelak apa lagi.
"Aku apa?" Felix memajukan tubuhnya. Wajahnya berada dalam jarak yang sangat dekat dengan Chika.
Chika menghirup aroma mint yang keluar dari mulut Felix, yang menandakan jika pria di hadapannya itu sudah mandi dan mungkin saja sudah bangun dari tadi saat dia masuk ke apartemen.
"Aku akan membuatmu tidak bosan denganku, justru kamu akan merindukan aku." Felix menatap lekat wajah Chika.
Jarak yang begitu dekat membuat Chika begitu berdebar-debar. Dia akui, jika wajah Felix begitu tampan. Pantas saja jika banyak wanita yang menyukainya.
Semakin lama, wajah Felix semakin mendekat. Hal itu membuat Chika reflek memejamkan matanya. Bayangan di film-film tentang pria yang mendekatkan wajahnya pada seorang wanita dan berujung pada sebuah ciuman, membuat Chika berpikir akan hal itu.
Chika membuka matanya. Dia pikir Felix akan menciumnya, tetapi ternyata tebakannya salah. Chika merasa bingung
Kenapa Felix tidak menciumku padahal kemarin dia mengatakan jika dia suka terbawa suasana. Tadi bukankan suasana sudah pas?
Chika terus memikirkan kenapa Felix menghindar darinya. Namun, sejenak dia mengingat apa yang ada dipikirannya.
Kenapa aku berharap dia menciumku? Menyadari apa yang dipikirannya merujuk pada sebuah harapan dicium, membuat Chika menggeleng-gelengkan kepalanya. Membuang jauh-jauh pikirannya.
Felix yang mulai memasak tersenyum saat melihat tunangannya tadi memejamkan mata. Sebenarnya bisa saja dia mencium, tetapi tak dia lakukan, karena tak mau melanggar janjinya.
Lagi pula Chika yang memejamkan mata bisa berarti dua hal. Pertama karena dia siap untuk dicium. Kedua bisa saja karena dia terlalu takut karena jarak yang terlalu dekat, dan Felix tidak tahu mana alasan yang tepat. Karena itu dia tidak mau mengambil resiko.
**
__ADS_1
Sesuai dengan rencana tadi pagi, siang ini Felix dan Chika akan pergi ke rumah Nadia. Setelah kejadian cium-mencium yang tidak jadi tadi, Chika memilih diam. Terlalu malu mengingat dirinya yang tadi seolah terlalu pasrah saat hendak dicium.
Sampai di rumah Nadia, mereka disambut oleh Nadia dan anak yang berusia dua tahun itu. Felix meraih tubuh bayi dua tahu itu seraya mengenalkan Chika sebagai tunangannya dan disambut senang oleh Nadia.
Chika merasa heran, bagaimana hubungan Felix bisa sebaik itu dengan mantan kekasihnya. Padahal jelas-jelas Felix dikhianati.
Nadia mengajak masuk ke dalam rumah dan mengajaknya mengobrol di ruang keluarga. Nadia mengatakan jika suaminya sedang ke luar kota jadi mereka tidak akan bertemu dengannya. Mereka mengobrol tentang perkembangan anak Nadia yang sudah membuatnya kepayahan karena sudah lari ke sana ke mari.
Karena jam makan siang tiba, Nadia mengajak Chika untuk menyiapkan makan, sekaligus ingin mengobrol dengan calon istri dari Felix-mantannya itu.
"Sudah berapa lama kenal Felix?"
"Satu setengah tahun." Mengenal Felix adalah sejak Shea menikah dengan Bryan, walaupun tidak ada kedekatan waktu itu.
Nadia mengangguk. "Aku senang Felix bisa mendapatkan wanita baik seperti dirimu," ucap Nadia tersenyum.
"Jangan terlalu menilai dulu. Aku tak sebaik itu." Chika mengingat bagaimana dirinya berencana menggagalkan rencana pernikahannya.
"Kalau kamu tidak baik, tidak mungkin kamu mau kemari." Tangan Nadia masih sibuk memindahkan masakan di dalam piring saji. "Kamu pasti sudah dengar cerita aku yang menyakiti Felix 'kan?" tanyanya dan mendapat anggukan dari Chika.
"Felix pria baik, terlepas dari apa yang dilakukannya." Nadia tersenyum pada Chika. "Kamu tahu bukan bagaimana anak muda sekarang berpacaran? Hal seperti itu sudah jadi biasa." Nadia menghela napasnya. "Aku harap anakku tidak akan melakukan hal seperti apa yang aku lakukan."
Chika tersenyum. Seburuk-buruk apa orang tua, pastinya tidak mau anaknya menuruni hal buruk yang dilakukannya.
"Ada kalanya orang berubah dan aku yakin Felix akan berubah lebih baik." Nadia menepuk bahu Chika. Memberikan keyakinan dengan apa yang dilakukan Felix. Sebagai orang yang mengenal Felix cukup lama. Memilih wanita dan ingin menjadikannya istri, pastinya Felix sudah tidak ingin bermain-main lagi.
Chika terdiam. Sejauh ini, hanya satu keburukan Felix dan itupun dia ingin rubah. Menilai orang hanya karena satu keburukan dan melupakan kebaikan yang lain, apa itu adil? tanyanya pada dirinya sendiri.
.
.
__ADS_1
.